<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354</id><updated>2012-02-16T03:41:04.380-08:00</updated><title type='text'>....."ZuHrah".....</title><subtitle type='html'>Menyelami Langit Makna!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>43</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-1517261860782388063</id><published>2011-06-14T05:29:00.000-07:00</published><updated>2011-06-14T05:36:26.892-07:00</updated><title type='text'>"aMazing Boy"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak laki-laki itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa namanya, tinggal dimana, yang pasti bagiku dia hm, “little amazing”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo liat perawakannya, kira-kira usianya 14 atau 15 tahun, agak gemuk, dengan mata yang kurang simetris. Intinya, tidak banyak yang menarik dari penampilannya. Biasanya jika kasusnya sudah begini, sekali pandang, orang-orang akan memalingkan muka…tak peduli.&lt;br /&gt;Tapi tidak dengan anak laki-laki ini…, hm…sudah kubilangkan dia “little amazing”…?, hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah..dia selalu mencuri perhatian, bahkan dari orang-orang yang tidak mengenalnya atau dikenalnya. Sebagai contohnya..ya aku . Hm, bagaimana bisa ?? nah ini dia hebatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal di sebuah petak kamar kos didaerah yang padat, bahkan bisa dibilang sangat padat. Kebanyakan penduduk daerahnya adalah mahasiswa dan keluarga-keluarga kecil. Yah wajarlah, karena daerah ini memang terbilang cukup dekat dari beberapa kampus besar di Makassar. Intinya daerah ini adalah “zona mahasiswa” alias daerah kos besar-besaran, hehe. Jarang ada “rumah utuh” tanpa satu atau dua kamar, atau bahkan sepuluh kamar disewakan sekaligus untuk tempat tinggal “sementara” mahasiswa. Dan akibatnya, hampir semua “rumah” juga memiliki kios alias tempat jualan, entah itu jualan makanan, lauk pauk, lauknya saja, pauknya saja (hehe, memang beda?), sampai jualan sayuran dan ikan. Antara penjual yang satu sama yang lain paling-paling jaranknya hanya satu rumah, malah ada yang ga berjarak sama sekali alias semua rumah yang sederetan dengannya jualan semua.hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Meski tinggal didaerah yang padat, penduduknya ga selalu saling peduli satu sama lain. Mungkin karena kebanyakan mahasiswa jadi semuanya cukup sibuk dengan kuliah dan urusan masing-masing. Waktu tinggal di rumah biasanya hanya untuk istrahat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, balik lagi ya kecerita utama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat si anak laki-laki ini jadi sedikit mengagumkan. Nah, kebetulan tidak terlalu jauh dari kos-anku ada sebuah masjid, tapi lagi-lagi masjid itu kelihatnanya hanya rame pas ramadhan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah…nah si anak laki-laki ini, selalu menjadi orang paling “awal” kemesjid. Tapi tidak hanya itu, sepanjang jalan menuju mesjid, dia selalu menyempatkan diri mengajak setiap orang yang dilihatnya ke mesjid, ga peduli usia orang yang diajaknya. Mulai dari anak kecil, sebayanya, anak-anak mahasiswa, bapak-bapak, bahkan orang tua yang jauh banget beda usianya. “shalat yo’ kak…!!”, atau “ kak, kemesjid yo’!”, begitu katanya. Ajakan dengan kalimat-kalimat sederhana, santai, tapi sarat pesan. Dan yang paling bikinku angkat jempol karena dia istimrar dengan itu, alias ga hanya sekali dua kali saja dilakuinnya, tapi tiap jam shalat…khususnya magrib. Terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jangan pikir…semua orang punya pandangan positif sama sikap si anak. Ga kehitung yang mikir anak ini sok alim-lah, sok dewasa, sok ngajarin atau pikiran negative lainnya. Tidak jarang juga, ketika ngajak malah dibalas ledekan dan ketawa massal dari orang-orang. Tapi seperti kata pepatah, “anjing bergongong, kafilah berlalu”, anak ini tetap pada kebiasaannya…ngajakin orang shalat. Tiap hari..tiap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mm..Mungkin setelah dengar cerita ini, bagi anda “si anak laki-laki” itu masihlah biasa saja…tak ada yang istimewa. Tapi pernahkah anda pikir, bahwa jika anda…apakah mau ngajakin orang-orang yang tidak anda kenal untuk shalat?, Menyapa mereka yang masih asyik nongkrong saat azan magrib, sedang anda terpaut usia yang jauh?, maukah anda melakukannya tiap hari..tiap waktu shalat, tanpa capek atau malu karena sering diejek sok alim?, hm…saya yakin anda masih berfikir untuk menjawabnya. Klopun ada yang menjawab “saya bisa seperti itu”...mungkin hanya terhitung jari yang bisa mempraktekkannya. Selalu hanya suara lantang, tanpa perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anak laki-laki itu tak pernah merasa istimewa, mengagumkan.&lt;br /&gt; Juga mungkin orang yang senantiasa diajak sang anak untuk “shalat”, tak banyak yang merasa tersentuh atau sadar…&lt;br /&gt;mungkin ajakannya tidak membuat semua orang berubah..sebagian wajah dunia, sedikitnya daerahku berubah.&lt;br /&gt; Tapi, saya yakin ada satu, dua, tiga orang yang terenyuh karena ajakannya…dan itu sudah lebih dari cukup untuknya, karena tanpa dia tau, Tuhan menyiapkan buku tabungan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita…apakah kita tidak malu??, hanya bisa berkoar-koar…hanya bisa berceramah di atas mimbar, jauh lebih tua, lebih bisa berfikir untuk melakukan hal serupa dengannya. Jika tidak sama…tak apa, cukup mengajak diri sendiri untuk trus “menghidupkan shalat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-1517261860782388063?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/1517261860782388063/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2011/06/amazing-boy.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/1517261860782388063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/1517261860782388063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2011/06/amazing-boy.html' title='&quot;aMazing Boy&quot;'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-968971718652278617</id><published>2011-06-14T04:57:00.000-07:00</published><updated>2011-06-14T05:04:16.118-07:00</updated><title type='text'>Menatap Punggung Muhammad</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ethrzqrcs7Q/TfdNVdBpI4I/AAAAAAAAABk/mEIOefNV0Mg/s1600/j.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 178px; height: 283px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ethrzqrcs7Q/TfdNVdBpI4I/AAAAAAAAABk/mEIOefNV0Mg/s320/j.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5618044091132093314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Well…Judul di atas sebenarnya bukanlah topic pembahasan dalam postingan kali ini. Melainkan salah satu judul buku favoritku. Hm, seperti yang sudah kusinggung dalam tulisan tentang “ihsan” dalam postingan yang lalu, buku ini termasuk dari sekian karya k“fahd-Djibran”, seorang penulis muda yang usianya cuma beda setahun denganku. Meski begitu, bagiku k’fahd adalah sosok yang kritis dan penuh perenungan, ini semua tercermin dalam karya-karyanya yang “tak biasa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita hingga bisa memperoleh buku ini “istimewa” untukku. Coz’ tidak seperti buku-buku lain yang biasanya dapat langsung kubeli lewat toko-toko buku didaerahku. Aku malah menemukannya setelah setahun mengidamkannya. Itupun langsung keJakarta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya sih karena aku sudah punya beberapa buku-buku k’fahd yang lain, &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;a cat in my eyes&lt;/span&gt; (yang aku beli tidak sengaja), kemudian &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;curhat setan&lt;/span&gt; (yang mulai dengan sengaja ku beli, :) ) ada juga bukunya yang berjudul &lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Rahim &lt;/span&gt;(yang ini murni karena sudah nge-fans sama tulisan-tulisan k’fahd).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Lihat dari blognya k’fahd, Tinggal buku ini yang belum aku punya. Tapi, meski sudah ngubek-ngubek gramedia dan toko buku se-Makassar, tidak juga kutemukan buku ini. padahal  dari judulnya saja…aku sudah begitu “penasaran” dan begitu “ingin tau”, apa lagi yang diungkapkan k’fahd dalam buku ini. Secara, aku anak hadis…yang notabene bergelut dengan segala hal yang disandarkan pada Nabi kita tercinta itu, Muhammad saw.. Aku yang sering ngaku-ngaku “jatuh cinta” pada sang Nabi (meski, setelah baca buku ini, jadi kembali bertanya pada diri sendiri..apa benar aku “mencintai”???, apa benar aku telah “cinta”??). dan aku yang sering bergetar, menangis tersedu-sedu membaca kisah-kisah kehidupan beliau... dengan semua alasan itu..aku menjadi “sangat ingin tau” apa isi buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan memesan pada seorang teman di Jogja, tak juga membuahkan hasil. Selama itu, tiap kali datang keGramed, aku tak pernah lupa mengecek buku-buku yang ada…”siapa tau kali ini ada” pikirku. Namun itupun tak berbuah. Hingga kesempatan itu datang, aku diajak bapak maen keJakarta, sampai Jakarta, tujuanku jelas ke Gramed…nyari buku itu sekalian dengan beberapa buku yang memang sudah kuniatkan membelinya. Waktu itu ke Gramed Matraman…,ngubek-ngubek ga dapat juga, nyari di Komputer, hasilnya ada 36 jumlah buku Menatap Punggung Muhammad yang terdaftar. Tapi setelah nyari-nyari ketempat yang ditunjukkan, malah ga dapat. Nanya ke pegawainya juga sama….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh…aku masih ingat, waktu itu perasaanku  seperti telah berada di tujuan…ujung penantianku…buku itu seperti sudah didekatku, tapi gemesnya….aku tak kunjung dapatinya. Iihh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah 2 jam, kuputuskan pulang setelah meminta no. telpon Gramed tersebut, bagaimanapun dari data yang ada dikomputer…buku itu malah dinyatakan ada…36 buku…hanya keberadaanya ga tau dimana…dan pegawainya sudah janji nyariin. Itu artinya masih ada harapan beberapa hari sebelum kembali ke Makassar…selalu ada harapan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari diJakarta, aku juga ga tinggal diam. Keliling ketoko-toko buku yang lain, hasilnya juga sama. Buku dengan judul itu ga ada. Akhirnya sehari sebelum pulang, aku kembali ke Gramedia Matraman dan menagih janji sang pegawai…. Senang tak terkira, saat akhirnya bisa menemukan buku itu…palagi dengan pengantar Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, yang juga aku senangi tulisan-tulisannya. Waaaaaaaaah…makasih Tuhan, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kebahagian memperoleh buku itu sangat kecil dibanding ketika membacanya. Tidak henti-henti airmata ini  mengalir, saat membacanya. Meski, sebagian kisah ini yang termuat sudah sering diungkapkan..tapi membacanya dengan bahasa “buku ini”…membuat sentuhan lain. Lebih terasa…lebih mengena…(klo nda percaya, beli saja sendiri  )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah..”MeNatap Punggung Muhammad”, isi buku yang aslinya surat ini memang keren, asli ga biasa , Pencarian “sang aku” tokoh utama cerita seperti menegur “perasaan cinta-ku” dan mungkin juga beribu pembaca selainku. Yah, seperti yang sudah aku bilang…”pencariannya” membuatku kembali bertanya pada diriku sendiri…”apakah aku benar mencinta?, mencinta yang memiliki kekuatan untuk mendorongku mengetahui lebih banyak sosok “sang Nabi”…mengaplikasikan semua ajarannya..meneladani akhlaknya? Mencinta yang bisa membuatku dicandu rindu padanya…hingga ingin menjadi pengikutnya yang setia…?”…aku bahkan malu...karena “cinta” yang kukoarkan selama ini belum “benar-benar cinta”……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh banyak pelajaran dari buku ini, pelajaran tentang “kekuatan Cinta”, “Sang Nabi”, “Iman” juga “Ihsan”. Dan lewat tulisan ini, aku yakin aku sepakat dengan k’fahd..bahwa inti dari tulisan dan buku ini adalah…mengajak kita lebih mengenal sosok Nabi kita…yang namanya kita hafal luar kepala, tapi mungkin tak mengenalnya sama sekali. Lebih mencintainya…lebih mendekatinya..hingga bisa meneladaninya. Karena sang Nabi adalah uswah…wujud nyata dari ajaran-ajaran Allah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-968971718652278617?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/968971718652278617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2011/06/menatap-punggung-muhammad.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/968971718652278617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/968971718652278617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2011/06/menatap-punggung-muhammad.html' title='Menatap Punggung Muhammad'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ethrzqrcs7Q/TfdNVdBpI4I/AAAAAAAAABk/mEIOefNV0Mg/s72-c/j.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-663788959961070879</id><published>2011-06-14T04:45:00.000-07:00</published><updated>2011-06-14T04:52:14.471-07:00</updated><title type='text'>iHsan -Part 2...,Lebih deKat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbicara tentang ihsan, aku langsung teringat pada sebuah buku karya k’Fahd Djibran, yang menurutku sangat baik dalam menuturkan makna ihsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku tersebut, si “aku” mengajukan pertanyaan kepada pamannya yang seorang muslim, &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;“Mengapa ihsan (kebaikan) bisa lebih utama daripada iman?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang paman yang bijak pun menjawab:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;“kita semua tahu bahwa iman bukan hanya soal pengakuan dan persaksian, iman harus bisa dibuktikan melalui perbuatan. Muhammad pernah bersabda, jenis keimanan bisa bermacam-macam, dan salah satunya adalah menyingirkan duri dari jalanan. Kita pasti bertanya-tanya, apa hubungannya keimanan dengan menyingkirkan duri dari jalanan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Kita tahu duri adalah benda yang, meskipun kecil, sangat mungkin mengganggu pengguna jalan. Tentu saja ini hanya metafora, di zaman ketika Muhammad hidup, karena perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki atau menunggang unta atau kuda, amsal yang paling tepat untuk menunjukkan material yang dapat mengganggu keselamatan para pejalan adalah duri. Kini, duri bisa saja menjadi benda lain, misalnya paku atau batu. Namun, yang terpenting adalah bahwa hadits ini memiliki spirit dasar ajaran Islam dalam memperbaiki setiap “penyakit” yang dapat merusak “kehidupan bersama”. Ya, “kehidupan bersama, sebab para pengguna jalan bukan hanya mereka yang beragama Islam—mereka bisa jadi oranglain yang beragama berbeda dan memiliki ideology politik yang berbeda-beda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ini bisa menjadi awal mengapa kebaikan bisa lebih utama dari iman. Sebab kebaikan adalah pembuktian keimanan yang sanggup melampui keimanan itu sendiri. Melampaui batas-batas-batas agama. Saat kita menjadi orang beriman, kita memiliki identitas tersendiri—kita tahu bahwa ada seseorang yang lain dengan keimanan yang berbeda. Tapi saat kita berbuat baik, kita tak perlu melihat identitas—keimanan oranglain—sebab kebaikan sesuangguhnya melampaui iman. Itulah sebabnya mengapa menyingkirkan duri dari jalanan merupakan pembuktian keimanan yang dianjurkan oleh Muhammad.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Saat kamu membantu seorang tua menyebrang jalan, meskipun sang tua hendak pergi melakukan peribadatan agamanya yang berbeda denganmu,tindakanmu tetaplah sebuah kebaikan. Maka, Muhammad memberikan metafora yang sangat baik untuk memotret keindahan iman yang diaplikasikan menjadi kebaikan: menyingkirkan duri dari jalanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Metafora duri ini, bagi paman, mengajarkan kita dua keinsyafan. Keinsyafan yang pertama mengajarkan pada kita bahwa “masalah” yang kita jumpai diruang public adalah masalah bersama. Suatu masalah, seperti setitik nila, ia mungkinjatuh pada sudut tertentu di belanga susu; namun nila itu akan membuat seluruh susu menjadi tercemar. Maka, bilamerujuk pada hadis-duri, keimanan yang baik seharusnya tercermin melalui kebaikan yang melampaui identitas “aku”,”kamu”,”kami”, dan “mereka”. Perbuatan baik, sebagai wujud dari keimanan, harus bisa melampaui identitas apapun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Keinsyafan yang kedua adalah bahwa tindakan iman dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menyingkirkan dari duri jalanan adalah hal seerhana, namun Muhammad menegaskan bahwa dalam kesederhanaan itu (bila memberikan keselamatan bagi manusia lain), terletak bukti keimanan. Berperang melawan musuh agama barangkali memang merupakan bukti dari keimanan. Namun, mereka yang mengatakan bahwa jihad perang merupakan iman tertinggi, barangkali lupa bahwa berperang sebagai bukti keimanan sebenarnya adalah berperang melawan musuh yang menciptakan kekacauan dan keburukan bagi kehidupan bersama. Itulah musuh agama yang sebenarnya. Bukan justru perang yang menimbulkan keresahan dan kekacauan pada kehidupan bersama itu. maka, belajarlah dari yang sederhana, belajarlah dari perbuatan kecil, menyingkirkan duri dari jalanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mengapa kebaikan lebih utama daripada keimanan? Sebab iman hanya berdampak bagi dirimu sendiri, sementara kebaikan berdampak bagi seluruh semesta. Agama yang baik, sebagaimana juga iman yang baik, kata Muhammad, adalah agama yang menjadi rahmat bagi semesta…rahmatan lil ‘alamin.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah bukan???.......&lt;br /&gt;Meski pada dasarnya disisi lain, kita memang tidak bisa melebihkan antara iman dan ihsan…keduanya, memang saling terpaut..berhubungan dan berkaitan. Benar, ihsan adalah pembuktian keimanan. Tapi kita mesti ingat, bahwa iman-lah yang menjadi basic juga motivasi adanya ihsan. Iman….bahwa segala hal yang baik tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan pula. “hal jaza’ul ihsani illal ihsan…”. Iman…bahwa segala yang kita perbuat, kecil atau besar, baik atau buruk, akan punya balasan. Dan bukankah segala Agama samawi memiliki ajaran dasar berbuat baik….tak peduli apapun agamanya?!....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naah….akhirnya…semoga kita selalu termotivasi untuk melakukan kebaikan. kebaikan yang melampaui batas dan sekat apapun yang ada. Karena sungguh, kebaikan tak mengenal itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah berbuat baik!!!!!:):):)…salam kebaikan…hehe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-663788959961070879?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/663788959961070879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2011/06/ihsan-part-2lebih-dekat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/663788959961070879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/663788959961070879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2011/06/ihsan-part-2lebih-dekat.html' title='iHsan -Part 2...,Lebih deKat'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-4482287269396074152</id><published>2011-06-12T01:53:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T02:13:47.034-07:00</updated><title type='text'>saTu Kata beRnama "iHsaN"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-19-6jlEBjkI/TfSDJykscTI/AAAAAAAAABc/Yysk2AzgxjI/s1600/10632_134045094316_120337084316_2568253_59699_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 238px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-19-6jlEBjkI/TfSDJykscTI/AAAAAAAAABc/Yysk2AzgxjI/s320/10632_134045094316_120337084316_2568253_59699_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617258839455592754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;iHsan…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;aku tercengang dengan sebuah kata ini….”ihsan”, kau tau apa arti kata itu?, bagiku tak ada penjelasan yang bisa mengungkapkan sebaik-baiknya makna yang ada dalam kata itu…yah, mungkin beberapa perumpamaan dan kiasan akan membuatmu sedikit lebih punya gambaran, akan tetapi lagi-lagi tidak benar-benar mengungkapkannya secara utuh….karena keindahan “ihsan” tak akan terasa hingga kau benar-benar melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ihsan” seperti partikel-partikel positif yang memenuhi semua udara jika dibayangkan, dan akan membuat kebahagiaan yang berbeda-beda tergantung pelakunya jika telah dilakukan…seakan-akan mendapatkan sesuatu yang paling kau sukai……&lt;br /&gt;jika bagimu ketenangan adalah kebahagiaan yang paling kau tunggu, maka “ihsan” menghasilkan itu. atau jika kau menganggap “membuat oranglain bahagia” adalah bahagiamu, maka dengan “ihsan” pun kau pasti akan merasakannya. Begitu juga jika kau mungkin hanya mengharap “pahala” atau “balasan” atas apa yang mungkin kau lakukan, “ihsan” akan membuatnya dobel untukmu…., balasan di dunia…dan investasi di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihsan adalah kebajikan….berbuat baik. Tapi ihsan bukanlah sekedar kebaikan biasa. Dia adalah puncak kebaikan. ihsan tidak hanya jika kau berbuat baik pada oranglain yang juga bersikap baik padamu. Karena, jika begitu..belum bisa dikatakan “berbuat baik”, melainkan baru “balas jasa”…yah…kau bersikap baik karena oranglain juga bersikap baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihsan tidak sekedar itu… dia bukan sekedar kebaikan biasa. Dikatakan ihsan, jika kau sanggup berbuat baik bahkan pada orang-orang yang menyakitimu dan memperlakukanmu dengan buruk. Intinya…”memperlakukan oranglain lebih baik dari perlakukannya kepadamu”. Oleh karena itu, makna ihsan..lebih tinggi daripada adil…karena adil berarti “memperlakukan oranglain sama dengan perlakuannya padamu”… sedang ihsan…menyiratkan arti “lebih” bahkan “yang terbaik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak perumpamaan dan pendekatan untuk menggambarkan ihsan. Diantaranya, ihsan dimaknai dengan “berbuat atau melakukan sesuatu seakan-akan kita melihat Allah, atau dilihat Allah. Sehingga kita senantiasa terdorong untuk melakukan yang terbaik, dan bersungguh-sungguh dengan apa yang kita lakukan.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ihsan juga dimaknai dengan “melakukan kebaikan pada orang lain lebih dari melakukan hal baik untuk diri kita sendiri”. Melihat kebutuhan diri kita pada oranglain, sehingga pada akhirnya akan mendorong kita untuk terus memberikan dan melakukan yang terbaik untuk orang lain..sebuah “kebaikan” yang indah..&lt;br /&gt;Tak terbayangkan jika semua orang memiliki  mental “ihsan”, tiap-tiap orang seakan berlomba memperlakukan oranglain dengan baik, saling berupaya untuk memberikan yang terbaik. Al-hasil…tidak akan membutuhkan waktu lama untuk membangun masyarakat yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-4482287269396074152?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/4482287269396074152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2011/06/satu-kata-bernama-ihsan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4482287269396074152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4482287269396074152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2011/06/satu-kata-bernama-ihsan.html' title='saTu Kata beRnama &quot;iHsaN&quot;'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-19-6jlEBjkI/TfSDJykscTI/AAAAAAAAABc/Yysk2AzgxjI/s72-c/10632_134045094316_120337084316_2568253_59699_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-4950565538869840663</id><published>2010-09-05T06:43:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T06:46:51.082-07:00</updated><title type='text'>Memoria....</title><content type='html'>Aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagu yang kunyanyikan dengan rambut kelimis disisirkan ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan baju seragam yang agak bau dihari Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib disekolah dasar dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagu yang kunyanyikan dengan lidah cadel dan kepala agak miring ke kanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagu yang kuhafal secara lengkap nyaris tanpa kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib disekolah dasar dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagu yang kunyanyikan setiap saat dengan kaki-kaki kecil penuh semangat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menghentak lantai meski kadang sumbang,kadang salah ketukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib disekolah dasar dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagu yang kuiringi dengan pukulan-pukulan kecil dibangku sekolah yang tua dan rapuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil menunggu giliran dipanggil guru dengan dada berdebar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti dada pencuri tertangkap radar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib disekolah dasar dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagu yang tak meminta kemampuan apa-apa, sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagu yang hanya meminta dirinya dinyanyikan, itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(memoria....fahd Djibran)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-4950565538869840663?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/4950565538869840663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/09/memoria.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4950565538869840663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4950565538869840663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/09/memoria.html' title='Memoria....'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-7225254954422887979</id><published>2010-05-21T19:46:00.001-07:00</published><updated>2010-05-21T19:47:48.131-07:00</updated><title type='text'>Metodologi Tafsir dan Macamnya</title><content type='html'>A. Metodologi Tafsir dan Macamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah metodologi tafsir terdiri atas dua terms, yaitu metodologi dan tafsir. Kata “metode” berasal dari bahasa Yunani yaitu methodohos yang berarti cara atau jalan. Dalam bahasa inggris disebut method, sedang bangsa Arab menerjemahkannya dengan thariqat dan manhaj. sedangkan kata logos berarti ilmu pengetahuan. Sehingga pembentukan dari kata-kata tersebut berarti ilmu tentang tata cara yang dipakai untuk mencapai tujuan (ilmu pengetahuan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Term tafsi&gt;r,mempunyai dua pengertian, pertama, tafsir adalah pengetahuan atau ilmu yang berkenaan dengan kandungan al-Qur’an dan ilmu-ilmu yang dipergunakan untuk memperolehnya. Dan yang kedua, tafsir diartikan sebagai cara kerja ilmiah untuk mengeluarkan pengertian-pengertian, hokum-hukum, dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam Al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka isitilah metodologi tafsir berarti kerangka,kaidah, atau cara yang dipakai dalam menafsirkan Al-Qur’an baik itu ditinjau dari aspek sistematika penyusunannya, aspek sumber-sumper penafsiran yang dipakai maupun aspek sistem pemaparan atau keluasan tafsirannya guna mencapai pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksudkan Allah dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metodologi tafsir berbeda-beda dilihat dari aspek yang mendasarinya. Jika ditinjau dari aspek sistematika penyusunannya, metodologi tafsir terbagi menjadi dua, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sistematika tarti&gt;b mushafiy, yaitu sistematika penyusunan tafsir Al-Qur’an sesuai dengan tertib susunan surat dan ayat dalam mushaf.&lt;br /&gt;2. Sistematika tarti&gt;b nuzuliy, yaitu sistematika penyusunan yang disesuaikan dengan kronologis turunnya surat-surat Al-Qur’an. Dan yang ketiga, sistematika maudhuiy, yaitu sistematika penyusunan penyusunan Al-Qur’an dengan berdasarkan tema/topic permasalahan yang akan dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari aspek sumber-sumber yang digunakan dalam penafsiran, metodologi Al-Qur’an dibedakan menjadi tiga, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Tafsi&gt;r bil ma’tsu&gt;r (riwayat), &lt;br /&gt;2. Tafsi&gt;r bil ra’yi&gt; (nalar) dan &lt;br /&gt;3. Tafsir bil isya&gt;ri (isyarat-isyarat supra natural).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, metodologi Al-Qur’an jika ditinjau dari aspek system pemaparan dan keluasan tafsirannya dikenal ada empat macam metode yang digunakan oleh para mufassir. Yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Metode Ijma&gt;li (global), &lt;br /&gt;2. Metode Tahli&gt;li (analitis), &lt;br /&gt;3. Metode Muqa&gt;ran (perbandingan) dan &lt;br /&gt;4.  Metode Maudhu&gt;’i (tematik).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-7225254954422887979?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/7225254954422887979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/metodologi-tafsir-dan-macamnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7225254954422887979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7225254954422887979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/metodologi-tafsir-dan-macamnya.html' title='Metodologi Tafsir dan Macamnya'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-6176555933584259109</id><published>2010-05-21T19:42:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T19:45:37.532-07:00</updated><title type='text'>Metodologi Tafsir 1</title><content type='html'>Al-Qur’an merupakan salah satu kitab suci yang telah memberikan pengaruh begitu luas dan mendalam dalam jiwa dan tindakan manusia. Bagi kaum muslimin Al-Qur’an bukan saja sebagai kitab suci (scripture) melainkan juga petunjuk (hudan) yang menjadi pedoman sikap dan tindakan mereka dalam menjalani setiap sisi kehidupannya (QS. Al-Baqarah : 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat katalog sebuah produk barang, Al-Qur’an adalah guide bagi khalifatullah di muka bumi ini agar dapat berfungsi dengan baik. Dan hal tersebut tergantung pada sejauh mana pemahaman manusia terhadap petunjuk Al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat fungsi tersebut, maka mempelajari tafsir Al-Qur’an sebagai upaya untuk memahaminya menjadi sesuatu yang urgen  dalam rangka menempatkan ibadah manusia pada jalur yang benar sesuai dengan kehendak Allah swt. serta dapat menyentuh petunjuk Allah yang lain menyangkut akidah, syariat dan akhlak dengan harapan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian, aktifitas menafsirkan Al-Qur’an relatif tidak mudah, mengingat kompleksitas persoalan yang dikandungnya dan keluasan makna ayat-ayatnya yang tidak semua dapat dijangkau oleh pemahaman manusia, dengan kata lain redaksi ayat-ayat Al-Qur’an, sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti kecuali oleh pemilik redaksi tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada dasarnya, kegiatan menafsirkan Al-Qur’an telah mulai dan berkembang sejak masa-masa awal petumbuhan Islam, hanya saja masih dalam bentuk yang sederhana, dimana pada masa itu Nabi Muhammad saw. mengambil peran sebagai mubayyin (penjelas) terhadap apa yang dikandung dalam Al-Qur’an dan segala persoalan umat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penafsiran Rasulullah itu ada kalanya berupa sunnah qauliyah (perkataan), sunnah fi’liyah (perbuatan) ataupun sunnah taqririyah (ketetapan).  Disamping itu, jika ada yang sesuatu dari Al-Qur’an yang tidak dapat dipahami oleh para sahabat, maka mereka dapat langsung menanyakannya kepada Nabi saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Nabi Muhammad saw., para sahabat menggunakan beberapa pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an, diantaranya dengan melakukan penafsiran dengan ayat Al-Qur’an itu sendiri ataupun dengan riwayat-riwayat shahih yang bersumber dari Nabi saw. . Penafsiran inilah yang kemudian kita kenal dengan tafsi&gt;r bil ma’tsur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran yang lain yaitu apa yang kita sebut sebagai tafsi&gt;r bil ra’yi&gt;, yaitu metode penafsiran yang menekankan sumbernya pada akal dan ijtihad. Pada masa selanjutnya, kebutuhan kepada penafsiran Al-Qur’an semakin besar, untuk itu para mufassir terus menerus mengembangkan metodologi penafsiran Al-Qur’an sehingga kita bisa melihat berbagai macam model penafsiran dalam berbagai kitab tafsir. Mulai dari tafsir tradisional sampai dengan tafsir modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak terlepas dari perkembangan zaman dan semakin kompleksnya masalah-masalah yang timbul dimasyarakat yang menuntut reinterpretesi Al-Qur’an hingga bisa menjadi solusi dalam berbagai persoalan kehidupan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, meskipun studi tentang metodologi tafsir masih terbilang baru dalam khazanah intelektual Islam dan baru berkembang jauh setelah pertumbuhan tafsir , pengembangan metode penafsiran Al-Qur’an sendiri akan terus dilakukan sehingga fungsi Al-Qur’an terus dapat teralisasi, yaitu menjadi petunjuk dan pedoman sentral bagi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan beberapa metode penafsiran Al-Qur’an yang telah dikembangkan para mufassir yang bertujuan sebagai alat untuk bisa  memahami pesan Al-Qur’an dengan tepat dan benar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-6176555933584259109?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/6176555933584259109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/metodologi-tafsir-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/6176555933584259109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/6176555933584259109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/metodologi-tafsir-1.html' title='Metodologi Tafsir 1'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-8184514467389381927</id><published>2010-05-21T07:06:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T07:09:45.958-07:00</updated><title type='text'>Filosofis Muslim : Al-Kindi dan Farabi 5</title><content type='html'>3. Filsafat Al-Farabi tentang filsafat jiwa (An-nafs)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan al-Kindi, al-Farabi mendefenisikan jiwa sebagaimana defenisi Aristoteles, yaitu “Kesempurnaan awal bagi fisik yang bersifat alamiah, mekanistik, dan memilki kehidupan yang energik.” Disamping itu, al-Farabi juga memberikan defenisi yang diambilnya dari Platonisme bahwa jiwa manusia adalah substansi ruhani yang berdiri sendiri dan merupakan substansi manusia yang sesungguhnya. Manusia terdiri dari dua unsure, yaitu, pertama, substansi ruhani dari alam ilahi, kedua, badan ysng berasal dari alam penciptaan atau alam materi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Farabi dalam hal ini berusaha memadukan antara pendapat Aristoteles dan Plato bahwa jiwa adalah substansi dan bentuk (form). Jiwa dalam kemandiriannya adalah substansi, dan merupakan form dalam sisi hubungannya dengan badan.&lt;br /&gt;Jiwa menurut al-Farabi terdiri dari tiga macam yang masing-masing memiliki daya berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Jiwa Tumbuh-tumbuhan, jiwa ini memilki tiga daya, yaitu :&lt;br /&gt;1.) Al-Quwwah al-Ghadziyah (daya nutrisi)&lt;br /&gt;2.) Al-Quwwah al-Murabbiyah (daya pemeliharaan dan daya tumbuh)&lt;br /&gt;3.) Al-Quwwah al-Muwallidah (daya generatif)&lt;br /&gt;b. Jiwa Hewani yang memilki dua daya, yaitu :&lt;br /&gt;1). Al-Quwwah al-Mudrikah (daya memahami) yang terbagi lagi menjadi dua daya, eksternal dan internal.&lt;br /&gt;2). Al-Quwwah al-Muharrikah (daya penggerak) yang terbagi menjadi daya syahwat dan daya emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Jiwa Rasional yang akan menghasilkan daya praktis dan teoritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Filsafatnya tentang kenabian.&lt;br /&gt;Al-Farabi muncul memberikan penerangan yang jelas tentang persoalan kenabian ketika suasana dipenuhi perdebatan tentang permasalahan tersebut. bahkan penjelasan al-Farabi menjadi salah satu bagian terpenting dalam filsafat.  Teori ini bertolak dari dasar-dasar psikologi dan metafisika, serta erat kaitannya dengan permasalahan akhlak dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut al-Farabi manusia bisa berhubungan dengan akal fa’al, meskipun hanya terbatas pada orang-orang tertentu. Hubungan ini bisa melalui dua jalan, yaitu jalan pikiran dan imajinasi (pengkhayalan), dengan kata lain melalui perenungan dan inspirasi (ilham).  Para filisofis mencapai kebenaran dengan jalan yang pertama, sedang para nabi melalui jalan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang mempunyai daya imajinasi yang kuat memungkinkan dia dapat berhubugan dengan Akal Fa’al, baik itu diwaktu sadar maupun diwaktu tidurnya. Dengan kekuatan imajinasi ini, dia dapat menerima pengetahuan dan kebenaran yang tampak dalam bentuk wahyu atau mimpi yang benar. inilah yang dialami oleh para Nabi dan inilah tingkatan imajinasi yang paling tinggi yang dapat dicapai seorang manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperti dikutip oleh Manal Samir ar-Rafi’I, mengenai hal ini al-Farabi memaparkannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;“Jika kekuatan imajinasi seorang manusia telah sampai pada kesempurnaan, maka tidak ada halangan baginya dalam berhubungan dengan Akal Fa’al dalam keadaan terjaga, juga dalam menerima pengetahuan tentang peristiwa sekarang dan akan datang. Dengan adanya penerimaan itu orang tersebut dapat mengetahui perkara-perkara ketuhanan. Ini adalah tingkatan yang paling sempurna yang bisa dicapai oleh kekuatan imajinasi dan dicapai oleh manusia karena kekuatan tersebut.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Teori Al-Farabi tentang politik : al-Madinah al-Fadhilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Farabi adalah seorang filosof yang banyak berbicara mengenai kemasyarakatan, karangan-karangannya yang masyhur dalam bidang ini antara lain as-Siyasah al-Madaniyah (Politik Kenegaraan) dan Ara’ ahl al-Madinah al-Fadhilah (Pikiran-pikiran Penduduk Kota Utama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut al-Farabi, manusia adalah mahluk yang tidak bisa berdiri sendiri. Untuk mempertahankan dirinya dan mencapai kesempurnaan-kesempurnaan tertingginya, setiap manusia secara dharuri membutuhkan banyak hal yang tidak bisa dipenuhinya sendiri. Oleh karena itu, manusia tidak bisa mencapai kesempurnaanya kecuali dengan jalan hidup berasosiasi atau berkelompok, dimana orang-orang bekerja sama untuk saling melengkapi. Sehingga, akhirnya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mempertahankan diri dan mencapai kesempurnaan dapat didistribusikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Madinah al-Fadhilah atau Kota Utama menurut al-Farabi seperti yang dikutip Yamani adalah kota yang melalui perkumpulan (asosiasi) yang ada didalamnya bertujuan untuk bekerja sama dalam mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan itu sebuah kota utama harus dipimpin oleh pemimpin yang benar benar memiliki berbagai ilmu dan setiap jenis pengetahuan, ia mampu memahami dengan baik tugas yang harus dilakukannya. Ia mampu mengarahkan orang-orang untuk melakukan apa yang diperintahkannya. Mampu memanfaatkan orang-orang yang memilki kemampuan, mampu menetukan dan mengarahkan tindakan-tindakan ini kearah kebahagian. Dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memilki kecenderungan yang besar lagi unggul bila telah berhubungan dengan Akal aktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian sebuah kota utama hendaknya dipimpin oleh seorang Nabi atau imam yang merupakan pemberi hukum, yang menetukan tindakan komunitasnya berdasarkan wahyu dari Tuhan. Singkatnya, pemimpin kota utama adalah orang yang selain sempurna fisik, mental dan jiwanya, juga memilki keahlian yang sempurna dan kearifan teoritis dan praktis yaitu keahlian memerintah dan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi pemimpin kota adalah mengelola kota sedemikian rupa sehingga semua bagian kota saling berhubungan dan teratur. Sehingga, membuat penduduknya mampu bekerja sama untuk menyingkirkan berbagai keburukan dan untuk memperoleh kebaikan.&lt;br /&gt;Jika semua komunitas telah menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya dengan dipimpin seorang pemimpin yang handal, dengan demikian maka akan terwujud kota utama yang dikonsepkan oleh al-Farabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Farabi adalah pembangun fisafat dalam arti yang sebenarnya, pemikirannya mencakup segala bidang dan menghasilkan filsafat yang teratur bagian-bagiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr. Ibrahim Madkour seperti dijelaskan oleh Ahmad Hanafi, filsafat al-Farabi adalah filsafat yang bercorak spirituil-idealis, hal ini karena menurut al-Farabi, dimana-mana ada ruh. Mengenai filsafat ketuhanan, al-Farabi mengatakan Tuhan adalah Ruh segala Ruh. Teori akal yang diajukannya adalah ‘Uqul Mufariqah (akal yang terlepas dari benda) merupakan mahluk ruhani murni. Pemimpin Kota Utamanya adalah seorang yang bisa menguasai badannya dan menjadi seorang yang suci dan berhubungan dengan akal aktifnya. Ruh juga yang menggerakkan benda-benda langit dan mengatur alam dibawah bulan dalam konsep emanasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dalam filsafatnya al-Farabi banyak mengambil dari Plato, Aristoteles dan Plotinus, sama halnya dengan al-Kindi, al-Farabi tetap memilki kepribadian sendiri, hingga hasil pikirannya merupakan filsafat Islam yang berdiri sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-8184514467389381927?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/8184514467389381927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/filosofis-muslim-al-kindi-dan-farabi-5.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/8184514467389381927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/8184514467389381927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/filosofis-muslim-al-kindi-dan-farabi-5.html' title='Filosofis Muslim : Al-Kindi dan Farabi 5'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-8136630543182679601</id><published>2010-05-21T07:05:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T07:06:33.528-07:00</updated><title type='text'>Filosofis Muslim : Al-Kindi dan Farabi 4</title><content type='html'>B. AL-FARABI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Riwayat Hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya adalah Abu Nasr, Muhammad, Ibnu Muhammad, Ibnu Tarkhan, Ibnu Uzlag, Al-Farabi. Masyhur dengan sebutan Abu Ali. Dia berasal dari keturunan Turki, dan dilahirkan di kota Farab, Transoxania pada tahun 257 H (870 M).  Ayahnya adalah seorang berkebangsaan Iran bernama Muhammad Ibn Auzlagh yang menjabat sebagai panglima Parsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Farabi menuntut ilmu di Baghdad yang menjadi pusat pemerintahan dan ilmu Pengetahuan ketika itu, gurunya antara lain Abu Bisyr Matta ibn Yunus, salah seorang penerjemah yang membantu Hunain Ibn Ishaq di Bait al-Hikmah, dan Yuhanna bin Jilan seorang filosof di Harran,  di Baghdad dia belajar falsafat, logika, metafisika, ilmu politik, music dan lain-lain. Selain itu, al-Farabi juga memiliki pengetahuan yang luar biasa dalam bidang bahasa. Diantara bahasa yang dikuasainya adalah bahasa Iran, Turkestan dan Kurdistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia pindah ke Damsyik pada tahun 330 H (941 M), oleh khalifah dinasti Hamdan di Aleppo al-Farabi diberikan kedudukan  yang baik, dia menetap dikota ini hingga wafat di usia 80 pada tahun 337 H (950 M). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Farabi adalah seorang filosof tulen yang lebih banyak membahas tentang filsafat Aristoteles, jika Aristoteles digelari dengan sebutan “Guru pertama” (al-Muallim al-Awwal) karena dia merumuskan dan mengumpulkan kajian-kajian pertama dalam ilmu logika dan permasalahannya, maka al-Farabi digelar dengan sebutan “Guru kedua” (al-Mu’allim at-Tsani) karena dialah yang mengarang, mengumpulkan dan menyempurnakan karangan-karangan Aristoteles sehingga lebih jelas dan teratur. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Farabi memilki peranan penting dalam dunia Islam, dia menjadi guru bagi Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan filosof-filosof Islam lainnya yang datang sesudahnya. Disamping itu dia juga  telah dapat menciptakan satu sistem filsafat yang lengkap. Dia lebih baik dari al-Kindi dalam memberi penjelasan, menerjemahkan dan menyusun kembali kitab-kitab filsafat Yunani, bahkan al-Farabi mengisi kelemahan al-Kindi dalam ilmu logika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat al-Farabi merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo-Platonisme dengan pikiran keislaman yang jelas dan corak aliran Syi’ah Imamiah. Dalam soal mantiq dan filsafat misalnya, Farabi mengikuti Aristoteles, dalam soal politik dan etika dia memilih pendapat Plato, sedang dalam persoalan metafisika Farabi cenderung kepada Plotinus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Farabi meninggalkan banyak karangan, akan tetapi karangannya tidak dikenal luas seperti karangan Ibnu Sina. Kebanyakan karangan al-Farabi telah hilang dan yang masih tersisa kurang lebih hanya berjumlah 30 karangan saja yang ditulis dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar karangan al-Farabi berisi ulasan dan penjelasan terhadap filsafat Aristoteles, Plato dan Galenus dalam bidang logika, fisika, etika dan metafisika. Selain itu al-Farabi juga menulis buku-buku mengenai music, matematika, kimia dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara karangan-karangannya yang terkenal adalah “Aghradul ma Ba’da at-Thabi’ah” ( Intisari buku Metafisika),”al-Jam’u baina Ra’yai al-Hakimain” yang menyelaraskan pendapat Plato dan Aristoteles, “Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah” (Pendapat-Pendapat para Warga Kota Utama), dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Pendapat Al-Farabi tentang  teori Emanasi (al-Faydh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Al-Kindi menyatakan bahwa Tuhan adalah sebab pertama dari segala sesuatu, akan tetapi dia tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana alam ini diciptakan. Al-Farabi sendiri dalam menerangkan proses penciptaan alam mempergunakan teori emanasi atau pancaran ilahi (al-faidh al-ilahi).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Teori emanasi diartikan sebagai teori tentang keluarnya sesuatu wujud yang mumkin (alam makhluk) dari zat yang wajibul wujud (Zat yang wajib adanya : Khalik). Teori ini disebut juga dengan “teori urutan wujud”.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Alam semesta yang tercipta sebagai hasil dari proses emanasi ini tersusun dari beberapa tingkatan. Mulai dari Allah yang tertinggi, yang tidak miliki batas apapun, hingga wujud paling rendah dari bagian material alam semesta. Teori ini sebenarnya telah dibahas oleh aliran Neo-Platonisme. Akan tetapi, oleh al-Farabi teori ini lebih diuraikan lagi secara ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut teori ini, wujud Allah sebagai suatu wujud Intelegensi (Akal) mutlak yang berpikir, yaitu berpikir tentang dirinya sebelum adanya wujud-wujud selain-Nya yang secara otomatis memancarkan akal pertama (Al-‘aql Al-awwal) sebagai hasil “proses” berpikir-Nya. Selanjutnya sang Akal-sebagai akal-berfikir tentang Allah dan sebagai hasilnya terpancarlah Akal kedua. Dan begitulah berturut-turut hingga terciptalah Akal ketiga, keempat dan seterusnya hingga akal kesepuluh. Akal kesepuluh ini adalah akal terakhir dan terendah dalam tingkatan wujud di alam immaterial.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam proses emanasi ini , disamping terciptanya akal-akal, proses ini juga menghasilkan terciptanya jiwa dan planet-planet. Selain berpikir tentang Allah sebagai sumber penciptaannya, Akal kedua juga berpikir tentang dirinya sendiri hingga terciptalah jiwa dan langit pertama atau planet terjauh (as-Sama’ al-‘Ula atau al-Falak al-‘Ula). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Akal kedua, tercipta Akal ketiga dan langit kedua atau bintang-bintang tetap (al-Kawakib ats-tsabitah) beserta jiwanya. Dari Akal ketiga timbul Akal keempat dan planet Saturnus (Zuhal) juga beserta jiwanya. Dari Akal keempat keluar Akal kelima dan planet Jupiter (al-Musytara) beserta jiwanya. Dari akal kelima tercipta akal keenam dan planet Mars (Mariiah) beserta jiwanya. Akal keenam menghasilkan akal ketujuh dan matahari (asy-Syams) beserta jiwanya. Akal ketujuh menghasilkan akal kedelapan dan planet Venus (Az-Zuhrah) juga beserta jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal kedelapan menciptakan akal kesembilan dan Planet Merkurius (‘Utarid) beserta jiwanya. Dari akal tersebut keluar akal kesepuluh dan bulan (al-Qamar). Dari akal kesepuluh inilah tercipta manusia dan bumi (al-Ardh) yang merupakan campuran antara yang immaterial (al-‘Aql atau ruh) dengan yang material. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah teori emanasi yang dijelaskan oleh al-Farabi.  Kita bisa melihat bahwa pada Tuhan, yaitu wujud yang pertama, hanya terdapat satu objek pemikiran, yaitu Zat-Nya saja, maka pada akal-akal sepuluh tersebut terdapat dua objek pemikiran, yaitu Tuhan (Zat yang wajibul wujud) dan diri akal akal itu sendiri (mumkinul wujud).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-8136630543182679601?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/8136630543182679601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/filosofis-muslim-al-kindi-dan-farabi-4.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/8136630543182679601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/8136630543182679601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/filosofis-muslim-al-kindi-dan-farabi-4.html' title='Filosofis Muslim : Al-Kindi dan Farabi 4'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-4582610879538485055</id><published>2010-05-21T07:03:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T07:04:41.227-07:00</updated><title type='text'>Filosofis Muslim : Al-Kindi dan Farabi 3</title><content type='html'>3. Filsafat al-Kindi tentang ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ketuhanan, al-Kindi menitikberatkan kepada masalah hakikat tuhan, bukti-bukti keberadaan tuhan dan sifat tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut al-Kindi tuhan adalah wujud yang hak, tuhan adalah qadim, artinya terdahulu, adanya tidak diawali dengan ketiadaan, tuhan juga mustahil tidak ada, Dia selalu ada, wujudnya sempurna, tidak ada yang mendahului keberadaannya dan tidak ada yang mengakhirinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan adanya tuhan, al-Kindi memberikan tiga alasan. Sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tidak ada benda yang ada dengan sendirinya. Tidak mungkin sesuatu menjadi sebab bagi keberadaan dirinya sendiri. Semuanya pasti ada yang menciptakan atau mengadakannya, pencipta itulah Tuhan,&lt;br /&gt;b. Dalam alam tidak mungkin ada keragaman tanpa keseragaman atau sebaliknya. Tergabungnya keragaman dan keseragaman bersama-sama, bukanlah satu kebetulan akan tetapi memilki sebab. Sebab pertama itulah Tuhan.&lt;br /&gt;c. Kerapian dan penataan alam,tak mungkin terjadi tanpa ada yang mengaturnya. Pengatur itulah Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berlandaskan tiga alasan diatas, al-Kindi kemudian membuktikan adanya tuhan melalui tiga cara, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hudutsil alam (barunya alam), keberadaan alam memiliki permulaan juga ada yang mendahuluinya. Sesuatu yang mendahului alam pastinya adalah hal yang tidak ada permulaannya dan tidak ada yang menciptakannya. Karena alam ini terbatas dan ada yang menciptakannya. Maka yang menciptakannya itulah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kastrah fil Maujudat (keanekaragaman), keanekaragaman ini pastilah memilki sebab. Dan sebabnya bukanlah alam yang memilki permulaan dan diciptakan, tetapi sebab itu haruslah yang lebih mulia dari alam, lebih tinggi dan tidak didahuli sebab, dia merupakan penyebab segala sesuatu, maka itulah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Ibda’ fil Alam (keteraturan alam), alam tidak mungkin teratur dengan sendirinya, akan tetapi ada zat yang mengaturnya, zat yang maha mulia dan itulah Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengenai sifat-sifat Allah, al-Kindi sepaham dengan Mu’tazilah bahwa Tuhan adalah Esa, maha Tahu, maha Berkuasa, maha Hidup dan lain sebagainya. Untuk membuktikan keesaan Tuhan al-Kindi menjelaskan bahwa Tuhan bukanlah benda, tidak memilIki bentuk, bukanlah merupakan kuantitas dan kualitas, berdiri sendiri, dan bukan gerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keesaan Tuhan adalah Keesaan yang hakiki, dia tunggal dan azali, tidak ada yang mendahului dan tidak memilki akhir, zat yang tidak bergantung pada yang lain dan dialah sebab pertama dari segala sesuatu (first cause).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Falsafat al-Kindi tentang Jiwa (an-Nafs)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendefenisikan Jiwa, al-Kindi memadukan pendapat Plato dan Plotinus. Menurutnya Jiwa adalah elemen yang memiliki kehormatan dan kesempurnaan, substansinya berasal dari substansi sang pencipta seperti sinar matahari yang berasal dari matahari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jiwa menurut al-Kindi berasal dari cahaya (nur) sang pencipta yang tetap kekal setelah kematian. Jiwa akan pindah kealam kebenaran yang didalamnya terdapat nur sang pencipta. Ditempat tersebut dia sangat dekat dengan sang pencipta sehingga mampu mengetahui segala hal yang nyata dan tidak, yang menjadi rahasia dan bukan rahasia.  Mengenai hal ini, al-Kindi mendasarkan pendapatnya pada ayat al-Qur’an surat Qaf /50 : 22 :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kamu dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Kindi juga mendefenisikan jiwa sebagai kesempurnaan awal fisik yang bersifat alamiah, mekanistik dan mengalami kehidupan.  Pengertian ini diadopsi dari pendapat Aristoteles mengenai jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya al-Kindi lebih condong pada aliran jiwa dari Plato dibanding Aristoteles. Hal ini mungkin disebabkan karena kedekatan aliran Platonisme dengan ajaran Islam yang berpendapat bahwa ruh manusia adalah hembusan dari ruh Allah swt. Dan menganjurkan manusia untuk menahan hawa nafsunya agar dapat menikmati kebahagiaan dunia dan akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut al-Kindi jika manusia suci dari noda, maka disaat yang sama jiwanya menjadi bening, baik dan mampu mnegtahui semua misteri yang tersembunyi. Oleh karena itu dalam pandangan al-Kindi untuk mengetahui segala sesuatu tidak diperoleh melalui alat indera, tetapi dengan penyucian jiwa dari berbagai noda dan syahwat duniawi hingga dapat menerima emanasi pengetahuan dari sang pencipta. &lt;br /&gt;Jiwa versi al-Kindi ini memilki tiga daya, yaitu : daya hissiah (daya indra), daya imajinasi dan daya rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Kindi adalah filosof  Islam yang pertama mendalami persoalan filsafat. Meski diakui bahwa al-Kindi tidak memiliki sistem filsafat yang lengkap, ini tidak membuat jasanya berkurang sebagai orang yang pertama membuka pintu filsafat bagi dunia Arab dan diberinya corak keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengagumkan dari sosok al-Kindi adalah dalam meneliti persoalan-persoalan filsafat, al-Kindi tidak sekedar mengutip pendapat Aristoteles dan Plato atau filosof-filosof Yunani lainnya. Meski dia meneliti persoalan filsafat yang sudah pernah dibicarakan sebelumnya, akan tetapi dia tetap mempertahankan kepribadian dan pendapatnya sendiri. Memilah-milah hal yang sesuai dengan pikiran dan kepercayaan agamanya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sebagai contoh  dalam persoalan jiwa, al-Kindi lebih cenderung pada pendapat Plato dibanding Aristoteles karena pikiran Plato dalam hal ini lebih bersifat idealis dan dekat dengan ajaran Islam. contoh yang lain, Dia menolak pendapat Aristoteles mengenai qadimnya alam karena menurutnya sesuatu yang qadim hanyalah Allah swt. Dialah yang merupakan sebab bagi segala sesuatu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-4582610879538485055?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/4582610879538485055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/filosofis-muslim-al-kindi-dan-farabi-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4582610879538485055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4582610879538485055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/filosofis-muslim-al-kindi-dan-farabi-3.html' title='Filosofis Muslim : Al-Kindi dan Farabi 3'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-6977280401649908218</id><published>2010-05-21T07:01:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T07:03:01.385-07:00</updated><title type='text'>Filosofis Muslim : Al-Kindi dan Farabi 2</title><content type='html'>A. AL-KINDI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Riwayat hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkap al-Kindi yaitu Abu Yusuf, Ya’kub Ibn Ishaq, Ibnu Imran, Ibn Al-Asha’ath, Ibnu Kays al-Kindi. Dia berasal dari keturunan suku Kays, nama al-Kindi sendiri berasal dari nama sebuah suku yaitu Banu Kindah di daerah Selatan Jazirah Arab. Gelarnya Abu Yusuf, karena dia memiliki anak laki-laki bernama Yusuf. Nasabnya sampai kepada Ya’rub bin Qathan, yang merupakan nenek pertama suku Arabia Selatan .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Kindi dilahirkan pada tahun 185 H/801 M di Kufah. Ayahnya Ishaq ash- shabbah, adalah gubernur Kufah pada dua periode berturut turut, yaitu pada periode khalifah al-Mahdi dan Harun al-Rasyid. Oleh karena itu, al-Kindi termasuk keturunan bangsawan pada masa itu. Dia merupakan satu-satunya filosof Islam yang berasal dari keturunan Arab , dan dia jugalah orang pertama yang membuka pintu filsafat bagi dunia Arab dan diberinya corak  keislaman, karena itulah al-kindi digelar sebagai filosof Arab .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Al-Kindi diawali dengan belajar membaca Al-Qur’an, menulis dan berhitung. Disamping itu, dia juga banyak mempelajari kebudayaan yang diperlukan pada masanya seperti agama dan sastra. Al-kindi banyak menerjemahkan buku-buku yunani yang berbahasa Syria kuno kedalam bahasa Arab. Maka dengan cepat dia termasuk salah satu dari empat orang penterjemah yang terkenal dimasa itu. Bahkan Ibnu Usaiba’ memandangnya sebagai penterjemah terbaik dalam ilmu kedokteran dan pengetahuan-pengetahuan Yunani kedalam bahasa Arab .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kecerdasan al-Kindi bukan hanya dalam satu bidang saja, akan tetapi dia menguasai berbagai macam bidang seperti filsafat, kedokteran, geometri, logika. Bahkan dia juga ahli dalam bidang music dan astronomi. Mengenai hal ini, Ibnu Nadim mengungkapkan bahwa Al-Kindi merupakan salah satu diantara pembesar-pembesar dalam ilmu filsafat alam (natural philosophy). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah karanganya sebenarnya sukar ditentukan. karena dua sebab : pertama, karena para penulis biografi berbeda pendapat mengenai jumlah karangannya. Ibnu Nadim mengatakan 283 karangan dan kebanyakannya berbentuk essay (karangan pendek) , sedang Sha’id al-Andalusi menyebutkan ada 50 buah. Sebab kedua yaitu diantara karangan-karangannya yang sampai kepada kita ada yang bercampur dengan karangan lain.  Dalam metafisika dan kosmologi dia mengadopsi banyak pemikiran Aristoteles, dalam psikologi cenderung kepada pendapat plato, sedang dalam hal etika al-kindi banyak mengambil pendapat Socrates dan plato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masanya, al-Kindi memiliki hubungan dengan kaum Mu’tazilah, hal ini terlihat dari hubungan baiknya dengan pihak kekhalifaan. Dia bekerja sebagai tabib dan peramal bagi khalifah pada masa Ma’mun, Mu’tashim dan Watsiq yang mendukung paham Mu’tazilah pada masa itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat kekhalifaan kembali ke mazhab ahlu sunnah dan dipimpin oleh khalifah al-Muatawakkil al-Kindi kehilangan posisisnya. Selanjutnya al-kindi  menjauhkan diri dari orangbanyak dan menghabiskan umurnya  di Bagdhad . Al-Kindi kemudian meningal pada tahun 873 Masehi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pandangan Al-Kindi tentang keterkaitan filsafat dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun, pemikiran Yunani mulai masuk dan berkembang ke dunia Islam lewat karya-karya pemikir Yunani yang diterjemahkan. Pemikiran ini membawa pengaruh dan dampak yang sangat besar bagi bangsa Arab saat itu. Islam, Nasrani dan Yahudi yang berpondasi pada wahyu dan iman sangat bertentangan dengan apa yang menjadi dasar tolak pemikiran Yunani yang menempatkan akal pada tempat tertinggi sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran (hakikat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalangan ulama Islam sangat menentang filsafat Yunani, begitu juga halnya dengan ulama Yahudi dan Nasrani. Kedua kubu mengharuskan keberadaan yang satu tanpa yang lain. Golongan agamawis menentang keharusan agama untuk mengikuti dan berjalan dibawah kaedah-kaedah filsafat, yang berarti meniadakan filsafat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitu juga sebaliknya, kaum filosofis menentang kepatuhan Filsafat terhadap prinsip-prinsip agama, yang berarti meniadakan agama. Pertentangan ini berlanjut terus-menerus hingga al-kindi datang dan menawarkan pendapatnya tentang keterkaitan filsafat dan agama. Bahwa keduanya merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan antara satu dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Al-Kindi mengemukakan beberapa alasan, pertama, al-Kindi berpendapat bahwa falsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang termulia dan tertinggi martabatnya yang tidak bisa ditinggalkan oleh orang-orang yang berfikir, begitu juga dengan agama, ia merupakan ilmu mengenai kebenaran dan pencarian hakikat, oleh karena itu keduanya saling berhubungan dan menduduki fungsi yang sama. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Didalam ilmu falsafat ada pokok-pokok ajaran agama tentang keesaaan (monotheisme) dan etika, dan dalam beragama juga diperlukan ilmu filsafat hingga dapat mendukung ajaran-ajaran agama.Tidak ada yang lebih utama bagi orang yang mencari kebenaran kecuali kebenaran itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kedua, antara wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan kebenaran filsafat tidak  ada pertentangan, karena keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengenal kebenaran, meskipun cara yang ditempuh oleh keduanya berbeda beda. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, usaha filsafat atau usaha dalam mencari kebenaran juga diperlukan dalam agama untuk mendukung agama tersebut. Sebagai contoh, usaha dalam memberikan alasan dan bukti kebenaran agama, maka dalam usaha itu menggunakan ilmu filsafat, oleh karena itu keduanya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-6977280401649908218?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/6977280401649908218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/filosofis-muslim-al-kindi-dan-farabi-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/6977280401649908218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/6977280401649908218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/filosofis-muslim-al-kindi-dan-farabi-2.html' title='Filosofis Muslim : Al-Kindi dan Farabi 2'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-976252762158386146</id><published>2010-05-21T06:59:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T07:00:56.486-07:00</updated><title type='text'>Filosofis Muslim : Al-Kindi dan Farabi</title><content type='html'>A. Latar Belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’anul karim merupakan sumber dasar  pertama ajaran dan syariat Islam yang mengatur segala hal dalam kehidupan manusia, akan tetapi, dalam memaparkan kandungannya Al-Qur’an hanya memberikan kita kaedah kaedah mayor untuk selanjutnya kita sebagai ‘abidullah memiliki tugas untuk menjabarkannya dan menerapkannya hingga sesuai dengan segala perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an terdapat anjuran-anjuran untuk senantiasa menggunakan akal dan mentadabburi ciptaannya. Proses berfikir dan tadabbur inilah yang sebenarnya inti dari filsafat. Karena pada akhirnya, proses ini akan mengantarkan kita pada hakikat kebenaran yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata filsafat sendiri merupakan serapan dari bahasa Arab “الفلسفة”,yang juga diambil dari bahasa Yunani philosophia. Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu philia ( persahabatan, rasa suka, cinta dsb), dan Sophia (kebijaksanaan). Secara harfiah dapat diartikan orang yang mencintai kebijaksanaan. Hal ini identik dengan berfikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain itu filsafat juga dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang hakikat sesuatu baik yang bersifat teoritis (etika, setetika dan metafisika) maupun yang bersifat praktis yakni pengetahuan yang harus diwujudkan dalam amal baik.&lt;br /&gt;Ketika dihubungkan dengan Islam, maka filsafat dapat didefenisikan sebagai suatu ilmu yang dalam membahas hakikat segala sesuatu diwarnai dengan corak keislaman , baik itu dari segi pola pikirnya, masalahnya maupun tujuannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada anggapan bahwa Islam pada dasarnya tidak memilki filsafat yang independen, karena yang terjadi hanyalah pemikiran-pemikiran atau filsafat Yunani yang kemudian dikembangkan oleh Islam. akan tetapi hal ini dapat ditentang dengan beberapa alasan. &lt;br /&gt;Pertama, ketika filsafat Yunani diperkenalkan pada dunia Islam, Islam telah mengembangkan suatu system teologi yang menekankan kepada keesaan Allah (tauhid) dan syariah. Hal ini yang kemudian diperpegangi oleh para filosof muslim sehingga ketika filsafat Yunani masuk kedunia Islam, para filosof muslim selalu memperhatikan kecocokannya dengan pandangan Islam tersebut, dan akhirnya tanpa disadari telah terjadi “pengislaman” filsafat oleh para filosof muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sebagai pemikir Islam, para filosof muslim menjadi pemerhati filsafat yang kritis, ketika ada yang dirasakan kurang, tidak jarang para folosof muslim mengkritiknya secara mendasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, adanya perkembangan filsafat yang unik akibat perpaduan antara Islam sebagai agama dengan filsafat Yunani, sebagai hasilnya para filosof muslim mengembangkan beberapa isu filsafat yang tidak pernah dikembangkan oleh filosof Yunani, sebagai contoh, filsafat kenabian yang dikembangkan oleh al-Farabi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari beberapa alasan diatas, maka kita dapat melihat bahwa Islam memiliki filsafat yang independen, yang mana objek kajiannya mencakup segala hal yang bersifat teoritis dan praktis. Adapun beberapa filosof muslim yang masyhur diantaranya adalah Al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Selanjutnya mengenai filsafat al-Kindi dan al-Farabi akan dipaparkan lebih jauh didalam pembahasan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-976252762158386146?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/976252762158386146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/filosofis-muslim-al-kindi-dan-farabi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/976252762158386146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/976252762158386146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/filosofis-muslim-al-kindi-dan-farabi.html' title='Filosofis Muslim : Al-Kindi dan Farabi'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-9217692261429528671</id><published>2010-05-21T06:40:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:58:03.255-07:00</updated><title type='text'>Ilmu Sekuler Barat dan Tauhidullah 4</title><content type='html'>C. Perbandingan Ilmu Barat Sekuler dan Ilmu Tauhidullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekularisme didefinisikan sebagai: “A system of doctrines and practices that rejects any form of religious faith and worship" (Sebuah sistem doktrin dan praktik yang menolak bentuk apa pun dari keimanan dan upacara ritual keagamaan). Ilmu sekuler diartikan sebagai ilmu yang dalam penerapannya menggunakan prinsip pemisahan kehidupan dunia dari nilai-nilai keagamaan , hingga kehidupan dunia memiliki ruang tersendiri, dan begitu juga dengan nilai keagamaan, yang bertujuan akhir pada prinsip materialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ilmu Tauhidullah yaitu yaitu ilmu yang berpijak pada pengakuan atas realitas keesaan Allah yang tercermin dalam perkataan dan perbuatanNya.&lt;br /&gt; Dari pengertian ilmu Barat sekuler dan ilmu Tauhidullah, serta dari penjelasan yang penulis telah kemukakan di atas, maka kedua ilmu ini mempunyai perbedaan yang jelas. Perbedaan di sini bisa di lihat dari tiga aspek, yaitu dari aspek ontology, epistemologi dan aksiologi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Dari aspek ontology.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Manusia yang bersifat kreatif memiliki kemampuan untuk mengetahui jagat raya beserta segala isinya (QS. Al-Baqarah/2 : 30). Ia berfungsi ganda: sebagai abidullah dan sebagai khalifatullah fil ardhi. Sebagai abidullah ia berlandaskan pada kalam Allah (wahyu), dan sebagai khalifatullah fil ardhi berlandaskan pada fi’l Allah (perbuatan atau ciptaan Allah). Kedua fungsinya dapat dilakukannya apabila ia memiliki kesadaran. Dalam ilmu Barat kesadaran ini selalu bersifat buruk:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;a. Freud mulai dengan bawah sadar, libido seksualitas.&lt;br /&gt;b. Marx mengemukakan tentang kesadaran kelas, sebagai implikasi dari pandangan materialistisnya.&lt;br /&gt;c. James mengemukakan kesadaran sebagai flux of ideas, sesuai dengan filsafat pragmatisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari aspek epistemology. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu sekuler Barat memilki  dasar-dasar yang tidak menentu dan selalu berubah. Sebaliknya Ilmu Tauhidullah memiliki dasar yang jelas dan tetap.  Ilmu barat berdiri diatas rasio (akal), oleh karena itu kemampuannya sangat terbatas dan tidak tetap. Disamping itu ilmu Barat telah diwarnai dengan individualism, materialisme dan berbagai paham lainnya sehingga pemikiran barat menjadi dangkal dan menghasilkan sesuatu yang juga salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan ilmu Tauhidullah, yang memiliki dasar dan acuan yang jelas dan tetap, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Ilmu Tuhidullah berangkat dari kesadaran (Rasionalitas yang terbuka dan lurus) karena dibimbing oleh wahyu yang pasti kebenarannya dan tidak pernah berubah. Dalam ilmu Tauhidullah, maka wahyu membimbing akal dan Naqliah membimbing Aqliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping berangkat dari wahyu, dalam Al-Qur’an  Allah sendiri memerintahkan manusia untuk menggunakan akal dan melakukan observasi. Sebagai contoh : QS. Al-Ghasyiyah/88 : 17-20  dan QS. Ali-Imran/3 : 190-191.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk mempelajari segala ciptaan Allah berlandaskan rasionalitas, namun bukan yang sempit dan serakah melainkan rasionalitas yang luas dan hanif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dari aspek aksiologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi dan kegunaan yang dihasilkan oleh ilmu sekuler Barat dan ilmu Tauhidullah bisa di lihat dari kolom di bawah ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               “DIRI”           “ANTAR DIRI”         “KEDUANYA”&lt;br /&gt;                     (psikologi) (sosiologi)          (Ekonomi)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Barat Sekuler Libido&lt;br /&gt;                     (bawah sadar)    Konflik      Serakah &lt;br /&gt;                                                             (3 - R)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Tauhidullah     Mutmainnah (sadar)    Ukhuwah           Hanif&lt;br /&gt;                       QS.89:29-30        (brotherhood)      (adil makmur)&lt;br /&gt;                                                              QS. 49:10&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tampak bedanya seperti langit dan bumi, bila kita bandingkan dalam hal DIRI, ANTAR DIRI dan KEDUANYA. Pemulanya adalah DIRI, kemudian naik ke ANTAR DIRI, dan akhirnya berpijak pada KEDUANYA. Pada KEDUANYA inilah ilmu Barat sekuler tiba pada 3-R (Resah, Renggut dan Rusak), sedangkan ilmu Tauhidullah akhirnya sampai pada kesejahteraan hidup (hasanah, QS. Al-Baqarah/2 : 210) di dunia maupun di akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ilmu Barat sekuler menghasilkan jiwa yang resah, yang selalu tidak puas, karena kesemuanya itu berangkat dari sesuatu yang tidak memilii dasar yangtetap dan dilandaskan pada pelampiasan hawa-nafsu (linier). Sebaliknya ilmu Tauhidullah menghasilkan jiwa yang tenang, yang puas, karena bersumber dari dasar yang benar dan dalam penerapannya dilandaskan pada pengekangan hawa-nafsu (parabolis).&lt;br /&gt;Lebih jelasnya, jika di bandingkan menurut tiga aspek diatas, maka kita dapat menggambarkannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;         Antology       Epistimology Aksiology&lt;br /&gt;Ilmu Barat&lt;br /&gt; Sekuler      Amarah/ tidak sadar                       Amarah-Konflik- Serakah          BURUK)               formal : NETRAL      (BURUK)&lt;br /&gt;                                         Dasar : &lt;br /&gt;                                         DINAMIS&lt;br /&gt;                                        Empirik :&lt;br /&gt;                                         BURUK        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu &lt;br /&gt;Tauhidullah Mutmainnah/          Formal : NETRAL    Muthmainnah-Ukhuwah-Hanif&lt;br /&gt;             sadar QS.89:29-30       Dasar :                (BAIK)&lt;br /&gt;                 (BAIK)               TETAP&lt;br /&gt;                                     Empirik :&lt;br /&gt;                                      BAIK&lt;br /&gt;                  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perbandingan diatas kita dapat melihat bahwa ilmu Tauhidullah lebih promising dibanding dengan ilmu sekuler yang ditawarkan oleh Barat, bukan hanya karena Ilmu Tauhidullah memiliki dasar yang benar dan tidak pernah berubah, tetapi juga karena pada dasarnya agamalah yang menjamin tetap tegaknya moralitas, memperbaiki perilaku, dan mengantarkan setiap jiwa meraih kebaikan. Komitmen terhadap agama akan membawa umat menghayati nilai luhur kemanusiaan yang tidak ditemuka dalam kehidupan sekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. Berfirman QS.Hud/11 : 15 ;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;QS.An-Nahl/16 : 107 ;&lt;br /&gt;“Yang demikian itu disebabkan mereka lebih mencintai dunia dari akhirat…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;QS.An-Naazi’at/79 : 37-39 ;&lt;br /&gt;“Adapun orang-orangyang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesuangguhnya nerakalah tempat tinggalnya”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-9217692261429528671?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/9217692261429528671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ilmu-sekuler-barat-dan-tauhidullah-4.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/9217692261429528671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/9217692261429528671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ilmu-sekuler-barat-dan-tauhidullah-4.html' title='Ilmu Sekuler Barat dan Tauhidullah 4'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-7760450938719921326</id><published>2010-05-21T06:37:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:39:56.311-07:00</updated><title type='text'>Ilmu Sekuler Barat dan Tauhidullah 3</title><content type='html'>B. Ilmu Tauhidullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Tauhidullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhidullah berasal dari dua kata Tauhid dan Allah. Dari kamus Al-Bisri kata tauhidullah bermakna : mashdaru wahhada – al I’tiqadu bi wahdaniyatillah, yang berarti keyakinan atas keesaan Allah.                                                                                                                                                                    &lt;br /&gt;Adapun secara istilah, Tauhidullah yang selanjutnya disebut dengan Tauhid, bermakna dua: Tauhid dalam al-Itsbat (penetapan) dan al-Ma’rifat (pengenalan). Dan Tauhid ath-Thalab (permohonan) dan al-Qashdu (bertujuan). Pertama: Menetapkan (adanya) hakikat Dzat Allah ‘Azza wa Jalla, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan nama-nama-Nya. Tak ada sesuatupun yang menyerupai diri-Nya. Sebagaimana yang diberitakan oleh Allah sendiri dalam AL-Qur’an dan melalui Rasul-Nya. Kedua: yaitu tauhid dalam permohonan dan bertujuan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Adapun bentuk tauhid di bagi tiga,&lt;br /&gt;Pertama, Tauhid Rububiyah adalah pengakuan bahwa Allah pencipta segala sesuatu. Bahwa alam dunia ini tak pernah memiliki dua pencipta yang berseteru dalam karakter dan perbuatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, dalam surat Ibrahim/14 : 10,&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Terjemahnya,&lt;br /&gt;Berkata Rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, Tauhid Uluhhiyah adalah meniadakan (segala sesembahan), dan penetapan (Allah sebagai satu-satunya Ilah). &lt;br /&gt;Allah berfirman, dalam surat al-Baqarah/2 : 163,&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Terjemahnya,&lt;br /&gt;Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Tauhid Asma wa Shifat adalah mangimani semua apa yang disebutkan dalam Al-Qur’anul karim dan hadits-hadits shahih tentang nama-nama Allah dan sifat-sifatNya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari pengertian di atas maka penulis dapat mengambil kesimpulan pengertian dari ilmu Tauhidullah yaitu ilmu yang berpijak pada pengakuan atas realitas keesaan Allah yang tercermin dalam perkataan dan perbuatanNya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sejarah dan perkembangan ilmu Tauhidullah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian tauhid, macam dan bentuknya, yang telah penulis sebutkan diatas, maka kita akan melihat bagaimana awal mula ilmu ini muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembawa ilmu Tauhidullah ini adalah Muhammad bin Abdullah, seorang Rasul yang di utus oleh Allah swt. 6 abad setelah tahun Masehi. Tepatnya Beliau dilahirkan pada tanggal 20 april tahun 571 M.  40 tahun kemudian beliau diangkat sebagai Rasul. Ajaran pertama beliau secara asasi adalah sebagaimana ajaran-ajaran para Rasul sebelumnya yaitu masalah Tauhid dan penolakan terhadap politeisme, hal ini  bisa di lihat di dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf/7 : 59, 65 dan 73, dan surat Al-Anbiya/21 : 22 dan 25.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ketika Muhammad di angkat menjadi Rasul dunia sedang berada pada Abad Pertengahan, dimana keilmuan sedang mengalami stagnasi atau kemandegan, karena kebebasan berilmu semuanya harus tunduk kepada kepentingan gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam datang dengan membawa semangat baru, Islam mempunyai pandangan tentang pentingnya ilmu. Bahkan ayat pertama yang turun adalah anjuran untuk menuntut ilmu “membaca”. Jibril memerintahkan Muhammad dengan bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan.  Dari kata Iqra inilah kemudian lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca teks baik yang tertulis maupun tidak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selanjutnya ada juga ayat lain yang menyatakan, katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui?, sesungguhnya (hanya) orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran.    Selain ayat-ayat tersebut di atas, ada juga hadits Rasulullah yang menekankan wajibnya menuntut ilmu, “menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki maupun perempuan”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan demikian, Al-Qur’an dan Hadits kemudian dijadikan sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam dalam spektrum yang seluas-luasnya. Lebih lagi, kedua sumber pokok Islam ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan pengembangan ilmu-ilmu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peran itu adalah: pertama, prinsip-prinsip semua ilmu dipandang kaum Muslimin terdapat dalam Al-Qur’an. Dan sejauh pemahaman terhadap Al-Qur’an, terdapat pula penafsiran yang bersifat esoterik terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencarian makna secara mendalam, yang berguna untuk pembangunan paradigma ilmu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, Al-Qur’an dan Hadits menciptakan iklim yang kondusif  bagi pengembangan ilmu dengan menekankan kebajikan dan keutamaan menuntut ilmu; pencarian ilmu dalam segi apapun pada akhirnya akan bermuara pada penegasan tauhid.  Pada akhirnya, ilmu dan perenungan akan semakin membuktikan keesaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, pada masa kejayaan Islam, khususnya pada masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, kita bisa melihat beberapa contoh ilmuwan ilmuwan muslim seperti Al-Kindi, Al-Razi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan sebagainya yang apabila kita perhatikan manhaj yang digunakan dalam pemikiran mereka  bukan hanya sekedar menggunakan akal tetapi juga tetap berpegang pada nilai-nilai ajaran Islam, disamping itu tujuan dari keilmuwan mereka bukan dunia semata tetapi untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-7760450938719921326?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/7760450938719921326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ilmu-sekuler-barat-dan-tauhidullah-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7760450938719921326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7760450938719921326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ilmu-sekuler-barat-dan-tauhidullah-3.html' title='Ilmu Sekuler Barat dan Tauhidullah 3'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-3488373198167003946</id><published>2010-05-21T06:35:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:37:30.174-07:00</updated><title type='text'>Ilmu Sekuler Barat dan Tauhidullah 2</title><content type='html'>A. Ilmu Sekuler Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian sekuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus-kamus Bahasa Eropa mengatakan bahwa kata “sekularisme” dan “sekularisasi” itu berasal dari kata Latin saeculum, yang berarti abad (age, century). “sekular” berarti seabad. Umpamanya , secular games (permainan yang terjadi sekali dalam seratus tahun) dan secular trees (pohon yang berumur seabad). Selanjutnya “sekular” mengandung arti “bersifat duniawi” atau “yang berkenaan dengan hidup sekarang” (temporal, wordly). Lawannya ialah “bersifat ukhrawi” atau “bersifat keagamaan” (religious, sacred). Pendidikan sekular (seculer education) misalnya, adalah pendidikan duniawi yang tidak mempunyai sifat keagamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab kata sekular ini diterjemahkan menjadi ‘alami dan duniawi. Kalau “sekular” berarti “bersifat duniawi”, maka sekularisme berarti “doktrin, policy atau keadaan menduniawikan, yaitu melepaskan hidup duniawi dari ikatan agama-agama”. Dan “sekularisasi” adalah “proses penduniawian, yaitu proses melepaskan hidup duniawi dari kontrol agama”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Webster Dictionary sekularisme didefinisikan sebagai: “A system of doctrines and practices that rejects any form of religious faith and worship" (Sebuah sistem doktrin dan praktik yang menolak bentuk apa pun dari keimanan dan upacara ritual keagamaan) atau sebagai: "The belief that religion and ecclesiastical affairs should not enter into the function of the state especially into public education" (Sebuah kepercayaan bahwa agama dan ajaran-ajaran gereja tidak boleh memasuki fungsi negara, khususnya dalam pendidikan publik). Dari definisi ini jelas, paham sekularisme adalah paham yang mengusung gagasan fashluddin ‘anil daulah (pemisahan agama dengan Negara) yang dengan sendirinya akan melahirkan pemisahan agama dari Negara, politik, maupun duniawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa pengertian sekuler yang disebutkan di atas, maka penulis dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa ilmu sekuler barat adalah ilmu yang dalam penerapannya menggunakan prinsip pemisahan kehidupan dunia dari nilai-nilai keagamaan , hingga kehidupan dunia memiliki ruang tersendiri, dan begitu juga dengan nilai keagamaan, yang bertujuan akhir pada prinsip materialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Barat Sekuler &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan manusia dewasa ini ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang teramat cepat. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari peran dan pengaruh pemikiran dan filsafat Barat. Pada awal perkembangan pemikiran filsafat Barat pada zaman Yunani Kuno, filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, artinya antara pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan pada waktu itu tidak dipisahkan. Semua hasil pemikiran manusia pada waktu itu disebut filsafat. Pada abad pertengahan terjadi perubahan, filsafat pada zaman ini identik dengan agama, artinya pemikiran filsafat pada waktu itu menjadi satu dengan dogma gereja (Agama).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Munculnya Renaissans pada abad ke-15 dan Aufklaerung di abad ke-18 membawa perubahan pandangan terhadap filsafat. Filsafat memisahkan diri dari agama, orang mulai bebas mengeluarkan pendapat tanpa takut dihukum oleh gereja, sebagai kelanjutan dari zaman renaissans, filsafat pada zaman modern tetap sekuler, namun sekarang filsafat ditinggalkan oleh ilmu pengetahuan. Artinya ilmu pengetahuan sebagai “anak-anak” filsafat berdiri sendiri dan terpecah menjadi berbagai cabang. Cabang-cabang ilmu berkembang dengan cepat, bahkan memecah diri dalam berbagai spesialisasi dan sub-spesialisasi pada Abad ke 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-20 dan menjelang abad ke-21, ilmu tidak lagi sekedar sarana kehidupan bagi manusia, tetapi telah menjadi sesuatu yang substantif yang “menguasai” kehidupan umat manusia baik secara ekstentif maupun intensif. Berbagai ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam berbagai bentuk tekhnologi tinggi disamping kemanfaatannya yang “luar biasa” juga telah menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Hal ini tidak lain, karena dilahirkan dari sebuah dasar pemikiran yang salah.&lt;br /&gt;Rizal Mustansyir dan misnal munir mengutip perkataan Koento Wibisono:&lt;br /&gt;Pemikiran Barat yang dijiwai oleh semangat Renaissance dan Aufklaerung merupakan “paradigma” bagi pengembangan budaya Barat dengan implikasi yang sangat luas dan mendalam dalam semua segi dan kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar historis dari konsep sekulerisme sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kristen di dunia Barat, dimana pada abad pertengahan (6-16 M), system pemikiran ditempatkan dalam satu bingkai oleh gereja. Pada masa itu, perkembangan ilmu dan pengetahuan harus tunduk pada ajaran dan dogma kekristenan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Disamping itu, pada waktu yang sama, kekuasaaan para raja Eropa bekerja sama dengan pihak gereja membuat aturan yang menzalimi rakyatnya atas nama Tuhan, anggapan pahwa para raja adalah wakil Tuhan dimuka bumi yang diopinikan kepada lapisan masyarakat mejadikan para raja seenaknya membuat peraturan yang kemudian disahkan oleh pihak gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakadilan dan kekacauan dalam interaksi social ini akhirnya menjadi pelengkap factor pendorong lahirnya pemberontakan yang digawangi oleh para pemikir dan filosof. Para pemikir ini selanjutnya membuat satu konsep bahwa Tuhan tidak boleh ikut campur dalam masalah public, cukup digereja saja. Akhirnya, kekuatan masyarakat tidak bisa terbendung dan inilah awal dari pemisahan urusan duniawi dengan nilai-nilai keagamaan yang merupakan ide pokok sekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejenuhan terhadap dogma-dogma gereja (Kristen), maka muncullah zaman Renaissans, zaman dimana berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Renaissans merupakan era sejarah baru yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja Katolik Roma, bersamaan dengan Humanisme. Pada zaman Renaissans ini manusia Barat mulai berfikir secara baru, dan secara berangsur-angsur melepaskan diri dari kekuasaan gereja yang selama ini membelenggu kebebasan dalam mengemukakan kebenaran filsafat dan ilmu. &lt;br /&gt;Zaman “Renaissans” ini, lalu  di dimatangkan oleh gerakan  “Aufklaerung” atau “pencerahan” pada abad ke-18, di dalamnya mengandung dua hal penting. Pertama, semakin berkurangnya kekuasaan Gereja, kedua, semakin bertambahnya kekuasaan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada Abad ini, manusia pada akhirnya betul-betul mengandalkan akal untuk bisa mendapatkan kepuasan hidup dan pembuktian kebenaran. Nilai-nilai Kristiani Abad pertengahan mulai kehilangan arti. Ide-ide tradisional Abad pertengahan tak lagi memberi kepuasan. Kepercayaan kepada Tuhan tak lagi memberi arah kepada pandangan hidup manusia. Bukanlah ketuhanan, melainkan kebahagiaan duniawi murni yang memegang peranan dalam kehidupan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemikiran Barat pada masa ini memiliki corak yang  berbeda dengan pemikiran Abad pertengahan. Perbedaan itu terletak terutama pada otoritas kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan. Jika pada Abad pertengahan otoritas kekuasaan mutlak dipegang oleh Gereja dengan dogma-dogmanya, maka pada masa ini otoritas kekuasaan itu terletak pada kemampuan akal manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada zaman ini kebenaran pun disangsikan dan dipertanyakan, mereka menitikberatkan kepada akal sebagai asas kebenaran. Wahyu sebagai sumber kebenaran ditinggalkan. Orang menaruh kepercayaan pada akal sebagai alat untuk mencapai kebenaran dan kepastian. Tradisi dan kekuasaan dipatahkan oleh akal. “akal harus dijadikan titik tolak penyelidikan. Atas nama akal, maka pembersihan harus dilakukan dikedua kota, pertama di kota Surgawi dan lainnya di kota kerajaan yang kedua-duanya sama-sama tak logis dan sama-sama penuh kecelakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkembangan diatas, maka kita bisa melihat sebuah perjalanan sejarah keilmuan Barat, bahwa dalam ilmu Barat, kehidupan dunia tidak bisa lagi dicampuri oleh urusan agama atau akhirat, begitu juga sebaliknya, yang semua itu bermuara pada satu titik yaitu “penuhanan terhadap akal”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-3488373198167003946?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/3488373198167003946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ilmu-sekuler-barat-dan-tauhidullah-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/3488373198167003946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/3488373198167003946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ilmu-sekuler-barat-dan-tauhidullah-2.html' title='Ilmu Sekuler Barat dan Tauhidullah 2'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-2077963472066283056</id><published>2010-05-21T06:32:00.001-07:00</published><updated>2010-05-21T06:35:18.071-07:00</updated><title type='text'>Ilmu Sekuler Barat dan Tauhidullah 1.</title><content type='html'>A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuler bukan hanya di negara Barat, akan tetapi sekuler  telah merambah dan memasuki negeri Indonesia, The Father Foundatin bumi pertiwi ini telah menancapkan satu titik sekulerisme dengan pernyataannya  , “Jangan marah, kita bukan melempar agama kita, kita cuma menyerahkan agama kembali ke tangan rakyat kembali, lepas dari urusan negara supaya agama dapat menjadi subur”. Dari pernyataan ini, kita bisa melihat Soekarno ingin meninggalkan agama dalam kehidupan bernegara Indonesia. bahwa dalam negara Indonesia yang sekuler Islam akan tumbuh lebih baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekuler di Indonesia terus berkembang. Pada tanggal 2 Januari 1970, Nurcholis Majid menyampaikan makalahnya yang berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”, Nurcholis menyatakan pembaruan Islam harus dimulai dengan melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan. Di sinilah proses liberalisasi terhadap ajaran-ajaran Islam, tegas Nurcholis, diperlukan. Proses ini menyangkut proses-proses yang  lain seperti sekulerisasi, intellectual freedom atau kebebasan berfikir, idea of Progres dan sikap terbuka.  Dan masih banyak tokoh-tokoh lain di Indonesia yang mengusung paham sekuler.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jika di lihat dari sejarah menyelusupnya paham sekuler ke Indonesia tidak datang begitu saja, ia merupakan salah satu rentetan sejarah dunia. Sebelum penjajah masuk ke Indonesia yang pada waktu itu masih Nusantara belum mengenal istilah sekuler, setelah penjajah masuk, dalam hal ini adalah negara Barat maka Indonesia mulai mengenal sekuler karena disamping mereka menjajah, mereka juga menyebarkan paham mereka yaitu sekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain sisi, di dunia Timur muncul sebuah gagasan briliant yang di canangkan oleh manusia agung, Muhammad saw. lewat bimbingan wahyu Illahi, yang menyebarkan paham ketauhidan bahwa semua berawal dari yang Esa, kedamaian, ketentraman dan keselamatan. Muhammad dengan Islamnya menolak bahkan, memerangi tindakan-tindakan yang tidak terpuji oleh karena itu dia disebut “rahmatan lil ‘alamin”. Tapi, dalam menegakkan misi suci ini, Islam sebagai kekuatan al-Haq sering mendapat tantangan dari kekuatan lain yang zalim disebut al-Bathil yang menghendaki kezaliman, penindasan, kerusuhan, mempertuhan sesama makhluk dan sebagainya.  Diantaranya adalah sekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian paham sekuler yang awal munculnya dari dunia Barat dan tauhid yang muncul dari dunia Timur, yang keduanya tidak dapat berkembang dan ada kecuali keduanya melalui sebuah sarana yang disebut dengan ilmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-2077963472066283056?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/2077963472066283056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ilmu-sekuler-barat-dan-tauhidullah-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/2077963472066283056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/2077963472066283056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ilmu-sekuler-barat-dan-tauhidullah-1.html' title='Ilmu Sekuler Barat dan Tauhidullah 1.'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-2501818762523124534</id><published>2010-05-21T06:27:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:29:02.397-07:00</updated><title type='text'>Umar Ibn Khattab : Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik 4</title><content type='html'>3. Mengangkat pejabat Negara dan hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan Umar selanjutnya adalah mengangkat pejabat Negara dan hakim (Qadi’) untuk membantu kelancaran administrasi  dan koordinasi antara wilayah kekuasaan Islam. Keberhasilan ekspansi pasukan Islam ke berbagai wilayah mengharuskan Umar memikirkan kelanjutan pemerintahan diwilayah-wilayah taklukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Umar membagi kekuasaan Islam menjadi delapan provinsi dan mengangkat pejabat pejabat Negara yang dikenal sebagai amil untuk mengurus dan melayani segala kepentingan rakyat diwilayah tugasnya masing-masing . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar juga mengangkat hakim (Qadi) untuk mengurus segala perkara hukum yang terjadi di masyarakatnya. Dengan terlebih dahulu memisahkan antara kekuasaan yudikatif dan kekusaan Negara. Umar memberikan kewenangan kepada para Qadi dalam melaksanakan tugasnya tanpa mencampurinya, dengan kata lain kedudukan hakim berdiri sendiri dan terpisah dari kekuasaan eksekutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dengan pembagian tugas dan kekuasaan seperti ini, tidaklah membuat Umar menjadi seorang pemimpin yang hanya berpangku tangan dan menyerahkan urusan kenegaraan sepenuhnya pada para pejabatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semua pejabat Negara yang diangkatnya tetap berada dibawah pengawasan ketatnya. Tidak jarang Umar berjalan kewilayah-wilayah kekuasaan Islam untuk mengecek sendiri keadaan rakyatnya dan mengetahui kepemimpinan pejabatnya. Jika ada rakyat yang mengadukan pejabatnya maka Umar akan langsung memamnggilnya dan menanyakan kebenarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Umar tidak segan memecat para pejabatnya yang dianggap tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik .  Pada para pejabat Negara yang diangkatnya umar berwasiat untuk senantiasa bersikap adil tehadap rakyatnya, memperlakukan semua sama tanpa memandang status sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dicerminkan secara nyata dalam sikapnya sehari-hari, dimana Umar dikenal sebagai orang yang menjunjung tinggi keadilan dan sangat ketat dalam menjalankan syariat bahkan terhadap keluarganya sendiri. Ini membuat rakyatnya merasa aman dan dihargai sehingga sangat wajar jika Umar sangat dicintai oleh rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Asas musyawarah (syura) sebagai dasar hukum pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping prinsip “equal” terhadap semua masyarakatnya, umar juga menjadikan musyawarah sebagai dasar pemerintahannya, dia bercermin pada pemerintahan masa Rasulullah SAW dan khalifah sebelumnya Abu Bakar. Ini mengacu pada firman Allah dalam surah Asy-Syura (42) : 38 : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الله تعالى : } … وامرهم شورى بينهم… {&lt;br /&gt;“….Dan persoalan mereka dimusyawaratkan diantara sesama mereka…”.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Adapun bentuk musyawarah pada masa itu agak berbeda dengan bentuk musyawarah dalam system pemerintahan yang kita kenal saat ini. Khalifah memilih sendiri orang-orang yang diajak bermusyawarah, dia pula yang menentukan hasil dari pendapat-pendapat mereka, serta memilki hak menerima atau menolak pendapat-pendapat yang ada. Dengan begitu, kekuasaan penuh berada ditangan khalifah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia bertanggung jawab pada Allah, kepada dirinya sendiri dan kepada umat yang dipimpinnya. Kalau dalam bermusyawarah keputusannya sudah ditetapkan, maka selanjutnya tinggal memutuskan pelaksanaannya. Akan tetapi jika masih belum jelas, maka dikembalikan  kepada staf khususnya (lembaga syura’) untuk dimintai pendapat hingga khalifah benar- benar yakin dengan keputusan yang diambilnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam bermusyawarah, Umar melibatkan kerabat Nabi dan para pemuka Islam, diwaktu yang lain terkadang umar juga mengajak para pemuda untuk bermusyawarah memutuskan suatu masalah. Sebagai contoh, musyawarah yang dilakukan dalam menyikapi perjalanan pasukan Islam ke Syam yang pada waktu itu sedang dilanda wabah penyakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pembentukan  dewan (lembaga) administrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meluasnya wilayah kekuasan Islam mendorong pemerintahan Umar untuk membuat dasar-dasar bagi suatu pemerintahan yang mapan untuk melayani tuntutan masyarakat baru yang terus berkembang. Oleh karena itu, umar berinisiatif untuk mendirikan beberapa dewan (lembaga) yang berfungsi untuk mengatur segala administrasi Negara. Setiap wilayah memiliki dewan masing-masing yang dipimpin oleh seorang al-Katib (sekretaris) .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Disamping lembaga kehakiman yang telah disebutkan diatas, Umar juga membentuk lembaga keuangan yang mengurus pengumpulan dan pembagian pajak (kharaj), jizyah dan pemasukan lainnya. Selain itu mengurus pembagian tunjangan wajib para tentara dan zakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dewan sendiri berasal dari kata Persia yang sudah diarabkan, yang berarti lembaran-lembaran, tempat mencatat nama tokoh-tokoh militer dan mereka yang mendapat tunjangan wajib . Dalam pengistilahan sekarang dewan bisa juga disebut lembaga. Khalifah juga membangun baitul mal, mencetak mata uang serta menetapkan tahun Hijri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar juga mengupayakan langkah-langkah untuk merangsang perkembangan hasil pertanian dan mengembangkan sumber-sumber baru untuk mensuplai makanan kepada kota-kota baru. Rawa-rawa yang ada dikeringkan dan diubah menjadi lahan pertanian. &lt;br /&gt;Sebagian uang kas Negara yang bersumber dari pajak tanah dan jizyah digunakan untuk perbaikan, membangun kanal untuk kelancaran irigasi pertanian. Disamping itu, pemerintah juga menyelenggarakan pengawasan pasar, mengontrol takaran dan menjaga ketertiban.  Semua hal itu mendukung pertumbuhan ekonomi Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Khattab yang berlangsung selama kurang lebih 10 tahun. Seorang khalifah yang meski berhadapan dengan beban perang dan ekspansi dan disaat yang sama mengemban tugas pemerintahan yang besar , tapi tidak pernah melupakan rakyatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok yang terkenal dengan keadilan, kesederhanaan dan tanggung jawabnya. Seorang pemimpin yang mendudukkan dirinya setara dengan yang dipimpin. Sosok yang merasa kekhalifaan bukan sebagai kekuasaan terhadap yang lain akan tetapi amanah yang harus ditunaikan sebaik-baiknya yang setiap langkahnya akan dimintai pertanggungjawabannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah yang Dengan kecerdasan dan kebijaksanaannya  mampu mengukir kejayaan kedaulatan Islam. yang dalam masa kepemimpinannya Islam berkembang sebagai satu kekuatan politik yang kuat dan teratur. membuat kemajuan disegala bidang termasuk dibidang sosial-budaya maupun ekonomi. Membuat kedaulatan Islam semakin kokoh dan dikenang sepanjang sejarah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-2501818762523124534?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/2501818762523124534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/umar-ibn-khattab-perkembangan-islam_8109.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/2501818762523124534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/2501818762523124534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/umar-ibn-khattab-perkembangan-islam_8109.html' title='Umar Ibn Khattab : Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik 4'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-7627318313740376568</id><published>2010-05-21T06:23:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:26:26.863-07:00</updated><title type='text'>Umar Ibn Khattab : Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik 3</title><content type='html'>B. Perkembangan Islam sebagai Kekuatan politik dimasa Khalifah Umar Ibn Khattab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Khalifah Umar Ibn Khattab menggalang persatuan akidah di semenanjung Arabiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesatuan politik negri-negri Arab adalah satu hal yang menjadi perhatian Umar. Dia ingin menggabungkan semua ras dan suku Arab kedalam satu kesatuan yang membentang dari teluk Aden di selatan sampai ke ujung utara di pedalaman Samawah, termasuk Irak dan syam yang berada ditangan Arab banu Lakhm dan Banu Gassan . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menurutnya, kesatuan ini hanya akan terealisasi jika semua orang Arab  bisa bersatu dalam satu kesatuan tanah air dan aqidah, untuk itu Umar mengambil langkah pembersihan semenanjung Arabiyah dari agama selain Islam tanpa menyalahi kitabullah dan sunnah Rasulullah. Umar mengeluarkan kaum Nasrani Najran dari semenanjung dan mereka diberikan tanah di Iraq seperti tanah mereka di Najran. Begitu juga  dengan kaum Yahudi di Khaibar dan Fadak, mereka dipindahkan ke Syam dan diberi ganti rugi uang serta diperlakukan sebaik-baiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup dengan itu, menurut khalifah persatuan juga tidak akan tercapai jika diantara penduduk Arab masih ada diskriminasi yang membuat sebagian merasa lebih dari yang lain. Maka Umar menghilangkan sebab-sebab diskriminasi tersebut dengan mencabut kebijakan Abu bakar yang melarang kaum riddah untuk ikut berperang dengan pasukan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar juga mengembalikan tawanan perang kepada keluarganya masing-masing. Dengan begitu semua penduduk Arab merasa bahwa mereka adalah satu bangsa dengan tujuan bersama dalam bimbingan suatu politik yang umum dan kepentingan yang utama dibawah pengawasan Amirulmukminin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ekspansi  pasukan Islam serta kebijakan Khalifah Umar terhadap wilayah taklukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping tugas menyatukan bangsa Arab di semenanjung, Umar juga mengemban tugas yang tak kalah pentingnya yaitu meneruskan dan menyukseskan ekspansi yang telah dirintis oleh pendahulunya, Khalifah Abu bakar as-shiddiq. &lt;br /&gt;Sebagaimana kita kenal bahwa era Umar adalah era penaklukan dan pembangunan pemerintahan. program pertama yang dilakukan Umar adalah memerintahkan pasukan Islam untuk membebaskan Suriah, Damaskus dengan alasan bahwa Damaskus memiliki benteng yang kokoh . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Setahun setelah kekalahan tentara Bizantium pada pertempuran di Yarmuk seluruh Suriah jatuh ketangan kekuasaan Islam. Selanjutnya dengan memakai Suriah sebagai basis dan benteng pertahanan, ekspansi diteruskan ke Palestina dan Mesir dibawah komando panglima Amr ibn Ash dan ke Iraq dibawah panglima Sa’ad Ibn abi Waqqash. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iskandaria sebagai ibu kota Mesir ditaklukkan pada tahun 641 M, dengan demikian Mesir juga sudah berada dalam kekuasaan Islam,  Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq ditaklukkan pada tahun 637 M, dari sini ekspansi dilanjutkan untuk menaklukkan Mada’in ibu kota Persia yang jatuh pada tahun yang sama. Kemudian pada tahun 641 M Mosul juga dapat dikuasai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Khattab wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arab, Palestina, Suriah dan sebagian besar wilayah Mesir dan Persia . Semuanya dilakukan dalam jangka waktu yang relatif singkat, yaitu sepuluh tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Asghar Ali Engineer dalam bukunya The Origin and development of Islam menjelaskan Ada beberapa factor yang mendukung sukses besarnya ekspansi ini, hingga hanya dalam waktu yang singkat, pasukan Islam dapat menaklukan banyak wilayah, sekaligus menjadi jawaban terhadap ketakjuban kita pada keberhasilan tersebut, bagaimana bisa pasukan yang jumlahnya kecil, dengan perlengkapan perang seadanya dapat menaklukan dua imperium besar yang sudah menjadi momok dan terkenal “menakutkan” karena kekuatan dan jumlahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Faktor-faktor tersebut terbagi menjadi dua, faktor internal dan eksternal. Faktor Internal penunjang keberhasilan ini adalah semangat kesatuan bangsa Arab yang berakar dari keyakinan besar serta semangat misi da’wah yang tinggi, dimana sebelum Islam datang mereka adalah bangsa yang terpecah belah kemudian Rasulullah SAW menyatukannya dibawah panji kekuasaan Islam, mereka yakin persatuan adalah senjata ampuh bagi mereka dalam mengalahkan kekuatan yang lebih besar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Disamping itu, kesederhanaan mereka dalam berperang, membawa keluasan bagi mereka dalam bergerak karena tidak diberatkan oleh system persenjataan dan strategi yang khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat yang sama, Islam mengandung ajaran-ajaran yang tidak hanya sekedar mengatur hubungan antara manusia sebagai hamba dengan Tuhannya dan bukan juga agama yang sekedar membahas tentang urusan akhirat, akan tetapi Islam adalah agama yang mementingkan soal pembentukan masyarakat yang berdiri sendiri lagi mempunyai system pemerintahan, undang-undang dan lembaga sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain Islam berlainan dengan agama-agama lain yang hanya memiliki satu corak saja. Disamping corak agama, Islam juga memiliki corak Negara, kebudayaan dan peradaban .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang faktor eksternalnya, pertama, adanya usaha kerajaan Bizantium untuk memaksakan agama yang dianutnya kepada rakyat hingga rakyat tidak merasakan kebebasan beragama, sebaliknya Islam datang menawarkan kebebasan beragama. kedua, rakyat juga dikenakan pajak yang tinggi untuk menutupi biaya perang dua dua imperium besar ini , &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kerajaan-kerajaan ini telah terbiasa dengan kemewahan hingga melemahkan semangat juang mereka, ditambah lagi semua kemewahan yang mereka nikmati didapatkan dengan memeras dan menindas wilayah wilayah yang berada dibawah kekuasaannya sehingga disana-sini terjadi pemberontakan dan perlawanan. &lt;br /&gt;Dengan kata lain, dua imperium ini mengalami masalah dengan daerah taklukannya sendiri. Hal ini sangat berpengaruh pada kekuatan militer dua imperium ini, hingga pasukan Islam dengan mudah dapat menaklukkannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah penaklukan selesai langkah Umar selanjutnya adalah merencanakan politik yang akan berlaku dinegeri-negeri yang dibebaskan serta melakukan pembangunan kembali. Dalam mengatur hubungan antara warga penakluk (Islam) dengan yang ditaklukan,  Khalifah Umar memegang dua prinsip .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip pertama adalah membentuk pasukan Islam sebagai satu kekuatan militer yang hanya bertugas untuk menjaga stabilitas dan menjalankan penaklukan berikutnya. Khalifah Umar melarang pembagian tanah wilayah taklukan dan transaksi jual beli tanah kepada tentara Islam berbeda denga kebijakan khalifah terdahulu, sebagai gantinya dia memberikan tunjangan wajib (gaji tetap) kepada seluruh tentara Islam. Kebijakan ini diambil untuk menjaga kosentrasi pasukan Islam terhadap tugas pokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar juga membangun perkampungan-perkampungan militer yang disebut “mishr” (jamaknya amshar) dibeberapa wilayah dan menempatkan orang Arab pedalaman pada perkampungan tersebut untuk mencegah pemberontakan, pengrusakan lahan yang produktif serta untuk memisahkan pasukan Islam dengan warga taklukkan. Amshar ini selain berfungsi sebagai kampung bagi orang Arab pedalaman, juga sebagai pengaturan militer dan pusat distribusi tanah rampasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kedua yang dijalankan umar adalah menetapkan perintah agar warga taklukan jangan sampai diganggu. Tidak ada pemaksaan dalam beragama, serta menjamin hak-hak warga taklukan seluruh keadaan sosial dan urusan keagamaan yang ada sebelumnya tetap dibiarkan berjalan apa adanya.  Umar hanya membebankan pajak (kharaj) dan jizyah terhadap wilayah-wilayah taklukan tanpa sedikitpun menggangu tanah dan pengelolaan mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-7627318313740376568?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/7627318313740376568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/umar-ibn-khattab-perkembangan-islam_6371.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7627318313740376568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7627318313740376568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/umar-ibn-khattab-perkembangan-islam_6371.html' title='Umar Ibn Khattab : Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik 3'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-6643540263247570416</id><published>2010-05-21T06:21:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:23:09.843-07:00</updated><title type='text'>Umar Ibn Khattab : Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik 2</title><content type='html'>A. Biografi Umar Ibn Khattab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar adalah seorang pemuka terpandang dalam bangsa Arab, nama lengkapnya adalah Umar Ibn Khattab Ibn Nufail Ibn Abdil Uzza Ibn Riyah Ibn Abdullah Ibn Qurt Ibn Razah Ibn ‘Ady Ibn Ka’ab Ibn Ghalib Al-Qurays Al-Adawy. Dia dikenal dengan sebutan Abu Hafshah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya benama Nufail Ibn Abi abdil Uzza sedang ibunya Hantamah Binti Hasyim Ibn Mughirah Ibn Abdillah Ibn Umar Ibn Makhzum. Silsilah keluarganya dan Rasulullah bertemu pada kakek Nabi yang ke delapan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Umar bahwa dia lahir ba’da fajar 13 tahun setelah Nabi saw. dilahirkan.  Dia dibesarkan sebagaimana anak-anak suku Quraisy lainnya. Akan tetapi yang membuatnya berbeda adalah karena pengetahuannya dalam membaca dan menulis. Dimasa remajanya Umar bekerja menjadi penggembala kambing, dan sangat senang berkuda serta gemar meminum khamr. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman jahiliyyah Umar merupakan sosok yang sangat disegani dikalangan kaum Qurays karena ketegasan dan keberaniannya. Dia sangat fanatik terhadap agama nenek moyangnya dan merupakan tokoh kafir Qurays yang paling menentang Islam bahkan bertekad untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akan tetapi Allah SWT berkehendak untuk memuliakan Islam dengan masuknya Umar kedalam Agama ini, seperti apa didambakan oleh Rasulullah SAW melalui doanya : &lt;br /&gt;"ا للهم ايد االاسلام بابي الحكم بن حشام او بعمر بن الخطاب. " &lt;br /&gt;“Ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin Hisyam atau Umar bin Khattab.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar memeluk Islam pada tahun ke-6 sesudah Nubuwat atau tahun ke-7 sebelum Hijrah. Banyak versi tentang keislamannya, menurut salah satu riwayat yang terkenal tentang itu bahwa Syahdan ketika Umar berjalan mencari Nabi SAW dengan tujuan membunuhnya, dia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah yang memberitakan tentang keislaman adik perempuan dan iparnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seketika itu juga dia bergegas memutar tujuan kerumah saudarinya. Sesampainya di sana , samar-samar Umar mendengar suara orang membaca Al-Qur’an, maka dimintanya lembaran Al-Qur’an yang telah didengarnya tersebut, setelah membacanya Umar berkata : “Sungguh Indah dan Mulia kata-kata ini.”.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Hati keras Umar seketika menjadi lembut dan lapang menerima Islam, segala kekuatan dan tekad besarnya untuk membunuh Nabi berubah menjadi tangisan hebat dan keingintahuan, maka secepatnya dia mencari Nabi SAW dan mendapai beliau tengah berada didarul Arqam di Safa bersama para sahabatnya yang lain, Umar pun langsung menyatakan keislamannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mulai saat itu, Umar menjadi tombak bagi perjuangan Islam dandikenal sangat keras dan disiplin dalam melaksanakan syariat Islam, sangat dekat dengan Nabi SAW dan sering diminta pendapatnya dalam menghadapi masalah-masalah yang ada. Beberapa ayat Al-Qur’an bahkan turun berkenaan dengannya, salah satu contoh adalah ayat yang mendukung pendapatnya berkenaan dengan tawanan perang Badr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rasulullah SAW sendiri menggelarnya dengan sebutan “al-Farouq” (pemisah), yang memisahkan antara yang hak dan yang batil. Disebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata : “Allah menempatkan kebenaran di lidah dan hati Umar.”  Dengan semua karateristik diatas, kepribadian Umar sudah dikenal baik oleh masyarakat Islam jauh sebelum dia menduduki jabatan khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah SAW wafat, Rasulullah SAW tidak menunjuk seseorang untuk menggantinya, hal ini membuat kebingungan dikalangan kaum muslimin, masing masing kabilah memiliki calon untuk diajukan menjadi pengganti Nabi SAW, ditengah keadaan ini Umar mengambil peran yang sangat besar, dia kemudian maju dan membai’at Abu Bakar as-Shiddiq, orang yang pertama kali membenarkan risalah kenabian dan Islam dan sangat dekat dengan Rasulullah semasa hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat sikap Umar, para sahabat yang lain pun ikut membai’at Abu Bakar hingga terpilihlah dia menjadi khalifah pertama pasca Rasulullah SAW dan terhindarlah Islam dari kericuhan karena kebingungan ummat, Abu Bakar sendiri dikenal dengan panggilan khalifatur-rasul atau pengganti Nabi SAW . Abu Bakar memegang jabatan khalifah kurang lebih 2 tahun 3 bulan 13 hari , kemudian setelah itu amanah kekhalifaan diembankan kepada Umar Ibn khattab dengan penunjukkan langsung oleh Abu bakar menjelang kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada awalnya banyak orang yang ragu dengan diangkatnya Umar menjadi khalifah karena khawatir melihat ketegasan dan kedisiplinan Umar serta perangainya yang keras. Akan tetapi Abu Bakar berpendapat lain, menurutnya, justru dengan kepribadiannya yang keras,Umar dapat menjaga dan melindungi kedaulatan Islam yang sudah ada. Ini terlihat perkataan Abu bakar : “aku telah memilih orang yang paling baik diantara kaum muslimin” . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar Khawatir Kericuhan Akan timbul kembali antara golongan Anshar dan Muhajirin, bahkan mungkin akan lebih parah. Sehingga Abu Bakar memutuskan untuk menunjuk penggantinya. Dan melihat sosok Umar yang selalu mendahulukan kepentingan umum, dialah yang dirasa pantas untuk menempati posisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti itulah yang terjadi, dengan ketegasan sikap dan kebijaksanaan pola pikirnya, kecenderungannya selalu mengutamakan musyawarah juga kemampuan politiknya dalam me-manage pemerintahan dan membangun hubungan dengan pihak luar membawa Islam berkembang sangat pesat, menyebar keseluruh semenanjung Arabia, diperluas dari perbatasan Cina di Timur sampai keseberang Sirenaika (Cyrenaica) di Barat, dan dari laut Kaspia di Utara sampai ke Nubia di Selatan .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semua bangsa Arab bergabung menjadi satu pemerintahan yang kuat dibawah naungan Islam, memiliki system dan tata Negara yang baik, serta mengalami kemajuan diberbagai bidang, baik pertanian, politik, social, budaya dan sebagainya. Dengan demikian semakin kokohlah kedaulatan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kekhalifaan Umar berlangsung selama 10 tahun, dia digelar dengan sebutan Amirul Mu’minin (panglima orang-orang Mu’min) , kematiannya sangat tragis, dia dibunuh oleh seorang berkebangsaan Persia bernama Abu Lu’lu’ah yang tiba-tiba menikamnya ketika sedang melaksanakan shalat subuh dimasjid Nabawi, akibatnya khalifah Umar terluka parah, dan meninggal tiga hari pasca peristiwa tersebut, lebih tepatnya 1 Muharram 23 H/644 M .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-6643540263247570416?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/6643540263247570416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/umar-ibn-khattab-perkembangan-islam_21.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/6643540263247570416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/6643540263247570416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/umar-ibn-khattab-perkembangan-islam_21.html' title='Umar Ibn Khattab : Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik 2'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-46280558231983243</id><published>2010-05-21T06:18:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:20:53.314-07:00</updated><title type='text'>Umar Ibn Khattab : Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik 1</title><content type='html'>A. Latar Belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Al-Qur’an sebagai sumber pertama syariat Islam berisikan ajakan kepada kaum muslimin agar berislam secara kaffah. Salah satu sendi ajarannya adalah mengajarkan bagaimana mengurusi masalah-masalah hidup yang ada, termasuk didalamnya masalah negara dan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik sendiri dapat diartikan sebagai cara dan usaha menangani masalah-masalah rakyat dengan suatu system atau seperangkat undang-undang untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah hal-hal yang merugikan bagi kepentingan manusia . Sedangkan imam Syafi’i seperti dikutip oleh Salim Ali Al-Bahansawi mendefenisikan politik sebagai hal-hal yang sesuai dengan syara’ . Jika dilihat dari kedua defenisi diatas, jelaslah bahwa politik merupakan salah satu bagian dari syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napak tilas kemajuan peradaban dan kedaulatan Islam dapat kita lihat bermula pada zaman Rasulullah SAW , yang ketika itu berperan sebagai tokoh sentral agama sekaligus kepala Negara baru dalam periode Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Langkah-langkah yang diambil Rasulullah sebagai contoh perluasan wilayah Islam di berbagai daerah di Arabiayah sekaligus membebaskan wilayah-wilayah tersebut dari kekuasaan asing, mempersatukan kaum muslimin dengan cara memepersaudarakan kaum muhajirin dan anshar, mengirim beberapa utusan ke kerajaan-kerajaan, ataupun melakukan berbagai perjanjian dengan non-muslim merupakan langkah awal politik  kedaulatan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Langkah tersebut kemudian dilanjutkan oleh khalifatur-rasul Abu Bakar Ash-shiddiq yang dibai’at oleh mayoritas kaum muslimin pada masa itu. Pada masa kekhalifaannya, Abu Bakar memfokuskan pada pemberatasan orang-orang murtad (ridda). Dalam kepemimpinannya juga kaum muslimin dapat menghancurkan pasukan Persia didelta Furat serta meringkus pasukan Rumawi didaerah Syam, dengan ini  Abu Bakar juga berarti sudah merintis jalan kearah kemenangan dan kedaulatan, setelah untuk itu agama Islam menyiapkan moral dan semangat yang besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Ketika Abu Bakar berada dihujung kematiannya, dia menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya, dan dimasa kepemimpinan Umar-lah kedaulatan Islam mengalami berbagai perubahan dan kemajuan yang pesat. Hal ini dikarenakan kepribadian dan karakteristik pemimpin yang dimiliki Umar  yang sampai sekarangpun  susah dicari tandingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pribadinya yang keras dalam menetapkan syariat sekaligus lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap orang lain, menjadi perpaduan yang sangat berpengaruh pada kepemimpinannya masa itu. Ditambah lagi pemikirannya yang cemerlang dan terobosan-terobosannya membuat Islam semakin maju dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berperan sebagai kepala Negara , tokoh agama, pemberi arahan. Bahkan merasa tidak cukup dengan itu, dia juga berperan sebagai pengawas bagi semua pejabat Negara yang diangkatnya, melihat sendiri keadilan dan pemerintahan yang dijalankan oleh mereka, serta sangat disiplin dalam memberlakukan aturan-aturannya. Karena itulah rakyatnya merasa aman dalam kepemimpinannya dan menjadikannya seorang pemimpin yang sangat dicintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa prinsip-prinsip dasar politik itu berpusat pada kaidah-kaidah dan ajaran Islam yang telah diberikan perinciannya oleh Rasulullah SAW, dan kemudian diikuti oleh Khalifah sebelumnya Abu Bakar as-Siddiq yang sekaligus memperjelas kaidah-kaidah tersebut, akan tetapi pada masa Umarlah prinsip-prinsip dasar dan bimbingan itu terwujud nyata dalam sebuah system pengaturan untuk negeri-negeri Arab dan untuk seluruh kedaulatan Islam. Dengan system inilah Kedaulatan Islam tetap terpelihara dan bertahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masa Umar terkenal dengan perubahan dan perbaikan pemerintahan, ijtihad dan fikrahnya adalah ”poin”  besar bagi berkembangnya daulat Islam. Bahkan langkah dan hasil pemikirannya menjadi sample system dasar pemerintahan sampai sekarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-46280558231983243?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/46280558231983243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/umar-ibn-khattab-perkembangan-islam.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/46280558231983243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/46280558231983243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/umar-ibn-khattab-perkembangan-islam.html' title='Umar Ibn Khattab : Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik 1'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-7696227765254514652</id><published>2010-05-21T06:15:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:16:38.121-07:00</updated><title type='text'>Ayat-ayat Makkiah Madaniah 5</title><content type='html'>E. Urgensi mempelajari Makkiah dan Madaniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pembahasan tentang ilmu Makkiah dan Madaniah merupakan salah satu cabang ilmu Al-Qur’an yang penting untuk diketahui. Abul Qasim al-Hasan bin Muhammad bin Habib an-Naisaburi dalam kitabnya at-Tanbih ‘ala Fadhli ‘Ulumil Qur’an seperti yang dikutip oleh az-Zarkasyi menyatakan bahwa diantara ilmu-ilmu Al-Qur’an yang paling mulia adalah ilmu tentang turunnya Al-Qur’an. Selanjutnya beliau menyebutkan 25 macam ilmu yang terkait dengan ilmu Nuzul Qur’an tersebut diantaranya ilmu yang mempelajari tentang urutan turunnya ayat Al-Qur’an diMakkah dan Madinah. Beliau mengatakan bahwa orang yang tidak mengetahui kedua puluh lima macam ilmu dan tak dapat membedakannya, maka ia tidak berhak berbicara tentang Al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adapun pentingnya mengetahui Makkiah dan Madaniah, diantaranya sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dengan mengetahui Makkiah dan Madaniah kita dapat membedakan antara ayat yang nasikh dan mansukh jika terdapat makna yang kontradiksi. Jika kita mengetahui dari kedua ayat yang kontradiksi tersebut salah satunya Makkiah dan lainnya Madaniah, maka yang turun belakangan (Madaniah) menghapus yang turun lebih dahulu (Makkiah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kita dapat mengetahui metode dan ciri khas dakwah yang diajarkan Islam lewat Nabi saw. bahwa tema yang diangkat dan gaya bahasa (retorika) dalam berdakwah dapat berbeda dengan melihat kondisi dan sasaran dakwah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dengan mengetahui Makki dan Madani kita bisa melihat gaya bahasa Al-Qur’an dimana susunan bahasa yang dipakai sesuai dengan kenyataan kepribadian lawan bicaranya (sasarannya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kita dapat  melihat pembentukan dan penerapan syari’at islam yang ditempatkan pada proporsi yang tepat secara bertahap tergantung kesiapan ummat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Mengetahui sejarah hidup Rasulullah saw.  melalui ayat-ayat Al-Quran, karena sebab turunnya wahyu sejalan dengan sejarah dakwah dan segala peistiwanya, baik dalam periode Makkah maupun Madinah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah bebarapa diantara urgensi mempelajari Makkiah dan Madaniah. Dengan mengetahui ilmu tersebut selain akan dapat menambah keyakinan kita bahwa Al-Qur’an yang sampai kepada kita memang benar-benar terhindar dari perubahan dan penambahan dari aslinya , kita juga diharapkan mampu memahami dan menafsirkan Al-Qur’an dengan pemahamam yang benar, sekaligus menerapkan bimbingan dan ajaran yang terdapat didalamnya dalam kehidupan kita didunia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-7696227765254514652?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/7696227765254514652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ayat-ayat-makkiah-madaniah-5.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7696227765254514652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7696227765254514652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ayat-ayat-makkiah-madaniah-5.html' title='Ayat-ayat Makkiah Madaniah 5'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-2905285311342914025</id><published>2010-05-21T06:11:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:15:09.205-07:00</updated><title type='text'>Ayat-ayat Makkiah Madaniah 4</title><content type='html'>D. Klasifikasi Makkiah dan Madaniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Manna’ Khalil Qattan dalam bukunya Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an menyebutkan 14 klasifikasi ayat dan surah dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan Makkiah dan Madaniah. Menurutnya klasifikasi ini merupakan hal yang terpenting untuk dipelajari oleh para ulama dalam pembahasan mengenai Makkiah dan Madaniah.  Klasifikasi tersebut yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Surah yang diturunkan di Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rasulullah saw. berada diMakkah kurang lebih selama 12 tahun 5 bulan 13 hari. Terhitung dari 17 Ramadhan tahun 41 sampai dengan awal Rabi’ul awal tahun 54 dari milad Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan jumlah bilangan surah Makkiah dan Madaniah, Al-Khudary dalam bukunya Tarikh Tasyri’ menyebutkan bahwa surah Makkiah berjumlah 91 surah dan surah Madaniah berjumlah 23 surah.  Az-Zarkasyi menyebutkan jumlah surah Makkiah sebanyak 85 surah dan Madaniah 29 surah , sedang pendapat yang rajih seperti yang dikutip imam Suyuti dari Abu Hasan al-Hassari adalah Makkiah berjumlah 82 surah, Madaniah 20 surah dan 12 surah yang lain masih diperselisihkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Adapun surah-surah yang diklasifikasikan sebagai surah Makkiah adalah sebagai berikut : 1). Al-An’am, 2). Al-A’raf, 3). Yunus, 4). Hud, 5). Yusuf, 6). Ibrahim, 7). Al-Hijr, 8). An-Nahl, 9). al-Isra’, 10). Al-Kahf, 11). Maryam, 12). Taha, 13). Al-Anbiya’, 14). Al-hajj, 15). Al-Mu’minun, 16). Al-Furqan, 17). Asy-Syu’ara, 18). An-Naml, 19). Al-Qashas, 20). Al-Ankabut, 21). Ar-Rum, 22). Luqman, 23). As-Sajdah, 24). Saba’, 25). Fatir, 26). Yaasin, 27). As-Shaffat, 28). Shad, 29). Az-Zumar, 30). Al-Mu’min, 31). Fusshilat, 32). Asy-Syura, 33). Az-Zukhruf, 34). Ad-Dukhan, 35). Al-Jasiyah, 36). Al-Ahqaf, 37). Qaaf, 38). Az-Zaariyaat, 39). At-Thur&lt;br /&gt;40). An-Najm, 41). Al-Qamar, 42).  Al-Waqi’ah, 43). Al-Mulk, 44). Al-Qalam, 45). Al-Haqqah, 46). Al-Ma’arij, 47). Nuh, 48). Al-jin, 49). Al-Muzzammil, 50). Al-Mudatssir, 51). Al-Qiyamah, 52). Al-Insan, 53). Al-Mursalaat, 54). An-Naba’, 55). An-Naaziaat, 56). Abasa, 57). At-Takwiir, 58). Al-Infithaar, 59). Al-Insyiqaaq, 60). Al-Buruuj, 61). At-Thaariq, 62). Al-A’la, 63). Al-Ghaasyiyah, 64). Al-Fajr, 65). Al-Balad, 66). Asy-Syams, 67). Al-Lail, 68). Ad-Dhuha, 69). Al-Insyirah, 70). At-Tiin, 71). Al-‘Alaq, 72). Al-Adiyaat, 73). Al-Qaari’ah, 74). At-Takatsur, 75). Al-Ashr, 76). Al-Humazah, 77). Al-Fiil, 78). Quraisy, 79). Al-Ma’un, 80). Al-Kautsar, 81). Al-Kafirun, 82). Al-Lahb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Surah yang diturunkan di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nabi menetap diMadinah selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, dari awal Rabi’ul awal sampai 9 Dzulhijjah tahun 63 dari milad Nabi atau tahun 10 Hijriah. Surah yang turun dalam waktu itu  menurut pendapat kebanyakan ulama adalah 20 surah yaitu : 1).al-Baqarah, 2).Ali Imran, 3). An-Nisa’, 4). al-Maidah, 5).al-Anfal, 6).at-Taubah, 7).an-Nur, 8).al-Ahzab, 9).Muhammad, 10).al-Fath, 11).al-Hujarat, 12).al-Hadid, 13). Al-Mujadalah, 14).al-Hasyr, 15).al-Mumtahanah, 16).al-Jumu’ah, 17).al-Munafiqun, 18).at-Talaq, 19).at-Tahrim, 20).an-Nasr. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Surah yang diperselisihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jumlah surah yang diperselisihkan oleh para ulama antara Makkiah dan Madaniah sebanyak 12 surah yaitu : 1).al-Fatihah, 2).ar-Ra’d, 3).ar-Rahman, 4).as-Shaff,  5).at-Taghabun, 6).at-Tatfif, 7).al-Qadar, 8).al-Bayyinah, 9).az-Zalzalah, 10).al-Ikhlas, 11).al-Falaq, 12).an-Nas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ayat-ayat Makkiah dalam surah Madaniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penamaan suatu surah Makkiah atau Madaniah didasarkan pada sebagian besar ayat-ayat yang dikandungnya. Terkadang didalam surah Makkiah  kita menemukan ayat-ayat Madaniah, begitu juga sebaliknya dalam surah Madaniah terkadang kita menjumpai ayat-ayat Makkiah, maka dalam hal para ulama biasa menyebutnya sebagai surah Makkiah kecuali ayat sekian dan sekian atau surah ini Madaniah kecuali ayat sekian. Sebagai contoh ayat Makkiah yang berada dalam surah Madaniah yaitu ayat ketiga dari surah Al-Anfal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ayat-ayat Madaniah dalam surah Makkiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Contoh ayat-ayat Madaniah dalam surah Makkiah adalah tiga ayat dari surah al-An’am, yaitu ayat 151,152 dan 153.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ayat yang turun di Makkah tapi hukumnya Madani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maksudnya adalah ayat tersebut diturunkan di Makkah, akan tetapi turun sesudah Hijrahnya Nabi saw.,  ayat seperti ini tidak dihukumkan sebagai Makkiah tidak juga sebagai Madaniah, akan tetapi disebut sebagai ayat yang turun di Makkah tapi hukumnya Madaniah. Contohnya firman Allah dalam surat al-Hujarat (49) : 3 yang diturunkan di Makkah pada peristiwa Fathul Makkah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. Ayat yang turun di Madinah tapi hukumnya Makkiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Contohnya surat Mumtahanah, yang diturunkan di Madinah tetapi ditujukan untuk orang-orang Makkiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ayat dalam surah Madaniah yang serupa dengan ayat yang diturunkan di Makkah (makkiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maksudnya adalah ayat-ayat yang terdapat dalam surah Madaniah akan tetapi memiliki ciri umum dan gaya bahasa surah Makkiah. contohnya firman Allah dalam surah Al-anfal/8 :32, untuk mengingat permintaan permintaan kaum muyrikin untuk disegerakan Azab kepada mereka : &lt;br /&gt; Terjemahannya : &lt;br /&gt;  “dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, Dialah yang benar dari sisi Engkau, Maka hujanilah Kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada Kami azab yang pedih".&lt;br /&gt;9. Ayat dalam surah Makkiah yang serupa dengan ayat yang diturunkan di Madinah (Madaniah).&lt;br /&gt;Contohnya, surah an-Najm /53 : 32 :&lt;br /&gt; “(yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat ini Makkiah akan tetapi berbicara tentang sanksi-sanksi, dan dalam periode Makkah belum ada sanksi dan hal yang serupa dengan itu. Sanksi-sanksi banyak dibicarakan dalam periode Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ayat yang dibawa dari Makkah ke Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maksudnya adalah ayat yang turun di Makkah kemudian dibawa untuk disampaikan kepada penduduk Madinah. Misalnya, surah-surah yang dibawa orang-orang Muhajirin untuk diajarkan kepada kaum anshar di Madinah seperti surah al-A’la.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Ayat yang dibawa dari Madinah ke Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperti awal surah al-Bara’ah yang diperintahkan Nabi saw untuk dibawa kepada Abu bakar as-Shiddiq yang sedang melakukan haji pada waktu itu untuk dibacakan kepada kaum musyrikin Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Ayat-ayat yang turun pada malam hari dan siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Diantara ayat-ayat Al-Qur’an ada yang diturunkan pada malam hari akan tetapi kebanyakannya diturunkan pada siang hari. contoh yang diturunkan pada malam hari diantaranya bagian-bagan akhir surah Ali Imran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Ayat-ayat yang turun dimusim panas dan musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Contoh ayat-ayat yang turun pada musim panas adalah ayat yang berkenaan dengan perang Tabuk dalam surah at-Taubah /9 : 81&lt;br /&gt;Sedang ayat yang turun di musim dingin seperti ayat yang berkenaan dengan perang khandaq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Ayat yang turun pada waktu Nabi saw menetap dan yang turun ketika sedang dalam perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an turun ketika Nabi saw sedang menetap,  selebihnya turun ketika nabi sedang berada dalam perjalanan. Sebagai contoh awal surah al-Anfal yang turun di Badar ketika selesai perang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Itulah klasifikasi ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Makkiah dan Madaniah. Para ulama memberikan perhatian yang sangat besar terhadap permasalahan ini hingga membuat klasifikasi yang sedemikan rupa. Klasifikasi ini memberikan gambaran tentang tertib nuzul ayat dan surah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-2905285311342914025?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/2905285311342914025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/d.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/2905285311342914025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/2905285311342914025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/d.html' title='Ayat-ayat Makkiah Madaniah 4'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-54714863373604961</id><published>2010-05-21T06:08:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:11:16.673-07:00</updated><title type='text'>Ayat-ayat Makkiah Madaniah 3</title><content type='html'>C. Ciri khas Makkiah dan Madaniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Mufassir dalam menentukan Makkiah dan Madaniah merujuk kepada riwayat dan kenyataan sejarah yang menceritakan tentang turunnya suatu ayat atau surah didalam Al-Qur’an baik itu yang turun sebelum hijrah atau sesudah hijrah. Dengan cara tersebut para mufassir akhirnya dapat menghimpun ayat-ayat Makkiah dan Madaniah serta dapat membedakannya. Setelah terhimpun para ulama kemudian meneliti  Makkiah dan Madaniah dan meyimpulkan beberapa ketentuan dan ciri khas yang dimiliki oleh masing-masing. Ciri tersebut baik dari segi gaya bahasa maupun tema yang dibicarakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adapun ketentuan dan ciri khas tersebut sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ketentuan dan ciri khas Makkiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara ketentuan Makkiah yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Surah yang didalamnya terdapat ayat-ayat “sajdah’ maka dikategorikan sebagai Makkiah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Setiap surah yang didalamnya terdapat lafadz كلا (sekali-kali tidak demikian) adalah Makkiah. Lafadz tersebut hanya terdapat pada pertengahan sampai akhir al-qur’an. Al-Amanny menyebutkan hikmahnya bahwa karena kebanyakan separuh yang akhir dari Qur’an diturunkan di Makkah, dan mayoritas penduduk Makkah bersikap sombong, sehingga “Kalla” didalam Al-Qur’an disebut berulangkali untuk mengingkari dan menegur mereka . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Setiap surah yang mengandung seruan ياايهاالناس dan tidak mengandung seruan ياايهاالذين امنوا maka digolongkan sebagai Makkiah, kecuali surah al-Hajj yang pada akhir surah terdapat kalimat :&lt;br /&gt; ياايهاالذين امنوااركعوا واسجدوا…. &lt;br /&gt;Namun sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut temasuk ayat Makkiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Setiap surah yang didalamnya terdapat kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu adalah Makkiah kecuali al-Baqarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Setiap surah yang bercerita tentang Adam dan Iblis adalah Makkiah, kecuali al-Baqarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Surah yang diawali dengan huruf hija’iyah seperti الم , الر ,حم  dan sebagainya adalah Makkiah kecuali surah al-Baqarah dan Ali Imran, sedang surah ar-Rad mash diperselisihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ciri Makkiah dilihat dari segi gaya bahasa dan temanya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mengandung ajakan kepada tauhid dan aqidah yang murni, terutama menyangkut uluhiyah, pembuktian risalah, keimanan kepada hari akhir, gambaran tentang syurga dan nikmatnya, neraka dan azabnya, serta argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti rasional dan ayat-ayat kauniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Mengandung seruan untuk beakhlak mulia dan berbuat kebajikan, serta larangan untuk melakukan keburukan dan kejahatan, seperti memakan harta anak yatim secara zalim, mengubur bayi perempuan hidup-hidup, saling menumpahkan darah dan tradisi jahiliyah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Mengandung kisah para Nabi dan umat terdahulu sebagai pelajaran bagi orang-orang yang ingkar, dan sebagai penghibur dan penguat hati Rasulullah SAW agar senantiasa sabar dalam menyampaikan risalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pada umumnya ayat-ayat maupun surah-surahnya pendek, ringkas, bernada keras, mengetarkan hati dan disertai dengan lafal lafal sumpah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;e. Mendebat orang-orang musyrik dan menerangkan kesalahan-kesalahan pendirian mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan dan ciri khas Madaniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madaniah sendiri memiliki ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Setiap surah yang berisi kewajiban dan had (sanksi) adalah Madaniah.  &lt;br /&gt;b. Setiap surah yang didalamnya terdapat dialog dengan ahlul kitab adalah Madaniah &lt;br /&gt;c. Surah yang didalamnya menyebutkan tentang orang munafiq termasuk Madaniah kecuali surah al-Ankabut.&lt;br /&gt;d. Surah yang didalamnya menyebutkan soal jihad dan menjelaskan hukum-hukumnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adapun gaya bahasa dan tema yang menjadi ciri Madaniah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Banyak menjelaskan permasalahan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, faraidh (hukum pembagian warisan), masalah jihad, hubungan sosial, hubungan internasional baik diwaktu damai maupun ketika perang. selain itu banyak menjelaskan tentang kaidah hokum dan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Memaparkan dialog dan seruan kepada ahlul kitab dari yahudi dan Nasrani, ajakan kepada mereka untuk memeluk Islam, larangan dalam berlebih-lebihan dalam beragama dan penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Menjelaskan perilaku orang munafiq, menjelaskan bahayanya terhadap agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Ayat dan surah-surahnya panjang-panjang dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat, menjelaskan tujuan dan sasarannya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Dengan ciri-ciri inilah para ulama dapat membedakan dan mengklasifikasikan antara Makkiah dan Madaniah. Semua ciri-ciri ini menggambarkan langkah-langkah penuh hikmah yang bertahap, sebagaimana yang ditempuh Islam dalam menetapkan syariat. Ketentuan yang ditetapkan bagi penduduk Makkah (sebelum hijrah) tidak mungkin sama dengan ketentuan yang ditetapkan bagi penduduk Madinah (sesudah hijrah) karena kebutuhan dan kondisi keduanya berbeda. Lingkungan Makkah dengan segala tradisi jahiliyah dan dipenuhi kemusyrikan membutuhkan seruan keimanan dan ketauhidan. Sedang pada periode madinah, Islam sudah menjadi satu masyarakat baru yang lebih membutuhkan penjelasan hukum,tata negara dan perundang-undangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-54714863373604961?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/54714863373604961/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ayat-ayat-makkiah-madaniah-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/54714863373604961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/54714863373604961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ayat-ayat-makkiah-madaniah-3.html' title='Ayat-ayat Makkiah Madaniah 3'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-5025212085795362719</id><published>2010-05-21T06:06:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:08:13.859-07:00</updated><title type='text'>Ayat-ayat Makkiah Madaniah 2</title><content type='html'>B. Para ulama dalam menentukan ayat-ayat Makkiah dan Madaniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama dalam menentukan ayat-ayat Al-Qur’an termasuk Makkiah atau Madaniah menggunakan dua pendekatan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendekatan Sima’i naqli (periwayatan), yaitu dengan merujuk pada riwayat-riwayat shahih dari para sahabat Nabi saw. yang mengetahui secara langsung tentang turunnya wahyu, tempat, waktu dan sebab turunnya suatu ayat. Begitu juga dengan riwayat para tabi’in yang berjumpa dan meriwayatkan dari para sahabat nabi saw perihal turunnya wahyu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه – والله الذي لااله غيره مانزلت سورة من كتاب الله الا وانا اعلم فيما نزلت ولواعلم ان احدا اعلم مني بكتاب الله تبلغه الابل لركبت اليه .(رواه البخاري ومسلم في صحيحهما).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Abdullah Ibn Mas’ud berkata : “Demi Allah yang tiada tuhan  selain Dia, setiap surah Qur’an kuketahui dimana surah itu diturunkan, dan tiada satu ayat pun dari Kitab Allah kecuali pasti kuketahui mengenai apa ayat itu diturunkan. Seandainya aku tahu ada seseorang yang lebih tahu dariku mengenai Kitab Allah, dan dapat kujangkau orang itu dengan untaku, pasti aku pacu untaku kepadanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hal ini Qadi Abu Bakar ibnu at-Tayyib al-Baqalani dalam bukunya al-Intishar sepereti yang dikutip az-Zarkasyi memaparkan bahwa pengetahuan tentang Makki dan Madani mengacu kepada riwayat para sahabat dan tabi’in dan mengenai itu tidak ada penjelasan dari Nabi saw., karena Allah swt. tidak memerintahkan hal tersebut dan tidak juga menjadikannya sebagai kewajiban ummat. Yang wajib bagi para ahli ilmu adalah mengetahui nasikh dan mansukh, meskipun demikian untuk mengetahui hal itu tidak harus diperoleh melalui nash dari Rasulullah saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendekatan Qiyasi ijtihad (analogi hasil ijtihad), yaitu dengan merujuk pada ciri Makkiah dan Madaniah yang tetapkan oleh para ulama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Jika dalam surat Makkiah terdapat ayat yang mengandung ciri Madaniah, maka dikategorikan sebagai ayat Madaniah. dan sebaliknya jika dalam surat Madaniah terdapat ayat yang memiliki karateristik Makkiah maka dihitung sebagai ayat Makkiah. Begitu juga jika dalam satu surah mengandung karateristik Makkiah maka dimasukkan kedalam kelompok surah Makkiah, dan jika mengandung karakteristik Madaniah maka dikategorikan kedalam surah Madaniah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pendekatan Sima’i berdasarkan pada berita pendengaran melalui jalan periwayatan, sedang pendekatan Qiyasi berdasar pada penalaran atau akal, dua metode ini merupakan metode pengetahuan yang valid dan termasuk dalam metode penelitian ilmiah .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-5025212085795362719?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/5025212085795362719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ayat-ayat-makkiah-madaniah-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/5025212085795362719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/5025212085795362719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ayat-ayat-makkiah-madaniah-2.html' title='Ayat-ayat Makkiah Madaniah 2'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-5364004461097365983</id><published>2010-05-21T06:01:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T06:06:21.933-07:00</updated><title type='text'>Ayat-ayat Makkiah Madaniah 1</title><content type='html'>A. Defenisi ayat-ayat Makkiah dan Madaniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat dalam mendefenisikan maksud dari ayat-ayat Makkiah dan Madaniah, hal ini disebabkan dalam memberikan pengertian tersebut para ulama menitikberatkan pada aspek  yang berbeda. Adapun defenisi tersebut sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebagian ulama menitikberatkan pada segi  ( مكان النزول ) lokasi atau tempat turun ayat Al-Qur’an sebagai acuan, hingga defenisi dari ayat-ayat Makkiah adalah semua ayat yang turun di Makkah walaupun ayat ayat tersebut turun sesudah Hijrah Nabi saw., dan Madaniyah adalah semua ayat yang turun diMadinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Suyuti menambahkan bahwa yang dimaksud dengan ayat-ayat Makkiah adalah termasuk ayat-ayat yang turun diwilayah sekitarnya yang masuk dalam wilayah geografis Makkah seperti Mina, Arafah dan Hudaibiyah. Begitu juga  semua ayat-ayat yang turun di wilayah sekitar Madinah seperi Uhud dan Badr dikategorikan kedalam ayat-ayat Madaniah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi defenisi ini kurang tepat dan terbatas dalam mengartikan Makkiah dan Madaniah karena tidak mencakup ayat-ayat Al-Qur’an yang turun diluar Makkah, Madinah dan sekitarnya. Sebagai contoh ayat yang turun di Tabuk dalam surat at-Taubah / 9 : 42 :&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Begitu juga dengan firman Allah SWT yang turun di Baitul Maqdis dalam surat az-Zukhruf / 43 : 45 :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Sebagian ulama yang lain mengambil aspek   ( المخاطبين ) audience atau sasaran turunnya ayat-ayat tersebut sebagai dasar, hingga ayat-ayat Makkiah menurut pendapat mereka adalah ayat-ayat yang sasarannya adalah penduduk Makkah, sedang Madaniah adalah ayat-ayat yang sasarannya ditujukan pada penduduk Madinah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menurut pendapat ini, semua ayat yang diawali dengan lafaz (ياايهاالناس)  maka ayat tersebut dikategorikan sebagai ayat-ayat Makkiah karena mayoritas penduduk Makkah masih dalam keadaan Kufr, sedang sebaliknya, penduduk Madinah mayoritasnya telah beriman dan masuk Islam, itu sebabnya mereka diseru dengan lafaz  ( ياايهاالذين امنوا )maka semua ayat-ayat yang diawali dengan lafz tersebut dikategorikan kedalam ayat-ayat Madaniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defenisi ini pun tidak tepat dan tidak mencakup semua ayat-ayat Al-Qur’an dalam pembagiannya, Muhammad abdul Azhim az-Zarqany dalam bukunya Manahilul ‘irfan menyebutkan dua alasan tidak tepatnya defenisi ini, yaitu : pertama, Diantara ayat-ayat Al-Qur’an  ada ayat-ayat yang tidak diawali dengan kedua lafaz diatas seperti firman Allah swt. dalam permulaan surat al-Ahzab / 33 : 1&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;begitu juga dengan permulaan surat al-Munafiqun / 63 : 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pembagian berdasarkan pendapat ini tidak konsisten dengan aspek yang menjadi dasar tolaknya yaitu dua bentuk lafaz yang telah disebutkan diatas.   Diantara ayat-ayat Madaniah ada yang diawali dengan shighah (ياايهاالناس)  seperti permulaan surat An-nisa (4) : 1:&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pendapat  yang ketiga menitikberatkan pada aspek (ترتيب الزماني للايات) urutan zaman turunnya ayat dan berdasarkan hijrah Rasulullah saw.. Jika dilihat dari segi ini ayat-ayat Makkiah adalah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah saw. hijrah, sedang Madaniyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah Rasulullah saw. Hijrah meskipun ayat tersebut turun di Makkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat inilah yang paling masyhur dikalangan para ulama dan dianggap paling benar dalam mendefenisikan ayat-ayat Makkiah dan Madaniah karena syumul (mencakup) semua ayat-ayat Makkiah dan Madaniah sebagai ayat-ayat Al-Qur’an . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ayat yang turun sebelum Nabi saw. hijrah maka dia termasuk Makkiah meskipun ayat tersebut turun ketika Nabi sedang berada dalam perjalanan ke Madinah. Dan sebaliknya, semua ayat yang turun sesudah Nabi saw. hijrah maka ayat tersebut terhitung Madaniah meskipun turun di Makkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh ayat ketiga dalam surat Al-Maidah /5 : 3 :   &lt;br /&gt;Ayat diatas dikategorikan kedalam ayat Madaniah meskipun ayat tersebut turun di Arafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam Mushaf Utsmani yang disebut Makkiah dan Madaniah adalah lebih menujukkan kepada surat-suratnya bukan pada ayat-ayatnya, meskipun yang menyebabkan dia disebut surat Makkiah atau Madaniah karena ayat-ayat didalamnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-5364004461097365983?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/5364004461097365983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ayat-ayat-makkiah-madaniah-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/5364004461097365983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/5364004461097365983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/05/ayat-ayat-makkiah-madaniah-1.html' title='Ayat-ayat Makkiah Madaniah 1'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-2718207533896718357</id><published>2010-04-17T13:29:00.000-07:00</published><updated>2010-04-17T13:34:09.134-07:00</updated><title type='text'>قولي احبك - كاظم الساهر</title><content type='html'>&lt;object width="480" height="385"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/g6iwRhp0xx8&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/g6iwRhp0xx8&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="385"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==============================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قولي "أحُبكَ" كي تزيدَ وسامتي&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فبغيرِ حبّكِ لا أكـونُ جميـلا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قولي "أحبكَ" كي تصيرَ أصابعي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذهباً... وتصبحَ جبهتي قنـديلا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قـولي "أحبكَ" كي يتمَّ تحـولي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأصيرُ قمحاً... أو أصيرُ نخيـلا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الآنَ قوليهـا... ولا تتـردّدي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بعضُ  الهوى لا يقبلُ التأجيـلا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قولي "أحبكَ" كي تزيدَ قداستي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويصيـرَ شعري في الهوى إنجيلا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سأغيّرُ  التقويمَ لـو أحببتـني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أمحو فصولاً أو أضيفُ فصولا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وسينتهي العصرُ القديمُ على يدي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأقيـمُ مملكـةَ النسـاءِ بديـلا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قولي "أحبكَ" كي تصيرَ قصائدي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مـائيـةً... وكتابتي تنـزيـلا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مـلكٌ أنا.. لو تصبحينَ حبيبتي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أغزو  الشموسَ مراكباً وخيولا&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-2718207533896718357?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/2718207533896718357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/04/blog-post.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/2718207533896718357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/2718207533896718357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/04/blog-post.html' title='قولي احبك - كاظم الساهر'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-3335879499664624596</id><published>2010-04-15T21:48:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T21:53:25.636-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi: embed; margin-top: 0pt;  margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: Simplified Arabic; font-weight:  700;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; نزار قباني&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-size:7;"&gt;&lt;span style="font-family: Simplified Arabic; font-weight:  700;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; إختاري&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="RTL" class="MsoNormal" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: Simplified Arabic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;إني خيَّرتُكِ فاختاري &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;ما بينَ الموتِ على صدري.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;أو فوقَ دفاترِ أشعاري.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;إختاري الحبَّ.. أو اللاحبَّ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;فجُبنٌ ألا تختاري.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;لا توجدُ منطقةٌ وسطى &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;ما بينَ الجنّةِ والنارِ.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;إرمي أوراقكِ كاملةً.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;وسأرضى عن أيِّ قرارِ.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;قولي. إنفعلي. إنفجري &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;لا تقفي مثلَ المسمارِ.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;لا يمكنُ أن أبقى أبداً &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;كالقشّةِ تحتَ الأمطارِ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;إختاري قدراً بين اثنينِ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;وما أعنفَها أقداري.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;مُرهقةٌ أنتِ.. وخائفةٌ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;وطويلٌ جداً.. مشواري &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;غوصي في البحرِ.. أو ابتعدي &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;لا بحرٌ من غيرِ دوارِ.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;الحبُّ مواجهةٌ كبرى  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;إبحارٌ ضدَّ التيارِ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;صَلبٌ.. وعذابٌ.. ودموعٌ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;ورحيلٌ بينَ الأقمارِ.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;يقتُلني جبنُكِ يا امرأةً &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;تتسلى من خلفِ ستارِ.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;إني لا أؤمنُ في حبٍّ.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;لا يحملُ نزقَ الثوارِ.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;لا يكسرُ كلَّ الأسوارِ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;لا يضربُ مثلَ الإعصارِ.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;آهٍ.. لو حبُّكِ يبلعُني &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;يقلعُني.. مثلَ الإعصارِ.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;إنّي خيرتك.. فاختاري &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;ما بينَ الموتِ على صدري &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;أو فوقَ دفاترِ أشعاري &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;لا توجدُ منطقةٌ وسطى &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; unicode-bidi:  embed; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Simplified Arabic&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#6666CC;"&gt;ما بينَ الجنّةِ والنّارِ..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-3335879499664624596?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/3335879499664624596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/04/ikhtaary.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/3335879499664624596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/3335879499664624596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/04/ikhtaary.html' title=''/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-4234696221885781770</id><published>2010-04-08T10:11:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T10:13:03.832-07:00</updated><title type='text'>Dusty Springfield - You Don't Have To Say You Love Me Lyric</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;When I said I needed you,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;You said you would always stay&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;It wasn't me who changed but you&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;And now, you've gone away&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Don't you see that now you're gone,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;And I'm left here all my own,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;That I have to follow you&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;And beg you to come home?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;You don't have to say you love me&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Just be close at hand&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;You don't have to stay forever&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;I will understand&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Believe me, believe me&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;I can't help but love you&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;But believe me&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;I'll never tie you down&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Left alone with just a memory&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Life seems dead and so unreal&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;All that's left is loneliness&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;There's nothing left to feel&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;You don't have to say you love me&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Just be close at hand&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;You don't have to stay forever&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;I will understand&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Believe me, believe me&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;You don't have to say you love me&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Just be close at hand&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;You don't have to stay forever&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;I will understand&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Believe me, believe me, believe me&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-4234696221885781770?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/4234696221885781770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/04/dusty-springfield-you-dont-have-to-say.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4234696221885781770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4234696221885781770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/04/dusty-springfield-you-dont-have-to-say.html' title='Dusty Springfield - You Don&apos;t Have To Say You Love Me Lyric'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-8616135150841835781</id><published>2010-04-07T16:52:00.000-07:00</published><updated>2010-04-07T18:09:49.757-07:00</updated><title type='text'>aku bukan raja</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Hatimu adalah istanaku.Istana yang kubangun dengan pondasi keyakinan.Begitu banyak keyakinan yang kucoba tanamkan,kurawat,kujaga dan kuperliahar.Sekalipun,seing pula kurusak sendiri.Harapanku mungkin terlalu tinggi untuk dapat menghuni istanaku selamanya.Selama ini kupikir,itu akan betul-betul jadi milikku.Siapapun yang datang tak akan kubiarkan masuk.Kuncinya hanya aku yang pegang.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Tapi kenapa tiba-tabi aku merasa lain.Istanaku berubah.Seakan bukan milikku.Mungkinkah aku berada di kerajaan lain.Tapi aku yakin betul,setiap inci dari bangunan ini tak ada yang berbeda dari yang kupunya.Dan,siapa orang yang duduk di atas singgasanaku itu??Kenapa dia bisa masuk?Bukannya sudah kukunci rapat-rapat,dan kuncinya pun masih aku pegang?!Siapa dia?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Dia terlihat bijaksana.Mungkin raja seperti dia yang dibutuhkan istana ini.Bukan hanya itu,dia cerdas dan aku yakin penuh tanggung jawab.Mungkin kalau ditangan dia,istana ini akan lebih megah dibanding ketika aku yang pegang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Suduh tak pantaskah aku memiliki istana ini lagi?Istana yang kubangun sejak dua tahun lalu,haruskah aku lepaskan?Berat sekali,hatiku tak mampu.Bahkan sekujur tubuhku seakan tak rela meninggalkan istana ini.Tapi apa daya,jika aku bukan lagi pemilik istana ini...Lantas kemana aku harus pergi??&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;Tak pernah kusangka ari ini akan tiba.Mungkin takkan kudengar dia berkata di sms nya ("nda liatka orang lain,ERU ji....")&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;aku merasa seperti pecundang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;pecundang.pecundang.pecundang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;aku bukan lagi eru di dalam istana kebanggaanku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-8616135150841835781?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/8616135150841835781/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/04/aku-bukan-raja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/8616135150841835781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/8616135150841835781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/04/aku-bukan-raja.html' title='aku bukan raja'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-7965821163912360264</id><published>2010-03-25T00:02:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T00:14:06.895-07:00</updated><title type='text'>Sentilan "sadar"</title><content type='html'>Its time to changing....(tapi bukan satria baja hitam lho:))&lt;br /&gt;hufh...&lt;br /&gt;harus ada yang berubah dari hidupku yang bgn2 saja...&lt;br /&gt;mungkin lifestyle atw cara mengefesienkan waktu..&lt;br /&gt;coz'....saya sudah ketinggalan jauh sekali..:(:(&lt;br /&gt;aghlabiyah alias kebanyakan teman2 dan orang2 disekitarku sudah berlari kencang...&lt;br /&gt;sedang aku masih duduk2 santai tak tau diri...&lt;br /&gt;dan sebagai hasilnya...aku tersungkur di zona berlabel "tak potensial" :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi ingat sms seorang teman, katanya..."sayang sekali klo apa yang kita punya tidak dikembangkan..karena nantinya, itu akan buat kita berakhir bersama orang2 yang tdk punya kontribusi apa2 untuk ummat...so pesannya...agar bisa membangun relasi dan kenalan sebanyak2nya sebagai awal langkah sebuah usaha....biar ilmu yang ada bisa dinikmati orang banyak katanya....":)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hmm...dipikir2 benar juga....&lt;br /&gt;seringkali dengan kenalan yang banyak,peluang untuk mendapat kesempatan pun juga menjadi besar....tentunya dibarengi dengan perbaikan diri yang terus menerus...&lt;br /&gt;terima kasih kk :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-7965821163912360264?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/7965821163912360264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/sentilan-sadar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7965821163912360264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7965821163912360264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/sentilan-sadar.html' title='Sentilan &quot;sadar&quot;'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-7310782772976063191</id><published>2010-03-24T13:37:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T13:45:18.345-07:00</updated><title type='text'>21</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Setelah dipikirkan dengan matang disertai dengan berbagai pertimbangan,maka eRu merancang jadwal belajarnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Ahad:Al-Qur'an dan Tafsir&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Senin:Hadits dan Fiqhi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Selasa:Al-Qur'an dan Tafsir&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Rabu:Sejarah dan Bahasa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Kamis:Hadits dan Fiqhi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Jum'at:Free (belajar bebas)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Sabtu:Muraja'ah Hafalan + Belajar apa saja&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Demikianlah jadwal ini disusun,semoga eRunya bisa konsisten dan tetap semangat...he he he!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CCCCCC;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Mohon Doanya agar eRu bisa seperti yang diharapkan:D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-7310782772976063191?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/7310782772976063191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/21.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7310782772976063191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7310782772976063191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/21.html' title='21'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-8038995267917848773</id><published>2010-03-23T10:02:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T10:11:26.102-07:00</updated><title type='text'>Mohammad Hatta Sang Proklamator dan Negarawan Sejati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tuhan terlalu cepat semua&lt;br /&gt;Kau panggil satu-satunya yang tersisa&lt;br /&gt;Proklamator tercinta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur lugu dan bijaksana&lt;br /&gt;Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa&lt;br /&gt;Rakyat Indonesia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan air mata dari pelosok negeri&lt;br /&gt;Saat melepas engkau pergi…&lt;br /&gt;Berjuta kepala tertunduk haru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlintas nama seorang sahabat&lt;br /&gt;Yang tak lepas dari namamu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang baktimu, terbayang jasamu&lt;br /&gt;Terbayang jelas… jiwa sederhanamu&lt;br /&gt;Bernisan bangga, berkapal doa&lt;br /&gt;Dari kami yang merindukan orang&lt;br /&gt;Sepertimu…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dengan lirik yang begitu dalam,Iwan Fals menggambarkan sosoknya yang sederhana,jujur dan bijaksana.Lagu ini tentunya sudah sangat “familiar” ditelinga kita.Yah,Bung Hatta…Sebuah lagu yang khusus dipersembahkan untuk mengenang sosok negarawan,pejuang dan juga merupakan Wakil Presiden Indonesia yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drs.H.Mohammad Hatta atau biasa kita kenal dengan Bung Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat ,12 Agustus 1902.Putra dari H.Mohammad Djamil.Bung Hatta memiliki enam saudara perempuan dan ia adalah anak laki-laki satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Hatta terlahir dari keluarga relijius.Ia mengawali jenjang pendidikannya di Sekolah Melayu,Bukittinggi.Setelah itu,Bung Hatta melanjutkan pendidikannya di MULO.MULO adalah singkatan dari bahasa belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs,yang merupakan sistem pendidikan zaman kolonial Belanda di Indonesia.Kalau masa sekarang,MULO setingkat dengan SMP.Setelah itu,ia melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Dagang di Batavia atau yang sekarang kita kenal dengan Jakarta.Dengan prestasi yang baik,akhirnya pada tahun 1921,Bung Hatta berangkat ke Rotterdam untuk mendalami Ilmu Perdagangan dan menetap di sana selama 11 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak di MULO,Bung Hatta telah tertarik dengan kegiatan organisasi.Ia merupakan aktivis yang ulung.Salah satu yang diikutinya adalah Jong Sumatranen Bond menjabat sebagai bendahara.Saat itu pula,Bung Hatta telah tertarik dengan dunia sosial politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idolanya ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,”kata Bung Hatta dalam Memoirnya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Bung Hatta juga seorang penulis.Karang-karangannya dimuat di majalah Jong Sumatera.Salah satunya berjudul “Namaku Hindania!”. Di Belanda,ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Bung Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1932, Bung Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda kembali menangkapnya, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934.Bung Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1945 secara aklamasi Bung Hatta ditetapkan sebagai wakil presiden Republik Indonesia mendampingi Ir. Soekarno sebagai presiden. Dan saat itu pula,ia memiliki nama besar sebagai Sang Proklamator Kemerdekaan. Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul “Menuju Negara Hukum”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita" dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu .Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-8038995267917848773?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/8038995267917848773/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/mohammad-hatta-sang-proklamator-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/8038995267917848773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/8038995267917848773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/mohammad-hatta-sang-proklamator-dan.html' title='Mohammad Hatta Sang Proklamator dan Negarawan Sejati'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-1744702586691696044</id><published>2010-03-23T09:58:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T10:00:47.127-07:00</updated><title type='text'>Prespektif Kesetaraan Gender dalam Islam</title><content type='html'>Konsep kesetaraan gender tak pernah berhenti digembar-gemborkan, seiring dengan itu semakin banyak pula bermunculan tokoh-tokoh feminisme dari berbagai macam aliran yang notabene “katanya” sedang memperjuangkan hak-hak perempuan yang mereka anggap telah terdiskriminasi. Problematika ini memang sudah ada sejak masa Rasulullah SAW, dan terus mengalami pasang surut hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kedudukan perempuan pada masa Nabi SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan pra-kedatangan Nabi SAW sama sekali tidak memiliki nilai dan kredibiltas apa-apa, mereka tidak ubahnya barang yang bisa saling diwarisi dan simbol kerugian, hal ini tergambar jelas dalam surat An-Nahl ( An-Nahl:58 ):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian barulah setelah kedatangan agama Rasulullah SAW, perempuan kembali mendapatkan hak-hak mereka sebagai manusia secara utuh. Hal ini tercermin langsung pada setiap sisi kehidupan masyarakat waktu itu, dalam bidang pendidikan para perempuan memperoleh hak yang sama dengan laki-laki dalam menimba ilmu, begitu juga dengan hak mengeluarkan pendapat, bertanya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dalam bidang politik para perempuan diikutsertakan  dalam berbagai peperangan, dan segala sektor yang mampu mereka kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh nyata yang tidak bisa kita abaikan dalam perjalanan sirah Nabi yang bercerita jelas tentang aktifitas perempuan pada masa itu.&lt;br /&gt;Sosok yang paling dekat dengan Nabi, Siti Khadijah ra adalah pembisnis handal dan terkemuka, perniagaan beliau malah termasuk berkelas diantara lelaki dimasa itu.&lt;br /&gt;Kemudian Siti Aisyah ra yang sangat terkenal dengan kecerdasannya dan menjadi empat besar dalam perawi hadist terbanyak.&lt;br /&gt;Istri Abdullah bin Mas’ud seorang wisraswatawan yang sukses. Syifa yang pernah ditugaskan oleh khalifah Umar bin Khattab untuk menangani pasar kota Madinah dan banyak lagi contoh lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ini terlihat nyata bahwa Islam membawa pencerahan dalam kehidupan perempuan, Islam lah yang mengusung revolusi hingga perempuan bisa memperoleh hak-hak mereka kembali, sesuatu hal yang tidak pernah diberikan oleh bangsa atau peradaban manapun sebelum Islam.&lt;br /&gt;Perkembangan ini kemudian kembali mengalami kemerosotan pada abad kedua, saat para pemimpin Islam mulai memasukkan tradisi Helennistik dalam kancah politik, tradisini ini banyak mengadopsi ajaran Yahudi yang melihat peempuan sebagai sesuatu yang nyaris tidak memliki peran apa-apa didalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Konsep kesetaraan gender dalam Al-Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gender dapat diartikan sebagai pembedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan stasus sosial, untuk selanjutnya yang dilakukan oleh  para feminisme adalah menganalisis berbagai kriteria untuk mempertanyakan ketidakadilan sosial antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam merupakan salah satu agama yang memiliki aturan hukum kehidupan sosial yang rinci.  Hukum dan ajaran Islam ini terangkum didalam Al-Quran dan dengan tegas mengajarkan manusia tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 79&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang beramal shalih,baik laki-laki maupun perempuan,sedang dia dalam keadaan beriman, kecuali pasti kami akn memberikannya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal penciptaan persamaan ini pun diberlakukan, Allah SWT berfirman :”wahai manusia, bertakwalah kamu sekalian pada Allah yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu(adam), dan menciptakan pasangannya (hawa) dari dirinya”.&lt;br /&gt;Selanjutnya firman Allah SWT: “dan yang paling mulia diantar kamu disisi Allah hanyalah orang-orang yang bertakwa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian ada beberapa ayat yang bercerita tentang pembedaan laki-laki dan perempuan. Hal inilah yang menjadi bulan-bulanan para feminisme untuk menyorot Islam. Ajaran Islam dianggap sebelah pihak dan mengekang perempuan. Diantaranya larangan keluar rumah, perolehan warisan, hak menjadi pemimpin dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menggambarkan bahwa seperti ada dua sisi dalam Al-Qur’an, sisi yang pertama bebicara tentang persamaan laki-laki dan perempuan, sisi yang lain mendukung prioritas laki-laki dibanding perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orosinalitas Al-Quran tetap ada sampai sekarang.yang kemudian terjadi adalah keragaman penafsiran dari konteks ayat yang ada. Pada umumnya pemahaman teks Al-Qur’an yang diambil dari pendekatan kaidah Ushul fiqh adalah pendekatan yang berorientasi pada pemahaman yang dimunculkan ole bahasa ( tekstual ). Hal ini cenderung membuat kita memahami suatu ayat secara zahir dan gagal memperoleh pesan moral yang ada dibaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks yang bersifat statis tidak bisa mengakomodasi dinamika masyarakat yang terus menerus, oleh karena itu diperlukan pendekatan untuk bisa mendapatkan pesan moral yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pendekatan tersebut kedua sisi penggambaran dalam Al-Qur’an bisa disatukan. pendekatan ini erat kaitannya dengan latar belakang dan waktu ditunkannya sebuah ayat.  jika kita lihat ayat ayat yang berbicara tentang persamaan laki-laki dan perempuan adalah konteks yang tidak tunduk terhadap waktu dan perubahan, berbeda dengan ayat-ayat yang mendukung prioritas laki-laki terhadap perempuan yang tidak lepas dari background dan zaman diturunkannya ayat tersebut.&lt;br /&gt;Jelaslah bahwa ayat-ayat yang tidak terpengaruh dengan segala perubahan menempati posisi yang “lebih” tinggi derajatnya dibanding dengan ayat-ayat berada dalam pengaruh keadaan sosial ekonomi yang relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pada dasarnya kita tidak bisa hanya melihat pada konteks suatu ayat tanpa merujuk pada latarbelakang dan zaman turunnya ayat tersebut yaitu masa Rasulullah SAW dimana privilise para lelaki berimbang dengan tanggung jawab sosial yang mereka pikul saat itu. Mereka adalah sumber nafkah bagi keluarganya dan dibebankan untuk membayar mahar ketika akan menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu ayat-ayat tersebut tidaklah kemudian menjadi  hukum yang absolut  saat ini, Ketika  tanggungjawab sosial tidak lagi dipikul oleh kaum lelaki sendirian, Saat segolongan perempuan telah mapan mencari nafkah. Maka tidak itu menutup kemungkinan dengan pendekatan-pendekatan lain pada Al-Qur’an dan hadits akan menelurkan hukum hukum yang relevan dengan kondisi saat ini, Termasuk analisis gender yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama yang sempurna.ajaran yang tidak hanya memberikan ketenangan tapi juga penjagaan dan cinta. Terkadang tanpa sadar, saat kita merasa dikekang, diatur, dikungkung  dan diajari, saat itu pulalah sebenarnya kita mendapatkan kebebasan yang kita cari, penghargaan yang kita inginkan, dan keadilan yang selalu kita teriakkan. Yang semestinya selalu kita tanamakan dihati kita adalah adil bukan berarti selalu sama, tapi adil adalah penempatan sesuatu pada tempatnya. Begitu juga dengan kita..kaum perempuan, Kita telah dimuliakan dengan pembagian peran yang sesui oleh Islam, maka kenapa kita harus terus berteriak-teriak menyeru meminta keadilan dengan mengabaikan kedudukan mulia yang sudah kita miliki?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini, penulis teringat dengan sebuah catatan yang ditulis oleh Abu Usrah:” Tidak akan ada wanita “normal” yang mau dikatakan sama dengan laki-laki, dan&lt;br /&gt;tidak akan ada laki-laki “normal” yang mau dikatakan sama dengan wanita,&lt;br /&gt;laki-laki ya laki-laki, wanita ya wanita. Sampai hari Kiamat mereka tetap&lt;br /&gt;berbeda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.................................................................&lt;br /&gt;Sumber: Mencari Teori Kesetaraan, Acep sugiri.&lt;br /&gt;Indonesia kita, Praktek Kesetaraan Gender Pada Masa Nabi SAW, Nasaruddin Umar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-1744702586691696044?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/1744702586691696044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/prespektif-kesetaraan-gender-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/1744702586691696044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/1744702586691696044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/prespektif-kesetaraan-gender-dalam.html' title='Prespektif Kesetaraan Gender dalam Islam'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-4831010627845656233</id><published>2010-03-22T20:12:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T20:16:58.508-07:00</updated><title type='text'>Sebuah lagu Kado Ultahmu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh melangkah meniti waktu berlalu&lt;br /&gt;jauh berjalan lewati berjuta warna kehidupan&lt;br /&gt;tanpa sadari dalam cermin wajah ini&lt;br /&gt;bertambah umurku dalam hidup yang smakin merapuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah bukalah hatiku&lt;br /&gt;bimbing dijalan terangMu&lt;br /&gt;selamatkanlah jiwa yang gelap&lt;br /&gt;dalam cahaya rahmatMu&lt;br /&gt;Allah kau Maha Cahaya&lt;br /&gt;beri Petunjuk sang jiwa&lt;br /&gt;ampuni diri yang lemah&lt;br /&gt;dalam sesat kumelangkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah maha Cahaya&lt;br /&gt;menerangi sang jiwa...&lt;br /&gt;Allah Maha penguasa&lt;br /&gt;Padanya kami berserah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menghitung buruk...&lt;br /&gt;tanpa sadar airmata&lt;br /&gt;menjadi saksi banyak waktu sia-sia&lt;br /&gt;tanpa sadari dalam cermin wajah ini&lt;br /&gt;bertambah umurku dalam hidup yang semakin merapuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Opick..Allah Maha Cahaya)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-4831010627845656233?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/4831010627845656233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/sebuah-lagu-kado-ultahmu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4831010627845656233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4831010627845656233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/sebuah-lagu-kado-ultahmu.html' title='Sebuah lagu Kado Ultahmu'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-7789064309327607623</id><published>2010-03-22T19:06:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T19:49:54.319-07:00</updated><title type='text'>Selamat Ulang Tahun....</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;23 Maret 2010.........&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari ini....seseorang yang dekat dengan saya berulang tahun...........&lt;br /&gt;sebenarnya ingin sekali memberikan sesuatu yang lebih berarti padanya....&lt;br /&gt;tapi tak tau dia sedang membutuhkan apa....ditambah lagi...jarak yang jauh..&lt;br /&gt;akhirnya, saya putuskan untuk menuliskannya sesuatu....&lt;br /&gt;entah dilihatnya atau tidak....&lt;br /&gt;menjadi pertimbangan untuknya atau tak mendapat perhatian sedikitpun darinya.........&lt;br /&gt;tapi hanya inilah yang bisa kulakukan untuknya...&lt;br /&gt;menulis....dan hanya selalu dengan tulisan..&lt;br /&gt;seperti ulang tahunnya tahun kemarin&lt;br /&gt;dan 2 tahun yang kemarinnya lagi.............&lt;br /&gt;dan apa yang saya tuliskan hari ini...juga masih sama dengan apa yang saya tuliskan tahun2 kemarin........mengenai pembelajaran......dan menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mulai hari ini.........&lt;br /&gt;angka dalam sebutan umurnya menjadi bertambah satu..&lt;br /&gt;tapi "satu" itu sangat berarti banyak........&lt;br /&gt;bahwa mulai hari ini....kewajiban dan tanggung jawabnya menjadi lebih besar dari sebelumnya&lt;br /&gt;bahwa mulai hari ini....tuntutannya untuk semakin bisa berfikir kedepan lebih banyak&lt;br /&gt;bahwa mulai hari ini....dia harus sudah bisa belajar untuk memutuskan apa yang penting dan berharga untuknya...kemudian berjuang mendapatkannya...tidak berhenti sampai situ ,tapi juga menjaganya hingga akhir.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alangkah bijak...jika memulai hari ini dengan melontar tanya pada diri sendiri...&lt;br /&gt;apa yang selama ini sudah dilakukannya untuk dirinya sendiri dan orang lain?&lt;br /&gt;sudahkah dia menebar manfaat atau hanya berdiam diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hm.........&lt;br /&gt;memang banyak yang harus disadari.&lt;br /&gt;jangan marah jika saya menyebutmu masih kekanakan.......&lt;br /&gt;saya hanya ingin kau sadar.....bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, terkadang tidak bisa kita dapat dengan mudah dan hanya menunggu dia datang pada kita.&lt;br /&gt;kita harus mengusahakannya...terus dan terus........&lt;br /&gt;dalam berusaha pun, bukan dengan setengah setengah................tapi sungguh2....&lt;br /&gt;dengan bgt...apa yang kita peroleh menjadi semakin punya arti...karena kita sudah berjuang penuh untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam berusaha pun...&lt;br /&gt;tidak berarti tidak akan mendapat masalah......&lt;br /&gt;tapi yang penting bukan ada tidaknya masalah....tapi bagamana kita selesaikannya...&lt;br /&gt;dan lagi2...menyelesaikan masalah bukan hanya dengan berputus asa........bukan juga dengan melarikan diri&lt;br /&gt;tidak seperti itu sayang........&lt;br /&gt;kau juga masih perlu mengusahakannya............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kali ini.......&lt;br /&gt;saya tidak banyak bicara......&lt;br /&gt;kali ini......&lt;br /&gt;saya hanya ingin melihat usahamu....(jika kau masih mau berusaha)&lt;br /&gt;semoga tidak pernah ada penyesalan apa-apa......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan akhirnya.........&lt;br /&gt;hari ini...dengan do'a yang sama......&lt;br /&gt;selamat mentajdid diri....&lt;br /&gt;semoga umur yang diberikannya bisa berberkah dan bermanfaat.......&lt;br /&gt;segala mimpi dan harapan bisa tercapai........&lt;br /&gt;dan semakin bisa menjadi Hamba yang baik...(amin ya Rabb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..............................................&lt;br /&gt;Seorang Muslim yang sebenarnya adalah seorang muslim yang harinya sekarang lebih baik daripada harinya kemarin........dia akan terus berusaha menjadi lebih baik...lebih baik..dan lebih bermanfaat..............&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-7789064309327607623?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/7789064309327607623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/selamat-ulang-tahun.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7789064309327607623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/7789064309327607623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/selamat-ulang-tahun.html' title='Selamat Ulang Tahun....'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-1636201216308092748</id><published>2010-03-22T18:57:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T19:05:09.221-07:00</updated><title type='text'>Pendekatan dalam Memahami Hadis Nabi saw. (2)</title><content type='html'>3.    Pendekatan Psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan pendekatan psikologis disini adalah pendekatan yang menekankan pada kondisi kejiwaan objek atau kepada siapa sebuah hadis ditujukan(1)&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Pendekatan ini perlu dilakukan mengingat Nabi saw. terkadang memberikan jawaban yang berbeda-beda terhadap satu pertanyaan yang sama. Dalam masalah ini, maka pendekatan yang paling tepat digunakan dalam memahami hadis-hadis tersebut yaitu dengan pendekatan psikologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, hadis Nabi saw. tentang amalan yang paling utama, disebuah hadis Nabi menjawab bahwa amal yang paling utama adalah memberi makan oranglain dan menyebarkan salam, dihadis lain Nabi bersabda shalat pada waktunya adalah yang paling utama, ada juga hadis yang menyatakan bahwa jihad dijalan Allah merupakan amalan yang paling utama dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat hadis-hadis tersebut secara tekstual, maka yang kita simpulkan adalah hadis-hadis tersebut saling bertentangan. Ketika satu diklaim benar maka yang lain menjadi salah. Akan tetapi, jika kita melihat konteksnya, bahwa Nabi ketika menyatakan sabdanya, melihat kepada kondisi dan kejiwaan orang yang bertanya. Karena kondisi mereka berbeda-beda, maka jawaban Nabi untuk merekapun berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof. Dr. Syuhudi Ismail, perbedaan materi jawaban sebenarnya tidaklah bersifat substantif. Yang substantif ada dua kemungkinan, yakni 1) relevansi antara keadaan orang yang bertanya dengan materi jawaban yang diberikan, 2) relevansi antara keadaan kelompok masyarakat tertentu dengan materi jawaban yang diberikan. Oleh karena itu hadis-hadis yang sejenis diatas, bersifat temporal dan kondisional. (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Pendekatan Integral dalam memahami hadis-hadis yang tampak Kontroversial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, tidak ada Nash-Nash syariat yang saling bertentangan. Sebab, sumber nash-nash tersebut adalah satu, dan kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jika terdapat pertentangan antara satu hadis dengan hadis lain, maka hal itu hanya tampak diluar saja, bukan merupakan pertentangan secara hakikatnya. Dalam artian kita bisa menghilangkan pertentangan tersebut dengan beberapa cara yang telah gunakan oleh para ulama terdahulu. (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum itu, satu hal yang harus kita perhatikan bahwa dalam menghilangkan pertentangan diantara hadis-hadis yang ada, kita terlebih dahulu telah meneliti kualitas hadis-hadis tersebut. apakah shahih, hasan atau dhaif.  Hal ini sangat penting, karena dalam pembahasan ini, yang menjadi syarat hanyalah hadis-hadis  tersebut merupakan hadis shahih. Adapun hadis dhaif atau yang lemah sanadnya, maka tidak termasuk dalam pembahasan ini. (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cara yang ditempuh para ulama dalam  menghilangkan pertentangan yang ada diantara hadis berbeda-beda, ada yang menggunakan satu cara, dua cara dan lain sebagainya dengan urutan langkah yang berbeda-beda pula. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.    Al-Jam’u , at-Taufiq atau al-Talfiq, (kedua hadis yang tampak bertentangan dikompromikan, atau sama-sama diamalkan sesuai konteksnya).&lt;br /&gt;b.    Al-Nasikh wa al-Mansukh (petunjuk dalam hadis yang satu menghapus petunjuk hadis yang lain)&lt;br /&gt;c.    Al-Tarjih (meneliti dan menentukan petunjuk hadis yang memiliki argumen yang lebih kuat). Baik itu dilihat dari keadaan rawinya, tahammul wal ada’, lafaz khabar-nya dan lain sebagainya. (5)&lt;br /&gt;d.    Al-Tauqif (“menunggu” sampai ada petunjuk atau dalil lain yang dapat menjernihkan dan menyelesaikan pertentangan). Langkah ini pun masih bisa diberikan solusi dengan cara memberikan  takwil atau interpretasi secara rasional terhadap hadis tersebut. (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, hadis yang tampaknya bertentangan yaitu  hadis Nabi saw. yang menyatakan bahwa  :&lt;br /&gt;“ Rasulullah saw. melaknat perempuan yang sering menziarahi kubur “.  (7)&lt;br /&gt;Dengan hadis-hadis lain yang meyatakan bolehnya perempuan menziarahi kubur :&lt;br /&gt;كنت نهيتكم عن زيارة القبور , فزوروها.&lt;br /&gt;“Aku pernah melarang kalian menziarahi kuburan, kini ziarahilah”. (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari teks hadisnya, maka kedua hadis tersebut tampak bertentangan, hadis pertama mengandung larangan untuk menziarahi kubur, dan hadis kedua menyatakan kebolehannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr.Yusuf Qardhawi, kedua hadis diatas dapat digabungkan dan dapat diupayakan untuk disesuaikan makna kandungannya. Yaitu dengan mengartikan kata “ melaknat” yang terdapat pada hadis pertama sebagai peringatan terhadap perempuan yang “amat sering” melakukan ziarah. Hal ini sesuai dengan bentuk kata “zawwarat” yang berkonotasi amat sering. Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya perhatian mereka pada pemenuhan hak para suami dan keluarganya, disamping kemungkinan keseringannya membawa mereka kepada tabarruj serta meratapi orang-orang yang mati dengan suara keras dan lain sebagainya. Jika sebab ini dapat dihindari, maka tidak ada salahnya bagi perempuan untuk menziarahi kubur, karena hal itu juga termasuk salah satu upaya untuk mengingat mati. (9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..................................................................&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Arifudin Ahmad,op. cit., h.171.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Syuhudi Ismail, op. cit., h.26.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Yusuf Qardhawi, Kaifa, h.118.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Lihat ibid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Lihat Jalaluddin Suyuti, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawy, Jil.2  (Cet.6 ; Saudi : Dar el-Thayyibah, 1423 H), h.654-659&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Agil Husain Al-Munawwar, op. cit., h.24.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. HR. Ahmad, Ibn Majah dan Tirmidzi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8. HR. Ahmad dan Al-Hakim dari Anas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;9. Yusuf Qardhawi, Kaifa, h.122.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-1636201216308092748?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/1636201216308092748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/pendekatan-dalam-memahami-hadis-nabi_22.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/1636201216308092748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/1636201216308092748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/pendekatan-dalam-memahami-hadis-nabi_22.html' title='Pendekatan dalam Memahami Hadis Nabi saw. (2)'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-5997726917203488505</id><published>2010-03-22T18:40:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T18:56:06.973-07:00</updated><title type='text'>Pendekatan dalam Memahami Hadis Nabi saw. (1)</title><content type='html'>C.    Berbagai pendekatan dalam memahami hadis Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis bagi umat Islam merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an. oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik dan benar. namun, untuk memahami hadis secara benar relatif tidak “gampang”, khususnya jika kita menemukan hadis-hadis yang tampaknya bertentangan.(1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam diskursus ilmu hadis kita mendapati bahwa ada hadis yang memilki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;asbab al-wurud &lt;/span&gt;khusus, dan ada yang tidak. Untuk kategori pertama, kita dapat menggunakan perangkat asbab wurud tersebut untuk membantu dalam memahami hadis nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk hadis-hadis yang tidak memilki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;asbab wurud &lt;/span&gt;tertentu, maka kita dapat melakukan analisis pemahaman hadis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(fiqhul hadis)&lt;/span&gt; dengan menggunakan berbagai macam pendekatan, baik itu historis, sosiologis, antropologis bahkan pendekatan psikologis. &lt;br /&gt;Dengan pendekatan-pendekatan ini, diharapkan dapat membantu kita untuk memperoleh pemahaman hadis yang relatif lebih tepat, apresiatif dan akomodatif terhadap perubahan dan perkembangan zaman. (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya yang dimaksud dengan metode pendekatan menurut Fajrul munawir adalah pola pikir (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Ittijah al-Fikri&lt;/span&gt;) yang dipergunakan untuk membahas suatu masalah. (3) Adapun pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam memahami hadis nabi saw. diantaranya sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Pendekatan bahasa (linguistic).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan lingusitik atau bahasa adalah suatu pendekatan yang cenderung mengandalkan bahasa dalam memahami hadis nabi saw. (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kekhususan yang dimiliki hadis Nabi saw. adalah bahwa matan hadis memiliki bentuk yang beragam. Diantara bentuk matan tersebut yaitu, jawami’ al-kalim (ungkapan yang singkat namun padat maknanya), tamstsil (perumpamaan), ramzi (bahasa simbolik), bahasa percakapan (dialog), ungkapan analogi dan lain sebagainya. Perbedaan bentuk matan hadis ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap hadis Nabi saw. pun harus berbeda-beda. (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami hadis nabi saw. dengan menggunakan pendekatan bahasa maka yang perlu dilakukan adalah memahami kata-kata sukar yang terdapat dalam hadis, jika telah dapat dipahami, maka langkah selanjutnya adalah menguraikan makna kalimat atau ungkapan dalam hadis tersebut. setelah itu, baru dapat ditarik kesimpulan makna dari hadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, hadis Nabi saw. sebagai berikut :&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;الصيام جنة". &lt;/span&gt;(6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis diatas kita bisa melihat bahwa rasulullah saw. menyamakan puasa dengan perisai. Untuk memahami hadis ini, maka kita dapat melakukan pendekatan bahasa. Kata “جنة” dalam hadis diartikan sebagai perisai. Sedang perisai, yang kita kenal merupakan suatu alat yang biasa dipakai untuk melindungi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hikmah puasa diantaranya merupakan tarbiah bagi iradah (kemauan), jihad bagi jiwa, pembiasaan kesabaran serta penahan diri dari hal-hal yang yang dilarang oleh Allah swt.(7)   Ketika seseorang berpuasa, maka dia berusaha untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak amalan puasanya dan hal-hal lain yang tidak disukai Allah swt. (maksiat) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu wajar Rasulullah saw. dalam hadisnya menyamakan puasa dengan perisai. karena puasa merupakan penghalang bagi seseorang untuk melakukan segala sesuatu yang diingininya. Dan merupakan pelindung bagi orang tersebut baik dari hal-hal maksiat dan dosa di dunia ataupun dari api neraka di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Pendekatan Historis, Sosiologi dan Antropologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Pendekatan historis.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan pendekatan historis adalah suatu upaya memahami hadis Nabi saw. dengan cara mempertimbangkan kondisi historis-empiris pada saat hadis tersebut disampaikan Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain pendekatan historis adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara mengkaitkan antara ide atau gagasan yang terdapat dalam hadis dengan determinasi-determinasi social dan situasi historis kultural yang mengitarinya.  (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan ini menekankan pada pertanyaan mengapa Nabi saw. bersabda demikian? Dan bagaimana kondisi sosio-kultural masyarakat dan bahkan politik pada saat itu? Serta mengamati proses terjadinya.(9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan model ini sudah ada sejak masa para ulama terdahulu, yaitu dengan munculnya ilmu asbab wurud, yang menuturkan sebab-sebab mengapa nabi menuturkan sabdanya, dan masa-masa Nabi menuturkannya. Secara ringkas, memahami hadis nabi saw. dengan pendekatan historis mencakup, waktu, tempat, latar belakang, pelaku dan objek hadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Pendekatan Sosologis dan Antropologis.&lt;br /&gt;Sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. Pendekatan sosiologis dilakukan dengan menyoroti dari sudut posisi manusia yang membawanya kepada sebuah perilaku. (10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pendekatan Antropologis memperhatikan terbentuknya pola-pola perilaku itu pada tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan masyarakat manusia. Kontribusi pendekatan ini adalah ingin membuat uraian yang meyakinkan tentang apa sesungguhnya yang terjadi dengan manusia dalam berbagai situasi hidup dalam kaitan ruang dan waktu. (11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pendekatan historis, sosiologi dan Antropologis diharapkan akan memperoleh pemahaman baru yang lebih apresiasip terhadap perubahan masyarakat (social change) dan sebagai solusi terhadap permasalahan-permasalahan social yang  merupakan implikasi dari perkembangan dan kemajuan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh aplikasi pemahaman hadis nabi saw, dengan pendekatan historis, sosiologis dan antroplogis dapat dilihat dari hadis berikut :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"لا تسا فر امراة الا ومعها محرم&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;“Tidak diperbolehkan seorang perempuan (berpergian jauh-jauh) kecuali ada seorang mahram bersamanya”. (12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat secara tekstual, hadis diatas mengandung larangan bagi seorang perempuan untuk melakukan perjalanan (safir) sendirian, tanpa disertai mahramnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis diatas tidak memiliki asbabul wurud khusus. Dan jika kita melihat kondisi historis dan sosiologis masyarakat pada masa itu, sangat mungkin larangan itu dilatar belakangi kekhawatiran Nabi saw.  terhadap keselamatan perempuan jika berpergian tanpa disertai suami atau mahramnya. Mengingat kondisi saat itu, seorang yang melakukan perjalanan, biasa menggunakan unta, keledai ataupun sejenisnya. Tidak jarang pula harus melewati gurun pasir yang sangat luas dan jauh dari keramaian. Ditambah lagi, waktu itu ada anggapan yang negatif dan kurang etis jika perempuan melakukan perjalanan jauh sendirian. (13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, saat sekarang,  ketika kondisi masyarakat sudah berubah, dimana jarak yang jauh sudah tidak menjadi masalah, ditambah dengan system keamanan yang menjamin keselamatan wanita dalam berpergian, maka illah dari larangan tersebut menjadi hilang dan wanita boleh saja melakukan perjalanan sendirian untuk menuanaikan urusannya. (14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini dapat dilihat, konsep “Mahram” yang mengalami reinterpretasi, sehingga tidak lagi harus dipahami sebagai person, tetapi juga system keamanan yang dapat menjamin keselamatan bagi kaum wanita tersebut. pemahaman semacam ini akan lebih apresiasif terhadap perubahan dan perkembangan zaman. (15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;......................................................................&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Agil Husain Al-Munawwar dan Abdul Mustaqim,  Asbabul Wurud : Studi Kritis Atas Hadis Nabi, Pendekatan Sosio, Historis, Kontekstual (Cet.1 ; Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001), h.24-25.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Lihat ibid., h.25&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Fajrul Munawir, Pendekatan Kajian Tafsir, dengan kata pengantar oleh Prof. Dr. Abd. Muin Salim (t.t. : Teras, t.th.), h.138&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Lihat ibid., h.143.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Arifuddin Ahmad, op. cit., h.3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Hadis ini diriwayatkan oleh banyak sanad, diantaranya Abu Hurairah dalam Bukhari dan   Muslim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. Yusuf Qardhawi, Fiqh as-Shia&gt;m, terj. Ma’ruf Abdul Jalil Th. I. Wahid Ahmadi dan Jasiman, Fiqhi Puasa (Cet.8 ; Surakarta : Era Intermedia, 2009), h.23.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8. Aqil Husain Al-Munawwar dan Abdul Mustaqim, op. cit., h.26&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;9. Ibid., h.27&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;10. Ibid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;11.Ibid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;12.HR. Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;13.Yusuf Qardhawi, Kaifa, h.136.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;14. Ibid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;15. Agil Husai Al-Munawwar dan Abdul Mustaqim, op. cit., h.31.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-5997726917203488505?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/5997726917203488505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/pendekatan-dalam-memahami-hadis-nabi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/5997726917203488505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/5997726917203488505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/pendekatan-dalam-memahami-hadis-nabi.html' title='Pendekatan dalam Memahami Hadis Nabi saw. (1)'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-8907891639446705214</id><published>2010-03-22T18:20:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T18:38:41.582-07:00</updated><title type='text'>Teknik Interpretasi Hadis</title><content type='html'>B.    Teknik Memahami Hadis Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hadis hadis Nabi saw. ada yang berlaku universal dan tidak dibatasi tempat dan waktu, ada juga yang bersifat temporal dan lokal. Hal ini memerlukan pemahaman yang mendalam, padangan dan wawasan yang luas hingga dapat mengetahui tujuan syariat dan hakikat agama. (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dalam memahami hadis Nabi saw. kita dapat menggunakan beberapa teknik interpretasi ( cara menasirkan teks hadis). Dikenal tiga teknik interpretasi, yaitu, interpretasi tekstual, kontekstual dan interkontekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Interpretasi tekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, interpretasi tekstual ialah memahami makna dan maksud sebuah hadis hanya melalui redaksi lahiriahnya saja. (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Arifuddin Ahmad dalam bukunya paradigma baru memahami hadis Nabi saw. mendefenisikan interpretasi tekstual sebagai salah satu teknik memahami kandungan suatu hadis nabi berdasarkan teks dan matan hadis semata, tanpa melihat bentuk dan cakupan petunjuknya, waktu, sabab wurud, dan sasaran ditujukannya hadis tersebut, bahkan tidak mengindahkan dalil-dalil lainnya. Karena itu, setiap hadis nabi yang dipahami secara tekstual maka petunjuk yang dikandungnya bersifat universal. (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh hadis yang bersifat universal dan dapat dipahami secara tekstual yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;عن جابر ابن عبدالله رضي الله عنهما قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : الحرب خدعة. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Dari Jabir ibn Abdillah ra., Nabi saw. bersabda : “perang itu siasat”. (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syuhudi Ismail, pemahaman terhadap petunjuk hadis diatas sejalan dengan redaksi teksnya, bahwa setiap perang pasti memakai siasat. Ketentuan ini tidak terikat oleh tempat dan waktu, dengan kata lain petunjuknya bersifat universal. Jika ada perang yang tidak menggunakan siasat sama halnya dengan menyerahkan diri kepada musuh. (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Interpretasi kontekstual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme dalam memahami hadis dan menghindari deradikalisasi pemahaman sabda Nabi saw. di era modern ini perlu dikembangkan melalui teknik interpretasi kontekstual ,(6) teknik ini berarti memahami petunjuk hadis Nabi saw dengan mempertimbangkan konteksnya, yang meliputi bentuk dan cakupan petunjuknya, kapasitas Nabi saat hadis tersebut dikeluarkan, kapan dan sebab hadis itu terjadi, serta kepada siapa ditujukan, bahkan mempertimbangkan dalil-dali lain yang berhubungan dengan hadis tersebut. (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang menurut Yusuf Qardhawi, diantara cara yang baik memahami hadis Nabi saw. adalah dengan memperhatikan sebab-sebab khusus yang melatarbelakangi diucapkannya suatu hadis, atau kaitannya dengan suatu illat (alasan/sebab) yang dinyatakan dalam hadis tersebut ataupun dapat dipahami melalui kejadian yang menyertainya. (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut lagi menurut beliau, adakalanya seseorang dengan berpegang pada pengertian lahiriah suatu sunnah (hadis), tidak menetapkan jiwa sunnah itu sendiri ataupun maksud hadis yang sebenarnya. Bahkan, bisa jadi dia melakukan apa yang berlawanan dengannya, meski tampak berpegang padanya. (9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, memahami hadis nabi saw. dengan teknik interpretasi kontekstual ini harus mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya :&lt;br /&gt;a.    Bentuk dan cakupan petunjuk hadis. Antara lain, yang berupa jawami’ al-kalim (perumpamaan yang singkat dan padat), tamtsil (perumpamaan), hiwar (dialog) dan lain-lain. serta apakah hadis tersebut bersifat universal atau temporal dan local.&lt;br /&gt;b.    Kapasitas Nabi saw. dalam kehidupan, baik itu sebagai Nabi dan Rasul, pemimpin Negara, seorang ayah, suami, teman, panglima perang dan sebagainya.&lt;br /&gt;c.    Latar historis (asbab al-wurud), dan sasaran ditujukannya hadis. (10)&lt;br /&gt;d.    Illat tertentu yang menjadi pemahaman dari hadis Nabi saw dengan mempertimbangkan dimensi (asas) manfaat dan maslahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, hadis berikut :&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;الائمة من قريش".    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Para imam (haruslah) dari Quraisy” (11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau hadis Nabi saw. yang berbunyi :&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;لايزال هذا الامر في قريش مابقي منهم اثنان".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Dalam urusan (beragama, bermasyarakat dan bernegara) ini, orang Quraisy selalu (menjadi pemimpin), selama mereka masih ada walaupun tinggal dua orang saja”. (12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hadis diatas dihubungkan dengan kapasitas Nabi saw. maka dapat disimpulkan bahwa ketika hadis tersebut dinyatakan , Nabi dalam kapasitasnya sebagai kepala negara atau pemimpin masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari ketetapannya yang bersifat primordial, sangat mengutamakan kaum Quraisy. (13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dipahami secara tekstual, maka hadis ini bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Untuk itu dalam memahami hadis ini, kita perlu melihat konteksnya.Mengutamakan sebuah kaum dari yang lain bukanlah ajaran dasar dari agama Islam, maka bisa disimpulkan bahwa petunjuk hadis ini bersifat temporal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ibnu Khaldun  seperti yang disebutkan Yusuf Qardhawi, ketika Nabi saw. menyatakan hadis ini, beliau mempertimbangkan kondisi yang ada pada masa beliau. Dimana pada masa itu kaum Quraisy-lah yang memiliki kekuatan dan kesetiakawanan yang diperlukan sebagai sandaran bagi kekuatan kekhalifaan atau pemerintahan.(14)  Jadi, hak kepemimpinan bukan pada etnis Quraisynya, melainkan kepada kemampuan dan kewibaannya. Hadis ini tidak menafikan jika suatu saat ada orang bukan dari suku Quraisy, akan tetapi memiliki kemampuan memimpin, maka dia dapat diangkat menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan interpretasi kontekstual seperti ini, maka kita dapat menghindari deradikalisasi pemahaman hadis, selain itu, kita dapat mengkompromikan hadis tersebut dengan ayat Al-Qur’an yang diawal terlihat bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, dalam hadis-hadis nabi saw. ada yang lebih tepat jika dipahami secara tekstual, ada juga yang lebih tepat jika dipahami secara kontekstual. Interpretasi tekstual dilakukan bila hadis yang bersangkutan, setelah dihubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengannya, tetap menuntut pemahaman sesuai dengan apa yang tertulis dalam teks hadis tersebut.&lt;br /&gt;Adapun interpretasi kontekstual dilakukan bila ada qarinah (petunjuk) yang mengharuskan hadis yang bersangkutan dipahami tidak sebagaimana teks lahirnya saja (tekstual).  (15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Interpretasi interkontekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan interpretasi interkontekstual adalah suatu teknik untuk memahami hadis nabi saw. dengan memperhatikan matan hadis-hadis lainnya, atau dengan ayat Al-Qur’an yang terkait. Dengan kata lain, ketika kita menggunakan teknik interpretasi interkontekstual, maka kita perlu memperhatikan teks dan konteksnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sehubungan dengan fungsi hadis sebagai bayan (penjelas) bagi Al-Qur’an dan kadang berupa penjelas atau penguat bagi hadis yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, Hadis Rasulullah saw :&lt;br /&gt;“ Dari Rib’y bin Hirasy berkata : “Seseorang dari Bani’ Amir menceritakan kepada kami sewaktu ia minta izin untuk masuk kerumah Nabi saw., dan waktu itu beliau berada didalam rumah. Orang itu mengucapkan : “Bolehkah saya masuk?”. Kemudian Rasulullah saw meminta pelayannya : “Keluarlah dan ajarkan kepada orang itu tentang tata cara minta izin, katakana kepadanya : “Ucapkanlah Assalamu alaikum, bolehkah saya masuk?”. Orang itu mendengar apa yang disabdakan Nabi, maka ia mengucapkan :”Assalamu alaikum, bolehkah saya masuk?”. Kemudian Nabi saw. memberi izin kepadanya, maka dia pun terus masuk”. (16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis diatas mengandung petunjuk bahwa jika seseorang ingin memasuki rumah orang lain, maka terlebih dahulu harus memberi salam dan meminta izinnya. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt. yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"ياايهاالذين امنوا لاتدخلوا بيوتا غير بيوتكم حتى تستانسوا وتسلموا على اهلها".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekalian memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut lagi, dihadis yang lain Nabi saw. menjelaskan batas-batas minta izin :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"الاستئذان ثلاث, فان اذن لك, والافارجع".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Minta izin itu sampai tiga kali. Bila diizinkan maka masuklah kamu, dan bila tdak aka pulanglah kamu.” (18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;......................................................................................&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Yusuf Qardhawi, Kaifa, h.131.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nasaruddin Umar, op. cit., h.21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi : Refleksi Pemikiran Pembaruan Prof. Dr. Muhammad Syuhudi Ismail (Cet.1 ; Jakarta : Renaisans, 2005), h.205.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. HR. Jama’ah kecuali Abu Dawud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Syuhudi Ismail, op. cit., h.11.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Nasaruddin Umar, loc. cit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. Arifuddin Ahmad, loc, cit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8. Yusuf Qardhawi, Kaifa, h.131.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;9. Lihat ibid., h.145.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;10. Nasaruddin Umar, loc. cit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;11. HR. Ahmad melalui para perawi yang tsiqah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;12. HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;13. Arifuddin Ahmad, op. cit., h.183.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;14. Yusuf Qardhawi, Kaifa, h.138.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;15. Syuhudi Ismail, op. cit., h.6&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;16. HR. Abu Daud.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;17. QS. An-Nur/24 :27.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;18. HR. Bukhari dan Muslim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-8907891639446705214?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/8907891639446705214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/teknik-interpretasi-hadis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/8907891639446705214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/8907891639446705214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/teknik-interpretasi-hadis.html' title='Teknik Interpretasi Hadis'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-71049608947966970</id><published>2010-03-22T17:50:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T18:08:45.299-07:00</updated><title type='text'>Metode Pemahaman Hadis (4)</title><content type='html'>3.    Metode Muqaran (Komparatif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan namanya, metode ini menekankan kajiannya pada aspek perbandingan (komparatif). Metode muqaran jika digunakan untuk memahami hadis nabi saw. berarti menjelaskan makna hadis tersebut dengan cara membandingkannya dengan hadis-hadis yang lain atau dengan ayat Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penerapannya, metode ini dapat dibagi menjadi tiga bentuk, &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;pertama,&lt;/span&gt;   membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadis yang memiliki kesamaan topik dengan redaksi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; membandingkan ayat al-Qur’an dengan hadis, atau antara hadis satu dengan yang lain yang secara lahiriah terlihat kontradiktif. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; membandingkan pendapat para ulama tentang penafsiran suatu ayat atau hadis.(1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan dari metode muqaran adalah memberikan pengetahuan yang lebih luas dibanding metode-metode yang lain, karena dengan metode ini kita didorong untuk mengkaji berbagai macam hadis, ayat-ayat al-Qur’an serta pendapat-pendapat ulama mengenai hadis yang kita maksud. Selain itu, dengan metode ini memungkinkan kita mengetahui makna sebenarnya dari sebuah ayat atau hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kekurangan metode ini diantaranya bahwa metode muqaran tidak cocok dipakai bagi pemula dan orang yang menginginkan makna sebuah hadis secara cepat dan ringkas. Hal ini disebabkan pembahasan didalamnya sangat luas. Kekurangan yang lain, metode ini kurang dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada karena pada dasarnya penekanan metode ini adalah pada perbandingan bukan pemecahan masalah seperti yang dihasilkan oleh metode tematik. (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Metode Maudhu’i (tematik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikaitkan dengan penafsiran Al-Qur’an, metode maudhu’i merupakan salah satu cara mengkaji Al-Qur’an dengan mengumpulkan seluruh atau sebagian ayat-ayat Al-Qur’an dalam  tema tertentu, untuk kemudian dikaitkan satu sama lain, hingga akhirnya diambil satu kesimpulan menyeluruh tentang masalah tersebut menurut prespektif Al-Qur’an.  (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungannya dengan hadis, maka metode maudhu’i diartikan sebagai sebuah metode memahami hadis dengan menghimpun hadis-hadis yang terjalin dalam sebuah tema tertentu, yang kemudian dibahas dan dianalisis sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Misalnya, menghimpun hadis-hadis yang berbicara tentang puasa ramadhan, ihsan (berbuat baik) dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yusuf Qardhawi untuk dapat memahami as-Sunnah dengan benar, kita harus menghimpun semua hadis shahih yang berkaitan dengan suatu tema tertentu. Selanjutnya mengembalikan kandungannya yang mutasyabih kepada yang muhkam, yang muthlaq dengan yang muqayyad, yang ‘am dan yang khas. Sehingga dengan ini tidak ada hadis yang bertentangan dan dapat diperoleh makna yang lebih jelas.(4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, langkah-langkah yang ditempuh dalam metode maudhu’i adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.    Menentukan sebuah tema yang akan dibahas.&lt;br /&gt;b.    Menghimpun hadis-hadis yang terjalin dalam tema yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;c.    Menyusun kerangka pembahasan (out line) dan mengklasifikasikan hadis-hadis yang telah terhimpun sesuai dengan spesifik pembahasannya.&lt;br /&gt;d.    Mengumpulkan hadis-hadis semakna yang satu peristiwa (tempat dan waktu terjadinya hadis sama)&lt;br /&gt;e.    Meneliti hadis dari tiap klasifikasi, jika salah satu hadisnya shahih, maka keseluruhan hadis-hadis dalam klasifikasi yang sama tidak perlu diteliti lagi keshahihannya.&lt;br /&gt;f.    Menganalisis hadis-hadis tersebut, dengan mengembalikan kandungannya yang mutasyabih kepada yang muhkam, muthlaq dengan muqayyad, ‘am dan khas. Dengan menggunakan berbagai teknik dan pendekatan.&lt;br /&gt;g.    Meskipun metode ini tidak mengharuskan uraian tentang pengertian kosa kata, namun kesempurnaannya dapat dicapai jika mufassir berusaha memahami kata-kata yang terkandung dalam hadis, sehingga akan lebih baik jika mufasir menganalisi matan hadis yang mencakup pengertian kosa kata, ungkapan, asbab wurud dan hal-hal lain yang biasa dilakukan dalam metode tahlily. (5)&lt;br /&gt;h.    Menarik kesimpulan makna yang utuh dari hasil analisis terhadap  hadis-hadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode maudhu’i dapat diandalkan untuk memecahkan permasalahan yang terdapat dalam masyarakat, karena metode ini memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berusaha memberikan jawaban bagi permasalahan tersebut yang diambil dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan Hadis, disamping memperhatikan penemuan manusia. Sebagai hasilnya, banyak bermunculan karya ilmiah yang membahas topik tertentu menurut prespektif al-Qur’an dan Hadis. Contohnya, perempuan dalam pandangan Al-Qur’an dan hadis dan lain sebagainya.(6) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan metode maudhu’i selain karena dapat menjawab tantangan zaman dengan permasalahannya yang semakin kompleks dan rumit, metode ini juga memiliki kelebihan yang lain, diantaranya :&lt;br /&gt;a.    Penerapannya praktis dan sistematis, hal ini memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan petunjuk al-Qur’an dan hadis dengan waktu yang lebih efektif dan efesien.&lt;br /&gt;b.    Metode tematik membuat tafsir Al-Qur’an dan hadis selalu dinamis sesuai dengan tuntutan zaman. Sehingga, masyarakat tertarik untuk mengamalkan ajaran-ajarannya. Meski tidak mustahil hal ini didapatkan dari ketiga metode yang lain, namun hal itu bukan menjadi sasaran yang pokok.&lt;br /&gt;c.    Dengan ditetapkannya tema tertentu , maka pemahaman kita terhadap hadis Nabi saw. menjadi utuh. Kita hanya perlu membahas segala aspek yang berkaitan dengan tema tersebut tanpa perlu membahas hal-hal lain diluar tema yang ditetapkan. (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kekurangannya, metode ini terikat pada tema yang telah ditetapkannya dan tidak membahas lebih jauh hal-hal diluar dari tema tersebut, sehingga metode ini kurang tepat bagi orang yang menginginkan penjelasan yang terperinci mengenai suatu hadis dari segala aspeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nashruddin Baidan, op. cit., h.65. lihat juga Abdul Hayy Farmawy, op. cit., h. 39.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lihat Nashruddin Baidan, op. cit., h. 143-144&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. M. Quraish Shihab, Membumikan. h,87. Lihat juga Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Qur’an : Kajian Tematik Atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur’an (Cet.5 ; Jakarta : Penamadani, 2008), h.13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Yusuf Qardhawi, Kaifa., h. 106.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Lihat M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an : Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Ummat (Cet.2 ; Bandung : Mizan, 1996) h.xiv&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Nasaruddin Umar, op. cit., h.13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Lihat Nashruddin Baidan, op. cit., h.165-167&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-71049608947966970?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/71049608947966970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/metode-pemahaman-hadis-4.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/71049608947966970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/71049608947966970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/metode-pemahaman-hadis-4.html' title='Metode Pemahaman Hadis (4)'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-4087479823244293013</id><published>2010-03-22T17:03:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T17:40:23.453-07:00</updated><title type='text'>Metode Pemahaman Hadis (3)</title><content type='html'>2.    Metode Tahlily  (Analitis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Tahlily (Analitis) atau yang dinamai juga dengan metode&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Tajzi’iy&lt;/span&gt; oleh Baqir Al-Shadr merupakan kebalikan dari metode ijmali. (1) Jika metode ijmali dikatakan sebagai cara menjelaskan sesuatu dengan ringkas dan global, sebaliknya metode tahlily merupakan penjelasan secara rinci dan mendetail. (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami hadis dengan metode ini berarti menjelaskan hadis dengan memaparkan segala aspek yang berhubungan dengan hadis tersebut, baik itu dari aspek sanadnya (perawi), uraian makna kosakatanya, makna kalimat dan ungkapan yang terkandung dalam matannya, faedahnya, sampai kepada penjelasan mengenai kualitas, asbab-wurud,  mukharrij, bahkan pendapat ulama mengenai hadis yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, langkah-langkah yang perlu kita lakukan dalam metode tahlily, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Menetapkan hadis yang akan dibahas.&lt;br /&gt;b.    Melakukan takhrij al-hadis yaitu menunjukkan asal-usul sebuah hadis pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadis tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan. (3)&lt;br /&gt;c.    Meneliti keadaan para perawinya (sanad), termasuk bagaimana mereka menerima dan meriwayatkan hadis tersebut.&lt;br /&gt;d.    Meneliti matan hadis tersebut.&lt;br /&gt;e.    Menentukan mukharrijnya dan kualitas hadis tersebut.&lt;br /&gt;f.    Menganalisis matan hadis, baik itu kata perkata, ungkapan atau kalimat yang terdapat dalam hadis.&lt;br /&gt;g.    Menarik kesimpulan tentang makna hadis , setelah menganalisisnya dengan menggunakan berbagai teknik dan pendekatan.&lt;br /&gt;h.    Menjelaskan aspek-aspek yang terkait dengan hadis yang dimaksud, seperti faedah dan pendapat para ulama mengenai hadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, kita ingin menerapkan metode tahlily dalam hadis Nabi saw dibawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;اخرج البخاري بسنده عن ابي بردة بن ابي موسى الاشعري رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( لا نكاح الابولي )). &lt;/span&gt;(4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka yang perlu kita lakukan adalah mentakhrij hadisnya, meneliti dan menerangkan sanad atau para perawinya, mulai dari Abu Musa al-Asy’ary sampai kepada Bukhari. Dalam hal ini, mengenai riwayat hidup dan kapasitasnya serta cara menerima dan meriwayatkan hadis. Selanjutnya menjelaskan matan hadis tersebut, kata perkata. Apa yang dimaksud dengan “ نكاح ” dan “ ولي”. Juga penjelasan mengenai arti harf yang digunakan yaitu, harf "لا" dan"الا" . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui makna katanya, langkah berikutnya adalah menjelaskan makna keseluruhan hadis tersebut berdasar pada pengetahuan yang kita peroleh dari makna kata yang dikandung dengan menggunakan berbagai teknik dan pendekatan yang ada. (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, kita juga harus menjelaskan segala aspek yang berhubungan dengan hadis tersebut, misalnya asbabul-wurudnya jika ada, faedah hadis, kualitas dan pendapat ulama mengenai hadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan dari metode tahlily diantaranya adalah :&lt;br /&gt;a.    Ruang lingkupnya luas sehingga memperkaya kita dengan berbagai pengetahuan  sehubungan dengan hadis tersebut. oleh karena itu metode ini sesuai dengan orang yang ingin mengetahui secara rinci tentang suatu hadis.&lt;br /&gt;b.    Metode tahlily memuat berbagai macam ide dan pemahaman, karena metode ini memberikan kesempatan pada seseorang untuk menjelaskan kandungan satu hadis yang bisa jadi berbeda dengan oranglain. Hal ini yang mungkin membuat metode ini lebih pesat perkembangannya dibanding metode ijmali. (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kekurangan metode tahlily, antara lain :&lt;br /&gt;a.    Menjadikan petunjuk yang dikandung sebuah hadis bersifat parsial, sama halnya dengan metode ijmali. Hal ini kemungkinan besar karena dalam metode tahlily, tidak ada keharusan untuk membandingkan satu hadis dengan ayat Al-Qur’an atau hadis-hadis yang lain. hingga bisa jadi makna yang diperoleh tidak lengkap bahkan menjadi tidak benar. (8)&lt;br /&gt;b.    Terkadang melahirkan penafsiran yang subjektif. (9) Selain itu pendekatan dengan metode ini membuka pintu bagi berbagai macam pemikiran, termasuk israiliyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..............................................&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Cet.13 ; Bandung : Mizan, 1996), h.86&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Abdul Hayy Al-Farmawi, Al-Bidayah fi at-Tasir al-Maudhu’i : Dirasah Manhajiyyah Maudhu’iyyah, terj. Rosihon Anwar, Metode Tafsir Maudhu’i dan Cara Penerapannya (Cet.1 ; Bandung : Pustaka Setia, 2002), h.24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ratibah Ibrahim Khattab Thahun, Mabahits fi ‘ilmi at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid (Cet.2 ; Kairo : Misr lil Khidmah al-‘Ilmiyah, 2004), h.8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. HR. Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dalal Muhammad Abu Salim, Min Hadyi an-Nubuwwah (Kairo : Jami’atul Azhar, t.th.), h.1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Lihat ibid., h.2-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Nashruddin Baidan, op. cit., h.54.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ibid h.56.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Lihat  M. Quraish Shihab, Membumikan, h.86&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-4087479823244293013?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/4087479823244293013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/metode-pemahaman-hadis-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4087479823244293013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4087479823244293013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/metode-pemahaman-hadis-3.html' title='Metode Pemahaman Hadis (3)'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-3116225701474955916</id><published>2010-03-22T16:14:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T16:43:14.644-07:00</updated><title type='text'>Metode Pemahaman Hadis (2)</title><content type='html'>A.    Metode Memahami Hadis Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “metode” berasal dari bahasa Yunani methodos yang berarti cara atau jalan. Dalam bahasa Arab disebut thariqat atau manhaj. Dalam bahasa Indonesia, kata ‘metode” mengandung arti : “Cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya) ; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan satu kegiatan guna mencapai suatu yang ditentukan.” (Sumb : 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikaitkan dengan pemahaman hadis, maka metode diartikan sebagai suatu cara yang teratur untuk mencapai pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksudkan Nabi Muhammad Saw. dalam hadisnya. Secara umum, metode memahami hadis merupakan kerangka dan langkah-langkah yang digunakan dalam menafsirkan dan memahami hadis Nabi saw. Secara keseluruhan, dari tahap awal hingga akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat empat macam metode dalam menafsirkan dan memahami hadis Nabi saw. yang telah diperkenalkan oleh para ulama terdahulu, yaitu : metode ijmali (global), metode tahlily (analitis), metode maudui’ (tematik) dan metode muqaran (komparatif).(Sumb :2)  Metode-metode ini pula yang digunakan dalam menafsirkan Al-Qur’an sehingga dapat diperoleh makna ayat secara utuh dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penjelasan lebih lanjut keempat metode tersebut adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Metode Ijmali (Global).&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan Al-Qur’an yang dimaksud dengan metode Ijmali adalah  menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan mengemukakan makna global yang dikandung ayat-ayat tersebut.  Penafsir memberikan penjelasan secara ringkas makna ayat dan tidak menyingung permasalahan lain selain dari makna  yang dikehendaki dari ayat tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti. (Sumb. 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika digunakan dalam memahami hadis, maka metode ijmali berarti menjelaskan dengan ringkas makna yang dikandung sebuah hadis secara keseluruhan dengan menggunakan bahasa yang populer dan mudah dipahami. Metode ini juga berarti menjelaskan secara global apa yang dimaksud tanpa menerangkan lebih lanjut segala aspek yang berhubungan dengan hadis tersebut baik itu  sanadnya maupun matannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh hadis Nabi saw. :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;حدثنا عبيدالله بن موسى قال : اخبرنا حنظلة بن ابي سفيان عن اكرمة بن خالد عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( بني الاسلام على خمس : شهادة ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله, واقام الصلاة, وايتاء الذكاة, والحج, وصوم رمضان)).  (Sumb.4)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menggunakan metode ijmali untuk memahami hadis diatas, maka makna yang kita peroleh adalah bahwa agama Islam berdiri diatas lima rukun yaitu : syahadat atas Allah dan rasul-Nya, mendirikan shalat, zakat , haji&lt;br /&gt;dan puasa. Tanpa penjelasan lebih lanjut lagi mengenai bagaimana kualitas masing-masing perawinya, arti kata dan frase yang dikandungnya secara mendalam, dan  aspek-aspek lain yang berhubungan dengan hadis tersebut.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, dengan metode ijmali kita hanya mendapatkan gambaran ringkas dari hadis secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun bentuk metodologi, tetap saja merupakan hasil ijtihadi manusia, oleh karena itu disamping memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan dan keterbatasan. (Sumb.5) Dalam kaitannya dengan ini, metode ijmali yang digunakan dalam menafsirkan Al-Qur’an dan memahami hadis-hadis Nabi saw. memiliki kelebihan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Praktiks dan mudah dipahami karena lebih ringkas dan tidak berbelit-belit. Oleh karena itu metode ini sesuai dengan pemula, dalam artian sesuai dengan orang yang baru belajar memahami hadis juga bagi orang-orang yang ingin memahami hadis dalam waktu yang singkat dan tidak menginginkan penjelasan secara detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Dengan mengunakan metode ini, dapat membendung pemahaman-pemahaman yang terlalu jauh dari makna hadis  yang dimaksud. Hal ini dikarenakan dengan metode ijmali, kita hanya mendapatkan makna yang dikandung secara ringkas dan jelas.  (Sumb.6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.    Bahasanya cenderung lebih mudah dimengerti dan enak dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan, metode ini juga memiliki kekurangan, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Menjadikan petunjuk yang dikandung dalam sebuah hadis bersifat parsial.(Sumb.7)  Kerena boleh jadi hadis tersebut memiliki penjelasan atau hubungan dengan hadis yang lain. sehingga makna yang kita pahami dari sebuah hadis dengan menggunakan metode ijmai ini belum merupakan makna final dari makna yang seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Kita tidak memperoleh pengetahuan dan penjelasan yang lebih banyak  sehubungan dengan hadis yang dimaksud. Sehingga bagi orang-orang yang ingin memahami hadis secara rinci dan lebih jauh lagi tidak bisa mencapai tujuannya dengan menggunakan metode ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;1.  Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet.10 ; Jakarta : Balai Pustaka, 1988), h.580-581 ; dikutip dalam Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an ( Cet.2 ; Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 2000), h.1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nasaruddin Umar, op. cit., h.18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Samsul Bahri, Metodologi Ilmu Tafsir, dengan kata pengantar oleh Prof. Dr. Abd. Muin Salim (t.t. : Teras, t.th.), h.45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Nashruddin Baidan, op. cit., h.21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ibid ., h.22-23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ibid. h.24.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-3116225701474955916?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/3116225701474955916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/metode-pemahaman-hadis-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/3116225701474955916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/3116225701474955916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/metode-pemahaman-hadis-2.html' title='Metode Pemahaman Hadis (2)'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-4652979424209859811</id><published>2010-03-21T22:45:00.001-07:00</published><updated>2010-03-21T23:07:36.429-07:00</updated><title type='text'>Metode Pemahaman Hadis (1)</title><content type='html'>As-Sunnah atau hadis Nabi saw. merupakan penafsiran Al-Qur’an, baik dari hal-hal yang bersifat teoritis ataupun penerapannya secara praktis., hal ini mengingat bahwa pribadi Nabi saw. merupakan perwujudan dari Al-Qur’an yang ditafsirkan untuk manusia, serta ajaran Islam yang dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, siapa saja yang ingin mengetahui tentang manhaj (metodologi) praktis Islam dengan segala karakteristik dan pokok-pokok ajarannya, maka hal itu dapat dipelajari secara rinci dan teraktualisasikan dalam sunnah Nabawiyah. (Sumb.1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis atau “sunnah” adalah segala sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi saw. baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’lun), ketetapan (taqrir) atau sifat khuluqiyyah (akhlak Nabi) dan khalqiyyah (sifat ciptaan atau bentuk tubuh Nabi). (Sumb.2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun, hadis menduduki fungsi sebagai bayan (penjelas) bagi Al-Qur’an, akan tetapi dalam memahami sabda Nabi saw. relatif tidaklah mudah. Dibidang hadis, para muhadditsi&gt;n telah merumuskan beberapa macam metode kajian hadis dalam upayanya membumikan pesan Tuhan lewat pernyataan verbal, aktifitas, dan taqrir Nabi saw.. Disamping itu, para ulama hadis juga mengenalkan berbagai teknik interpretasi dan model pendekatan dalam memahami hadis Nabi saw.. (Sumb.3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat sekilas, maka kata “metode”, “teknik interpretasi” dan “pendekatan” ketika dikaitkan dengan pemahaman hadis, memiliki makna yang sama, yaitu cara atau langkah. Meski demikian, kita harus dapat membedakan tiga hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Memahami hadis Nabi saw. , metode diartikan sebagai cara menguraikan dan menjelaskan hadis, berikut langkah-langkahnya secara keseluruhan, dari awal hingga akhir. Dalam langkah-langkah tersebut, kita menggunakan teknik interpretasi, yaitu cara kita dalam menafsirkan dan memahami teks hadis. Selanjutnya, ketika kita menafsirkan teks hadis, kita perlu melihat teks tersebut dari berbagai aspek dan kerangka pikir, inilah yang dinamakan pendekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah swt. untuk seluruh umat manusia dan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Hal ini berarti ajaran Nabi saw. yang termaktub dalam hadis mencakup segala tempat dan waktu. Disisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa Nabi saw. hidup pada tempat dan waktu tertentu. Maka dari itu, diantara hadis Hadis Nabi saw. ada yang sifatnya universal dan ada yang bersifat temporal dan local.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segi-segi yang berkaitan dengan diri Nabi dan kondisi yang melatarbelakangi dan menyebabkan terjadinya hadis juga mempunyai kedudukan penting dalam memahami hadis Nabi saw.. Sebab itu, ada hadis yang lebih tepat dipahami secara tekstual dan ada yang lebih tepat jika dipahami secara kontekstual dengan menggunakan berbagai pendekatan disiplin ilmu pengetahuan, terutama ilmu social seperti, sosiologi, antropologi, psikologi dan sejarah. (Sumb.4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hadis Nabi saw. mengandung petunjuk yang bermacam-macam, maka kita dapat menerapkan berbagai metode, teknik interpretasi, dan model pendekatan yang beraneka ragam untuk dapat memahami hadis Nabi saw. dengan benar. Dibawah ini penulis mencoba memaparkan beberapa metode, teknik interpretasi dan pendekatan yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;1. Yusuf Qardhawi, Kaifa Nata’amul Ma’a as-Sunnah an-Nabawiyah, terj. Muhammad al-Baqir, Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw. (Cet.I ; Bandung : Karisma, 1993), h.17.&lt;br /&gt;2. Dalal Muhammad Abu  salim, Tarikh as-Sunnah an-Nabawiyah al-Muthahharah (Kairo : Jami’atul Azhar, 2006), h.7.&lt;br /&gt;3. Nasaruddin Umar, Deradikalisasi pemahaman Al-Qur’an dan Hadis (Cet.I ; Jakarta : Rahmat Semesta Center, 2008), h.16.&lt;br /&gt;4. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual : Telaah Ma’ani al-Hadis tentang Ajaran Islam Yang Universal, Temporal, dan Lokal (Jakarta : Bulan Bintang, 1994),  h.6.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-4652979424209859811?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/4652979424209859811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/metode-pemahaman-hadis-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4652979424209859811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/4652979424209859811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/metode-pemahaman-hadis-1.html' title='Metode Pemahaman Hadis (1)'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6154623710897792354.post-5926223011585150265</id><published>2010-03-21T20:41:00.000-07:00</published><updated>2010-03-21T21:03:46.842-07:00</updated><title type='text'>Nabda' BiismiLLah</title><content type='html'>Memang suDah seperti itu Seharusnya...&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;kita memulai dengan Nama Allah disegala Langkah,Ucap dan Laku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;semoga semua berberkah dan bisa menjadi Manfaat...&lt;br /&gt;amieeeeeeeeeeeen.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah tidur panjang dan menghilang lama...&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;"kembali&lt;/span&gt;" ini semoga bisa membawa sesuatu yang sedikit bisa berarti...&lt;br /&gt;untuk semua orang..&lt;br /&gt;dan diri sendiri utamanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk itu...&lt;br /&gt;mengawali semua coretan yang akan ada...&lt;br /&gt;saya ingin meng-copy paste sebuah laGu ...yang juga termasuk favorit saya...&lt;br /&gt;sekedar pengingat dan "alarm" bantu agar terus selalu berusaha dalam segala hal&lt;br /&gt;agar tidak berputus asa hanya dalam hitungan menit...&lt;br /&gt;agar selalu penuh semangat dan semangat....&lt;br /&gt;agar tidak melangkah pongah dan meremehkan banyak hal...&lt;br /&gt;agar selalu sadar akan "dhaif" diri dan mengharap "Kuat" dari-Nya...&lt;br /&gt;agar selalu bisa mentajdid diri dan menjadi lebih baik&lt;br /&gt;dari waktu ke waktu.............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagunya berjudul "suCi sekeping Hati" vocal Saujana Voice....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Sekeping Hati dibawa berlari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Jauh melalui jalanan sepi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;jalan kebenaran indah terbentang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;di hadapanmu para pejuang....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;tapi...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;jalan kebenaran...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;tak akan selamanya sunyi...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;ada ujian yang datang melanda...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;ada perangkap menunggu mangsa...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;akan kuatkah kaki yang melangkah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;bila disapa duri yang menanti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;akan kaburkah mata yang menatap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;pada debu yang pasti kan hinggap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;mengharap senang dalam berjuang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;bagai merindukan bulan ditengah siang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;jalannya tak seindah mata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;pangkalnya jauh &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;ujungnya belum tiba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;(SauJana VoiCe)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6154623710897792354-5926223011585150265?l=zuhrah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zuhrah.blogspot.com/feeds/5926223011585150265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/nabda-biismillah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/5926223011585150265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6154623710897792354/posts/default/5926223011585150265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zuhrah.blogspot.com/2010/03/nabda-biismillah.html' title='Nabda&apos; BiismiLLah'/><author><name>"...LittLe Rara..."</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03331080429740709330</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_MFwkg3d0qZI/S6bg3psB9tI/AAAAAAAAAAg/bb5uTZhOfi8/S220/Copy+of+DSC03737.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
